Media Sosial Mendekatkan yang Jauh, tetapi Mengapa Kita Justru Semakin Jauh?

Mahasiswa Universitas Pamulang Jurusan Pendidian Ekonomi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Vina Alawiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, manusia dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa harus bertemu secara langsung. Cukup dengan sebuah ponsel dan koneksi internet, seseorang bisa bertukar kabar dengan teman, keluarga, bahkan orang yang berada di belahan dunia lain. Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, memperoleh informasi, dan membangun hubungan sosial.
Namun, ada pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: ketika komunikasi menjadi semakin mudah, apakah hubungan antarmanusia juga menjadi semakin dekat?
Pertanyaan tersebut penting, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan teknologi. Media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan berbagai platform digital lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Media sosial tidak lagi sekadar tempat berbagi foto atau video, tetapi juga ruang untuk membangun identitas, mencari pengakuan, dan mengikuti perkembangan lingkungan sosial.
Sayangnya, kemudahan tersebut tidak selalu berjalan seiring dengan kualitas hubungan sosial yang lebih baik.
Media Sosial Menjadi Bagian dari Kehidupan Sosial
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam pola interaksi masyarakat. Jika dahulu komunikasi lebih sering dilakukan melalui pertemuan langsung, surat, atau telepon, kini banyak percakapan berlangsung melalui pesan singkat, komentar, dan panggilan video.
Perubahan ini memberikan banyak manfaat. Seseorang yang tinggal jauh dari keluarganya tetap dapat berkomunikasi setiap hari. Pelajar dapat berdiskusi mengenai tugas sekolah tanpa harus berkumpul di satu tempat. Masyarakat juga dapat memperoleh informasi dan membangun komunitas berdasarkan minat yang sama.
Dalam perspektif Ilmu Pengetahuan Sosial, perubahan tersebut menunjukkan bahwa interaksi sosial dapat berkembang mengikuti perubahan zaman. Teknologi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara manusia menjalin hubungan dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), melalui survei penggunaan internet tahun 2025, mencatat bahwa mengakses media sosial merupakan tujuan terbesar penggunaan internet di Indonesia dalam kategori yang diteliti, dengan angka 24,8 persen. Temuan ini memperlihatkan pentingnya media sosial dalam kehidupan digital masyarakat Indonesia.
Meski demikian, tingginya penggunaan media sosial tidak otomatis menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial masyarakat semakin baik. Banyaknya percakapan digital belum tentu sebanding dengan kedalaman komunikasi yang terjalin.
Ketika Jumlah Teman Tidak Selalu Berarti Kedekatan
Salah satu perubahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah perbedaan antara interaksi digital dan interaksi secara langsung.
Seseorang mungkin memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi hanya mempunyai sedikit orang yang benar-benar dipercaya untuk berbagi masalah pribadi. Kita juga bisa melihat seseorang aktif mengomentari unggahan orang lain, tetapi jarang berbicara secara mendalam dengan orang-orang di sekitarnya.
Situasi tersebut tidak berarti bahwa media sosial selalu merusak hubungan sosial. Hubungan digital juga dapat menjadi ruang dukungan emosional, terutama bagi orang yang kesulitan menemukan lingkungan yang sesuai di sekitarnya.
Persoalannya terletak pada bagaimana media sosial digunakan. Ketika komunikasi digital menjadi satu-satunya bentuk interaksi yang diandalkan, kesempatan untuk melatih empati, memahami ekspresi orang lain, dan menyelesaikan konflik secara langsung dapat berkurang.
Contoh sederhana dapat ditemukan saat sekelompok teman berkumpul di sebuah meja. Secara fisik, mereka berada di tempat yang sama. Namun, masing-masing sibuk menatap layar ponsel. Percakapan menjadi terbatas, sementara perhatian justru tertuju pada kehidupan orang lain di dunia maya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kedekatan fisik tidak selalu menghasilkan kedekatan emosional. Sebaliknya, komunikasi jarak jauh pun dapat membangun hubungan yang bermakna apabila dilakukan dengan perhatian dan kepedulian.
Budaya Membandingkan Diri dan Kebutuhan Akan Pengakuan
Media sosial juga menghadirkan tantangan lain, yaitu kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain.
