Populasi Ikan Sapu-Sapu Naik, Bikin Gubernur Jakarta "Panik"?

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang program studi Ilmu Komunikasi S1
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Victo Ramadhana Pogiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jakarta, 17 April 2026 — Isu mengenai melonjaknya populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung kembali menjadi perhatian publik. Fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh konten viral di media sosial yang memperlihatkan kondisi sungai yang dipenuhi oleh ikan sapu-sapu dalam jumlah besar.

Salah satu aktor yang mendorong isu ini kembali naik adalah Arief Kamarudin, seorang influencer berusia 34 tahun asal Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Melalui konten yang ia unggah secara konsisten, Arief menunjukkan aktivitasnya yang hampir setiap hari turun langsung ke Sungai Ciliwung selama 1 hingga 3 jam. Dalam satu kali aktivitas, ia mampu menangkap sekitar 30 hingga 50 ekor ikan sapu-sapu.
Konten tersebut kemudian memicu perhatian publik karena tidak hanya menunjukkan jumlah ikan yang signifikan, tetapi juga menggambarkan kondisi ekosistem sungai yang mengalami ketidakseimbangan. Dalam konteks komunikasi digital, fenomena ini dapat dilihat sebagai bentuk agenda setting, di mana isu yang awalnya bersifat lokal kemudian menjadi pembahasan luas akibat eksposur media sosial.
Respons Pemerintah: Antara Kepanikan dan Tindakan Cepat
Merespons meningkatnya perhatian publik, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengambil langkah cepat dengan menggelar operasi pembersihan ikan sapu-sapu. Operasi ini dilaksanakan pada Jumat, 17 April 2026, dimulai pukul 07.00 WIB hingga 11.00 WIB, dan dilakukan secara serentak di lima wilayah administratif Jakarta.
Dalam operasi tersebut, pemerintah berhasil mengumpulkan sekitar 6 hingga 7 ton ikan sapu-sapu. Angka ini menunjukkan bahwa populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta memang berada pada level yang cukup mengkhawatirkan.
Pernyataan Gubernur Pramono yang menyebutkan bahwa populasi ikan sapu-sapu di Jakarta mencapai lebih dari 60% semakin memperkuat asumsi bahwa spesies ini telah mendominasi ekosistem perairan. Hal ini tentu menjadi perhatian serius karena dapat mengancam keberlangsungan spesies ikan lokal.
Perspektif Ilmiah: Penurunan Keanekaragaman Hayati
Fenomena ini juga diperkuat oleh hasil penelitian dari Dewi Elfidasari, seorang peneliti biologi dari Universitas Al-Azhar Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul Yuk Mengenal Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung, dijelaskan bahwa telah terjadi penurunan drastis keanekaragaman hayati di Sungai Ciliwung.
Penelitian tersebut mencatat bahwa pada tahun 1910 terdapat sekitar 187 spesies ikan di Sungai Ciliwung. Namun, pada tahun 2009, jumlah tersebut menyusut drastis menjadi hanya 5 spesies yang tersisa. Data ini menunjukkan adanya degradasi lingkungan yang cukup serius, yang salah satunya dipengaruhi oleh dominasi spesies invasif seperti ikan sapu-sapu.
Dalam kajian biologi lingkungan, keberadaan spesies invasif sering kali menyebabkan kompetisi yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi air yang tercemar, sehingga mampu bertahan dan berkembang lebih cepat dibandingkan ikan lokal.
Analisis: Peran Media Sosial dalam Isu Lingkungan
Jika dilihat dari perspektif ilmu komunikasi, kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana media sosial berperan dalam membentuk opini publik dan mendorong respons kebijakan. Aktivitas yang dilakukan oleh Arief Kamarudin dapat dikategorikan sebagai bentuk citizen journalism sekaligus digital activism.
Konten yang ia produksi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium edukasi dan advokasi lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan akses media digital dapat menjadi opinion leader yang mempengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu.
Di sisi lain, respons cepat dari pemerintah juga mencerminkan adanya tekanan opini publik yang terbentuk secara masif di ruang digital. Dalam konteks ini, komunikasi pemerintah tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika bottom-up dari masyarakat.
Kesimpulan
Meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di Jakarta bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga fenomena komunikasi yang melibatkan peran media sosial, individu, dan pemerintah. Viralitas konten yang diangkat oleh Arief Kamarudin berhasil membawa isu lokal menjadi perhatian publik yang lebih luas.
Langkah yang diambil oleh Gubernur Pramono melalui operasi pembersihan menunjukkan adanya respons cepat terhadap isu yang berkembang. Namun, solusi jangka panjang tetap memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, seperti perbaikan kualitas air dan edukasi masyarakat.
Dengan demikian, fenomena ini menjadi refleksi bahwa isu lingkungan di era digital tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan praktik komunikasi dan partisipasi publik.
