Konten dari Pengguna

Ketika Kata "Sayang" Sulit Terucap pada Orang Tua

Vina Khaliesah Azzahra
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3 Januari 2026 5:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Vina Khaliesah Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Orang Tua dan Anak. Foto: Q88/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Orang Tua dan Anak. Foto: Q88/Shutterstock
ADVERTISEMENT
"Aku sayang Mama, Papa."
Empat kata sederhana yang terdengar mudah, namun bagi sebagian anak—bahkan yang sudah beranjak dewasa—kalimat ini terasa seperti gunung yang harus didaki. Bukan karena mereka tidak mencintai orang tuanya, melainkan ada dinding tak kasat mata yang menghalangi perasaan itu untuk diungkapkan dengan kata-kata.
ADVERTISEMENT
Di tengah era media sosial yang penuh dengan unggahan foto keluarga bahagia dan caption penuh cinta, masih banyak anak yang berjuang dalam diam. Mereka merasakan kehangatan kasih sayang orang tua, namun kesulitan membalasnya dengan cara yang sama. Fenomena ini lebih umum dari yang kita kira, dan memahaminya adalah langkah pertama menuju rekonsiliasi emosional yang sehat.
Seorang anak yang sedang diambil gambarnya oleh sang ibu. Tapi, si anak malu untuk mengucapkan rasa terima kasih dan sayang nya pada sang ibu. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Mengapa Sulit Mengungkapkan Sayang?

1. Pola Asuh yang Minim Afeksi Verbal
Tidak semua keluarga tumbuh dengan kebiasaan mengucapkan "aku sayang kamu" setiap hari. Dalam banyak keluarga Indonesia, khususnya yang lebih tradisional, kasih sayang lebih sering ditunjukkan melalui tindakan—menyiapkan makanan, bekerja keras mencari nafkah, atau memastikan kebutuhan material terpenuhi.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini mungkin tidak pernah belajar bagaimana mengekspresikan perasaan secara verbal. Mereka tahu mereka dicintai, tetapi tidak pernah diajari cara mengatakan "aku juga sayang kalian" dengan nyaman.
ADVERTISEMENT
2. Trauma atau Luka Emosional Masa Lalu
Beberapa anak mungkin pernah mengalami penolakan emosional, diabaikan, atau bahkan menghadapi konflik yang intens dengan orang tua di masa kecil. Pengalaman ini bisa menciptakan dinding pelindung—sebuah mekanisme pertahanan psikologis yang membuat mereka enggan membuka diri, takut terluka lagi.
Meskipun hubungan sudah membaik, bekas luka emosional tidak mudah hilang. Anak mungkin masih menyimpan rasa sakit yang belum sepenuhnya sembuh, sehingga sulit untuk mengekspresikan kasih sayang dengan bebas.
3. Kepribadian Introvert atau Alexithymia
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi. Anak dengan kepribadian introvert cenderung menyimpan perasaan untuk diri sendiri. Mereka mungkin merasa canggung atau tidak nyaman dengan demonstrasi afeksi yang terbuka.
ADVERTISEMENT
Lebih jauh lagi, ada kondisi yang disebut alexithymia—kesulitan mengenali dan mendeskripsikan emosi sendiri. Orang dengan alexithymia tahu mereka merasakan sesuatu, tetapi sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya.
4. Gap Generasi dan Perbedaan Bahasa Cinta
Gary Chapman dalam bukunya "The Five Love Languages" menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam memberi dan menerima cinta: kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, hadiah, tindakan pelayanan, atau sentuhan fisik.
Ketika orang tua dan anak memiliki "bahasa cinta" yang berbeda, kesalahpahaman bisa terjadi. Orang tua mungkin mengekspresikan cinta melalui tindakan (memasak, memberi uang), sementara anak merasa membutuhkan kata-kata afirmasi. Sebaliknya, anak mungkin menunjukkan sayang dengan menghabiskan waktu bersama, tetapi orang tua mengharapkan ungkapan verbal.
5. Budaya "Gengsi" dan Rasa Malu
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa budaya, termasuk sebagian masyarakat Indonesia, ada stigma bahwa mengekspresikan emosi terlalu terbuka adalah tanda kelemahan atau "terlalu lebay". Terutama bagi anak laki-laki, ada ekspektasi untuk tampil kuat dan tidak terlalu emosional.
Rasa malu atau gengsi ini bisa membuat anak merasa canggung untuk tiba-tiba mengucapkan "aku sayang kalian" kepada orang tua, apalagi jika hal itu tidak pernah menjadi kebiasaan dalam keluarga.

