Konten dari Pengguna
Menunda Itu Manusiawi, Tapi Kok Jadi Kebiasaan?
1 Januari 2026 13:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Menunda Itu Manusiawi, Tapi Kok Jadi Kebiasaan?
Menunda terasa wajar, tapi bisa jadi kebiasaan yang melelahkan. Tulisan ini membahas prokrastinasi bukan sebagai malas, melainkan cara kita menghadapi waktu, tanggung jawab, dan dorongan untuk memulaiVina Khaliesah Azzahra
Tulisan dari Vina Khaliesah Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
"Nanti aja."
Dua kata yang sering banget kita ucapkan, entah sadar atau tidak. Biasanya muncul ketika ada tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan sekarang, tapi entah kenapa terasa lebih nyaman untuk ditunda. Anehya, kalimat ini hampir selalu terdengar masuk akal di kepala kita sendiri.
ADVERTISEMENT
Sejak kecil, menunda sering dilabeli sebagai kebiasaan buruk. Orang yang menunda dianggap malas, tidak disiplin, atau kurang bertanggung jawab. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Menunda tidak selalu berarti malas. Ada kalanya kita memang sedang lelah, kewalahan, atau merasa perlu waktu untuk berpikir sebelum memulai. Masalahnya, batas antara “butuh waktu” dan “kebiasaan menunda” sering kali kabur.
Saya sendiri cukup akrab dengan penundaan, terutama soal tugas. Selama deadline masih terasa jauh, semuanya tampak aman. Ada perasaan tenang yang menipu, seolah waktu masih berpihak. Sampai akhirnya tenggat semakin dekat dan muncullah jurus andalan yang legendaris: SKS—Sistem Kebut Semalam. Begadang, panik, kopi di mana-mana, dan janji dalam hati untuk “nggak ngulangin lagi.” Sayangnya, janji itu sering lupa ditepati.
ADVERTISEMENT
Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai prokrastinasi. Ini bukan tentang tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi justru sebaliknya: kita sadar ada tanggung jawab, namun memilih menundanya. Ironisnya, penundaan jarang membawa ketenangan. Pikiran justru terusik. Ada rasa bersalah yang mengendap, seperti bayangan yang selalu ikut ke mana pun kita pergi. Mirip perasaan gelisah ketika ada sesuatu yang belum selesai, tapi kita pura-pura tidak melihatnya.
Alasan di balik penundaan pun sering kali berulang dan terasa sangat manusiawi.
Salah satunya adalah menunggu waktu yang tepat. Kita kerap berpikir bahwa segala sesuatu harus dimulai di momen yang ideal. Jam harus pas, kondisi harus mendukung, dan pikiran harus benar-benar siap. Padahal, waktu yang benar-benar “tepat” sering kali tidak pernah datang. Yang ada hanya penundaan lima menit, sepuluh menit, lalu tanpa sadar berubah menjadi berjam-jam.
ADVERTISEMENT
Alasan lain yang tak kalah populer adalah menunggu mood. Seolah suasana hati menjadi syarat utama untuk mulai bekerja. Kalau mood belum ada, rasanya percuma memaksa. Namun lucunya, mood sering kali justru muncul setelah kita mulai, bahkan setelah tugas selesai. Menunggu mood datang tanpa memulai apa pun justru membuatnya semakin menjauh.
Ada juga kebiasaan menunggu ide datang dengan sendirinya. Kita berharap inspirasi muncul secara ajaib, padahal yang dilakukan hanya menatap layar kosong atau dinding kamar. Padahal, ide biasanya lahir dari proses, bukan dari penantian pasif. Terlalu lama menunggu ide justru membuat waktu habis tanpa satu pun kemajuan.
Di tengah semua itu, gawai hadir sebagai godaan yang nyaris tak terelakkan. Awalnya hanya berniat membuka sebentar, lalu berpindah ke video lain, notifikasi lain, dan tanpa terasa waktu berlalu. Tugas masih belum disentuh, dan kalimat “nanti aja” kembali menjadi pelarian paling mudah.
ADVERTISEMENT
Tak jarang pula kita berlindung di balik kalimat, “dia juga belum, kok.” Membandingkan diri dengan orang lain memberi rasa aman sesaat, seolah keterlambatan kita menjadi wajar karena orang lain pun melakukan hal yang sama. Padahal, setiap orang punya ritme dan kapasitas yang berbeda. Apa yang berhasil untuk orang lain belum tentu cocok untuk diri kita sendiri.
Prokrastinasi bukan cuma soal tugas yang terlambat dikumpulkan. Ia membawa dampak yang lebih luas: stres, kecemasan, dan tekanan menjelang tenggat waktu. Pekerjaan akhirnya dilakukan secara terburu-buru, kualitas menurun, dan hasilnya jarang benar-benar memuaskan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa membentuk pola yang merugikan diri sendiri.
Menunda memang manusiawi. Tidak semua penundaan salah, dan tidak semua orang harus selalu produktif setiap saat. Namun, ketika menunda berubah menjadi kebiasaan, dampaknya perlahan terasa. Kita jadi sering lelah, cemas, dan merasa dikejar-kejar oleh waktu.
ADVERTISEMENT
Mungkin kita tidak selalu perlu menunggu waktu yang tepat, mood yang sempurna, atau motivasi yang besar. Memulai dengan langkah kecil, meski tidak ideal, sering kali jauh lebih efektif daripada menunggu segalanya terasa siap.
Barangkali, yang perlu kita tunda bukanlah tugasnya, melainkan kebiasaan menundanya.

