Konten dari Pengguna

“Sekolah Tinggi, Ujung-Ujungnya ke Dapur?”: Salah Besar Soal Perempuan dan Ilmu

Vina Fatihatussholihah

Vina Fatihatussholihah

Penulis adalah Mahasiswi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vina Fatihatussholihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan membaca buku sebagai simbol usaha membangun peradaban. (Foto: pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan membaca buku sebagai simbol usaha membangun peradaban. (Foto: pexels.com)

“Ngapain sih perempuan sekolah tinggi-tinggi? Nanti juga akhirnya ngurus anak, masak, dan di rumah aja.” seru netizen

Kalimat ini masih sering terdengar di warung kopi, ruang keluarga, hingga kolom komentar media sosial. Kadang dianggap bercanda. Tapi seperti banyak candaan lain yang menyinggung perempuan, ia menyisakan luka yang panjang. Terlebih ketika itu jadi keyakinan kolektif—yang diam-diam menyabotase masa depan perempuan dan menyempitkan ruang belajarnya.

Hari ini, banyak perempuan muda yang ketika ingin kuliah S2 atau S3, justru mendapat tekanan: “Mau apa sih? Kamu perempuan, bukan laki-laki.” Seakan kecerdasan hanya hak istimewa laki-laki, dan mimpi besar dianggap bentuk pembangkangan terhadap kodrat.

Padahal jika kita bicara tentang masa depan, maka tidak bisa tidak: masa depan itu dimulai dari perempuan. Dan perempuan tidak bisa menjadi fondasi kuat bila pikirannya dibatasi.

Perempuan Cerdas Bukan Ancaman, Tapi Harapan

“Kalau ujung-ujungnya ke dapur, buat apa kuliah tinggi?”

Pernyataan ini tidak hanya merendahkan perempuan, tapi juga meremehkan peran seorang ibu sebagai pendidik pertama anak. Pendidikan tinggi bukan soal ijazah atau status sosial. Ia adalah tentang cara berpikir, kebiasaan membaca, kemampuan memilah informasi, dan daya analisis terhadap kehidupan.

Seorang ibu yang terdidik akan punya cara mendidik yang lebih sadar. Ia tahu bahwa anak tidak hanya butuh kasih sayang, tapi juga arahan intelektual. Ia bisa menumbuhkan rasa ingin tahu, memberi ruang eksplorasi, dan mengajarkan nilai melalui contoh.

Jadi ketika seorang ibu memiliki kapasitas berpikir yang baik, ia sedang mewariskan kualitas yang sama kepada generasi berikutnya.

Islam: Ilmu Tak Pernah Soal Gender

Salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam adalah ketika wahyu pertama turun: Iqra’—bacalah. Sebuah perintah untuk belajar, memahami, dan mencerdaskan diri. Dan tak ada catatan bahwa perintah itu eksklusif untuk laki-laki.

Islam sejak awal meletakkan ilmu sebagai fondasi peradaban, bukan berdasarkan gender, tapi takwa dan kesungguhan. Lihatlah Sayyidah Aisyah, salah satu periwayat hadis terbanyak. Ilmunya bahkan dirujuk oleh para sahabat. Lihat juga Sayyidah Fatimah, yang cerdas secara spiritual dan emosional, serta menjadi sumber inspirasi hingga kini.

Namun sayangnya, realitas hari ini belum sepenuhnya mencerminkan semangat awal Islam. Masih banyak lingkungan yang membatasi ruang berpikir perempuan, seolah-olah ilmu hanya bekal laki-laki untuk memimpin.

Salah Tafsir, Salah Langkah

Seringkali, QS. An-Nisa: 34 dikutip sebagai dalih untuk membatasi perempuan. Padahal menurut Dr. Ahsin Sakho (2019), kata qawwamun dalam ayat itu lebih merujuk pada tanggung jawab finansial dan perlindungan laki-laki terhadap keluarganya, bukan superioritas mutlak.

Ketika ayat itu dibaca hanya sepotong, muncullah kesimpulan yang keliru: perempuan cukup menjadi pengikut, bukan pemikir. Padahal kepemimpinan dalam rumah tangga bukan berarti menutup ruang bagi istri untuk belajar dan berkembang. Justru rumah tangga akan jauh lebih sehat ketika keduanya sama-sama cerdas dan saling memahami.

Ironisnya, anggapan bahwa perempuan cukup jadi "pengikut setia" justru membuat banyak rumah tangga kehilangan dialog, kehilangan akal sehat, bahkan kehilangan arah. Sebab, saat perempuan dilarang berpikir, yang lahir bukan ketenangan, melainkan ketimpangan.

Bangsa Besar Butuh Perempuan Besar

Buya Hamka dalam bukunya Berbicara Tentang Perempuan menyatakan bahwa perempuan yang hebat bukan hanya yang taat, tapi juga yang cerdas, berpikir luas, dan tahu kapan harus bersikap. Perempuan adalah penjaga nilai, sekaligus penggerak perubahan.

Bayangkan sebuah bangsa yang sebagian besar ibunya tidak diberi kesempatan berpikir. Maka yang tumbuh adalah generasi yang pasrah pada keadaan, tak terbiasa bertanya, dan mudah diarahkan oleh arus dangkal. Tapi bila seorang ibu berpikir kritis, mencintai ilmu, dan punya integritas, maka hal itu menular ke anak-anaknya.

Seperti kata pepatah Arab, al-ummu madrasatul ula—ibu adalah sekolah pertama. Dan sekolah yang baik itu butuh guru yang cakap.

Bukan Soal Siapa Lebih Hebat, Tapi Siapa yang Diberi Kesempatan

Kita tidak sedang bicara soal adu hebat antara laki-laki dan perempuan. Tapi soal kesetaraan akses. Ilmu tak pernah membedakan gender. Yang sering belum siap adalah lingkungan yang belum terbiasa memberi ruang.

Perempuan yang belajar bukan berarti meninggalkan kodratnya. Justru dengan belajar, ia memahami kodrat itu lebih utuh: sebagai pengasuh, pendidik, pemimpin kecil dalam keluarga, bahkan penggerak dalam masyarakat.

Menjadi perempuan cerdas adalah jalan panjang. Tapi itu juga jalan penting untuk membangun bangsa. Seperti kata Dr. Ahsin Sakho, “Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, maka negara akan baik.” Maka mari kita bangun bangsa ini dari akarnya—dari perempuan yang berpikir, yang belajar, dan yang tak pernah berhenti bertumbuh.