Pencarian populer
USER STORY
9 September 2018 18:02 WIB
4
4

Krisis Ekonomi 2018

Ilustrasi uang Dolar Amerika Serikat dan rupiah. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Sekitar dua minggu belakangan ini, topik melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat semakin hangat diperbincangkan masyarakat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Perdebatan mengenai topik ini pun semakin menghangat sejak berakhirnya gelaran Asian Games 2018. Lini masa yang sebelumnya dihiasi kiprah prestasi atlet putra putri Indonesia, beralih ke persoalan-persoalan ekonomi terkait nilai tukar Rupiah yang semakin melemah.

Sebagai masyarakat yang awam akan perihal perekonomian, saya tidak bisa (dan tentu merasa kurang pantas) untuk turut membahas persoalan krisis perekonomian ini secara komprehensif laksana teman-teman lainnya dari fakultas ekonomi, fakultas peternakan dan pertanian, fakultas sastra, atau fakultas ilmu komputer dan fakultas lainnya yang memang mempelajari ekonomi mikro maupun makro secara khusus.

Tulisan berikut ini merupakan pengalaman pribadi selama melewati serangkaian krisis ekonomi yang telah berkali-kali menimpa Negara Republik Indonesia.

Tidak banyak yang saya ingat terkait krisis moneter 1998, yang kala itu membuat Soeharto harus mundur dari jabatannya, untuk kemudian digantikan oleh Wakil Presidennya yaitu Pak B.J. Habibie dan menandai masuknya era Reformasi menggantikan Orde Baru.

Aksi Long March Mei 1998 (Foto: Dok. Muhammad Firman Hidayatullah)

Tapi, yang saya ingat, kala itu saya berusia sekitar 13 tahun. Baru belakangan seiring perkembangan pendidikan dan kemampuan menyerap ilmu pengetahuan, barulah saya sedikit mengerti dan memahami apa yang terjadi di 1998.

Bahwa di kala itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat sedemikian anjloknya sehingga berbagai sektor industri dan perusahaan harus melakukan PHK massal bahkan gulung tikar.

Walaupun semakin lama saya semakin terbiasa melihat usaha gulung tikar, karena hampir setiap hari di sepanjang area parkir Mega Kuningan maupun Jalan Rasuna Said para pedagang nasi bungkus, gorengan, dan kopi sachet harus menggulung tikar karena entah dagangannya sudah sold out, atau sudah terlalu sore atau karena ada patroli Satpol PP maupun pengelola kawasan.

Pada 1998 terjadi krisis ekonomi dunia sehingga hampir seluruh Negara (termasuk Indonesia) terkena imbasnya. Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca lebih lanjut di pelbagai tulisan yang dapat kita temukan di internet maupun literatur-literatur lainnya.

Namun sehebat itu guncangan ekonomi yang terjadi, Indonesia mampu bertahan dan perlahan-lahan (mulai) bangkit dari keterpurukan walau konon (menurut para pakar) tidak pernah sepenuhnya sembuh dari imbas krisis.

Dahsyatnya gerakan mahasiswa dalam nelakukan demonstrasi di 1998 hingga mampu menumbangkan rezim yang 32 tahun menjadi penguasa pun menjadi salah satu alarm terjadinya (maupun potensi terjadinya) krisis ekonomi di Indonesia pada tahun-tahun ke depannya.

Pertumbuhan Ekonomi (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Berikutnya di era Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan sekarang Presiden Joko Widodo pun salah satu penyebab krisis ekonomi yang abadi adalah dampak dari tidak benar-benar pulihnya Indonesia dari krisis ekonomi 1998.

Serangkaian upaya menguatkan ekonomi nasional seperti meningkatkan impor, membarter pesawat dengan kedelai negara lain, penurunan dan pencabutan subsidi BBM senantiasa berujung pro dan kontra.

Hingga di tahun 2018 ini, saya sendiri kerap bingung harus mencari referensi mana yang benar dari sekian banyak artikel yang betebaran di internet perihal permasalahan ekonomi yang tengah terjadi. Polarisasi masyarakat yang terjadi karena semakin dekatnya Pemilihan Umum 2019 semakin membuat runyam.