Di dunia digital, pengguna dapat melihat pencapaian akademik, perjalanan wisata, penampilan, gaya hidup, hingga keberhasilan karier orang lain. Namun, apa yang ditampilkan di media sosial umumnya merupakan bagian tertentu dari kehidupan seseorang, bukan gambaran lengkap tentang realitasnya.
Ketika unggahan tersebut dianggap sebagai standar kehidupan yang ideal, sebagian pengguna dapat merasa tertinggal atau tidak cukup berhasil. Mereka mungkin mulai menilai diri berdasarkan jumlah pengikut, tanda suka, komentar, atau perhatian yang diterima.
Dalam kajian sosiologi, fenomena ini dapat dipahami melalui konsep interaksi sosial dan pembentukan identitas. Manusia tidak hanya mengenali dirinya melalui pengalaman pribadi, tetapi juga melalui tanggapan dan penilaian dari lingkungan sosial.
Media sosial memperluas lingkungan tersebut. Pengakuan yang sebelumnya banyak diperoleh dari keluarga, teman, atau masyarakat sekitar kini dapat dicari dari audiens yang jauh lebih luas.
Meskipun demikian, tidak tepat jika semua pengguna media sosial dianggap mengalami dampak yang sama. Pengaruhnya dapat berbeda bergantung pada kondisi individu, lingkungan pergaulan, jenis konten yang dikonsumsi, serta cara seseorang menggunakan platform digital.
Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar keberadaan media sosial, melainkan kemampuan kita untuk memahami bahwa apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan keseluruhan kehidupan seseorang.
Bukan Hanya Teknologi, tetapi Juga Tanggung Jawab Sosial
Dalam menghadapi perubahan ini, menyalahkan teknologi bukanlah solusi yang memadai. Media sosial hanyalah salah satu sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Manfaat maupun risikonya juga dipengaruhi oleh kebiasaan, tujuan, dan tanggung jawab penggunanya.
Generasi muda perlu mengembangkan literasi digital, bukan hanya kemampuan mengoperasikan aplikasi. Literasi digital juga mencakup kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami privasi, mengenali manipulasi konten, dan berkomunikasi secara bertanggung jawab.
Di lingkungan keluarga, kebiasaan berbincang tanpa gangguan ponsel dapat menjadi langkah sederhana untuk memperkuat hubungan. Di sekolah, diskusi mengenai etika digital dan dampak perilaku di internet dapat membantu pelajar memahami bahwa tindakan di dunia maya tetap memiliki konsekuensi sosial.
Sementara itu, masyarakat perlu membangun budaya komunikasi yang menghargai perbedaan pendapat. Komentar yang merendahkan, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, dan perundungan digital bukan sekadar persoalan perilaku individu. Tindakan tersebut dapat memengaruhi rasa aman dan kualitas kehidupan bersama.
Kita juga perlu memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari arus informasi. Mengurangi waktu menatap layar ketika sedang berkumpul dengan keluarga atau teman bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, hal tersebut merupakan upaya menempatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan manusia.
Mengembalikan Makna Kedekatan di Era Digital
Kemajuan teknologi telah membuka kesempatan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Kita dapat belajar dari berbagai sumber, membangun komunitas lintas wilayah, dan mempertahankan hubungan meskipun terpisah jarak.
Namun, kemudahan berkomunikasi seharusnya tidak membuat kita melupakan arti mendengarkan, memahami, dan hadir bagi orang lain.
Hubungan sosial yang sehat tidak hanya diukur dari seberapa sering kita mengirim pesan atau seberapa banyak orang yang mengikuti akun kita. Hubungan juga dibangun melalui perhatian, kepercayaan, kepedulian, dan kesediaan untuk memahami orang lain.
Pada akhirnya, media sosial bukan musuh yang harus dijauhi, tetapi alat yang perlu digunakan secara bijaksana. Kita tidak harus memilih antara hidup di dunia digital dan kehidupan nyata. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama kita mampu menjaga keseimbangan.
Sebab, teknologi mungkin membuat jarak terasa lebih dekat, tetapi manusialah yang menentukan apakah kedekatan itu benar-benar memiliki makna.