Apa yang Terjadi Ketika Cinta Tidak Terucapkan?

Bagi Anak
ADVERTISEMENT
Bagi Orang Tua

Lalu Bagaimana Memulainya?

1. Mulai dari Hal Kecil
Anda tidak perlu langsung mengucapkan "aku sayang kalian" jika itu terasa terlalu berat. Mulailah dengan:
Kalimat-kalimat ini lebih mudah diucapkan dan tetap menyampaikan perasaan positif.
2. Gunakan Cara Non-Verbal
Jika kata-kata masih sulit, tunjukkan melalui tindakan:
ADVERTISEMENT
3. Tulis Surat atau Pesan
Bagi banyak orang, menulis lebih mudah daripada berbicara langsung. Anda bisa:
Menulis memberi Anda waktu untuk menyusun kata-kata dengan lebih baik tanpa tekanan tatap muka langsung.
4. Cari Momen yang Tepat
Tidak harus dalam situasi formal atau dramatis. Justru momen-momen sederhana sering lebih berkesan:
5. Konseling atau Terapi Keluarga
Jika masalah ini berakar dari trauma atau konflik yang lebih dalam, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikolog atau konselor keluarga dapat membantu memfasilitasi komunikasi yang lebih sehat.
ADVERTISEMENT
6. Berlatih Self-Compassion
Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Mengekspresikan emosi adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Setiap usaha kecil adalah kemajuan. Beri diri Anda waktu dan ruang untuk tumbuh.

Untuk Orang Tua: Bagaimana Memahami Anak yang Sulit Ekspresif?

1. Jangan Memaksa
Tekanan untuk mengucapkan "aku sayang kamu" bisa membuat anak semakin menarik diri. Beri mereka ruang dan waktu.
2. Perhatikan Tindakan, Bukan Hanya Kata-kata
Anak Anda mungkin menunjukkan cinta dengan cara lain:
Ini semua adalah bentuk kasih sayang.
3. Buka Komunikasi dengan Lembut
Alih-alih menuntut, coba pendekatan yang lebih lembut:
ADVERTISEMENT
4. Refleksikan Pola Asuh Anda
Tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya sendiri sering mengucapkan "aku sayang kamu" kepada anak? Apakah saya menciptakan lingkungan yang aman secara emosional untuk mereka mengekspresikan perasaan?
Perubahan dimulai dari diri sendiri.

Ketika Sayang Akhirnya Terucap

Rina, 28 tahun, berbagi pengalamannya: "Selama 28 tahun hidup saya, saya tidak pernah sekalipun bilang 'aku sayang Mama Papa' secara langsung. Bukan karena saya tidak sayang, tapi rasanya kata-kata itu stuck di tenggorokan. Keluarga kami memang tidak terbiasa dengan ungkapan verbal seperti itu.
Sampai suatu hari, Papa saya dirawat di rumah sakit karena serangan jantung. Melihat beliau terbaring lemah, saya menyadari betapa bodohnya saya selama ini. Dengan tangan gemetar, saya pegang tangan Papa dan akhirnya berkata, 'Pa, aku sayang Papa.' Papa saya menangis. Saya juga menangis.
ADVERTISEMENT
Sejak itu, saya berjanji untuk tidak lagi menyimpan perasaan saya. Setiap kali telepon, saya tutup dengan 'aku sayang kalian.' Awalnya canggung, tapi sekarang sudah jadi kebiasaan. Dan saya merasa lebih lega, lebih damai."

Cinta yang Terucap adalah Hadiah Terbesar

Tidak ada yang terlambat untuk mulai mengekspresikan cinta kepada orang tua. Setiap detik yang kita miliki bersama mereka adalah kesempatan berharga yang tidak akan terulang.
Jika Anda adalah anak yang kesulitan mengucapkan rasa sayang, ingatlah: orang tua Anda tidak akan selamanya ada. Kata-kata yang tidak terucapkan hari ini bisa menjadi penyesalan seumur hidup esok hari.
Mulailah dari yang kecil. Mulailah dari hari ini. Mulailah dengan cara Anda sendiri.
Karena pada akhirnya, cinta yang terucap—dalam bentuk apa pun—adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan kepada mereka yang telah memberikan segalanya untuk kita.
ADVERTISEMENT