Pendapat para ekonom (orang yang benar-benar paham dan berkecimpung di dunia ekonomi) akan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat di Agustus-September 2018, terbiaskan dengan sentimen maupun pertanyaan: “ini pendapat #Jokowi2Periode atau #2019GantiPresiden?”

Para pegaung (Bahasa kerennya: buzzer) militan kedua kelompok pun menjadikan isu ekonomi ini sebagai komoditi bagi kepentingannya dengan angle yang berbeda-beda sehingga membuat masyarakat yang awalnya benar-benar tidak memahami ekonomi benar-benar serasa telah menjadi pakar.

Ilustrasi Buzzer (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Linimasa Instagram yang tadinya dipenuhi kehidupan glamor berganti dengan gambar-gambar grafik IHSG dengan caption-caption seperti slide kuliah Ilmu Ekonomi ditambahi beberapa iklan hestag peninggi badan maupun pembesar penis.

Linimasa Twitter yang tadinya dipenuhi cerita-cerita mistis terkini dan cuitan-cuitan segmented joke, kini dipadati cuitan ekonomi dari kubu #Jokowi2Periode atau #2019GantiPresiden. Di mana masing-masing kubu diwakili oleh orang-orang yang cukup kompeten di bidangnya (yang mana ironisnya bukan ekonomi).

Lini masa Facebook yang tadinya dipenuhi foto-foto angkatan tua sedang reuni SMU dan ucapan selamat ulang tahun bagi kerabat, kini berisi postingan berupa perdebatan lanjutan akibat ada yang memuat screen capture perdebatan ekonomi dari Instagram dan Twitter.

Sedangkan Grup WhatsApp, keluarga saling berkirim pesan dan teori konspirasi terkait persoalan ekonomi yang terjadi dengan didahului kalimat andalan: “info A1” atau “Dapet dari grup sebelah” (entah sebelah mana).

Bagi saya, masyarakat biasa, yang dibilang kaya tidak, namun dibilang miskin juga lumayan, melemahnya nilai tukar Rupiah atas Dollar Amerika Serikat sampai hari ini belum saya rasakan.

Sebelum mengkritisi serta memaki, saya adalah seorang apatis dan tidak memperhatikan penderitaan masyarakat kecil di pelosok yang benar-benar tercekik akibat hal ini, saya sampaikan sekali lagi bahwa saya hanyalah menyampaikan pendapat pribadi berdasarkan pengalaman serta kesaksian langsung hingga tanggal tulisan ini, 10 September 2018.

Layanan transportasi online GoJek (Foto: Garry Lotulung/Reuters)

Jasa transportasi online, rokok, paket ayam goreng cepat saji, kopi kekinian, dan lain-lain yang biasa saya gunakan belumlah mengalami kenaikan. Tentu bila dibandingkan dengan harga di tahun 2007 sudah naik. Namun ini bukanlah perbandingan Apple to Apple melainkan lebih mirip Apple to Evercoss M50.

Berbagai upaya tengah dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dibantu Ibu Sri Mulyani dan Pak Darmin Nasution. Ada juga imbauan para politisi (baik pro maupun oposisi) kepada masyarakat untuk berperan serta aktif membantu memperkuat nilai tukar Rupiah.

Pada dasarnya (setidaknya bagi saya pribadi) cukup mudah untuk dilakukan seperti misalnya: tidak jalan-jalan ke luar negeri (tentu, apalagi karena cuti saya sudah habis hingga November nanti), tidak membeli tas branded impor berharga ratusan juta Rupiah (bagi saya ini pun mudah karena saya mengetahui beberapa gerai toko di ITC Cililitan yang menjual produk tersebut dengan jumlah nol yang jauh lebih sedikit) serta membatalkan indent mobil-mobil mewah seperti Ferrari (tentu saya setuju apalagi di Jakarta sedang banyak sekali pembangunan sehingga untuk mencapai kecepatan 20 KM/jam di jam masuk dan pulang kantor adalah kemustahilan).

Demikianlah yang bisa saya bagikan. Semoga Rupiah dapat kembali sehat seperti sedia kala. Salam.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Rabu,22/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22