Konten dari Pengguna

Perempuan yang Memilih Childfree: Berani Mendefinisikan Ulang Kebahagiaan

Vina Khaliesah Azzahra
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
1 Januari 2026 10:11 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Vina Khaliesah Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Di sebuah kafe di Jakarta Selatan, saya bertemu dengan Ratih (35), seorang profesional muda yang telah menikah selama delapan tahun. Ketika saya bertanya tentang rencana memiliki anak, ia tersenyum tenang dan menjawab, "Saya dan suami memutuskan untuk childfree. Ini bukan karena kami tidak suka anak, tapi karena kami memilih jalan hidup yang berbeda."
ADVERTISEMENT
Jawaban Ratih mewakili suara yang semakin keras terdengar di Indonesia: perempuan yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak. Dalam masyarakat yang masih sangat pro-natalisme—di mana memiliki anak dianggap sebagai takdir alami setiap pernikahan—pilihan ini bukan hanya berani, tetapi juga kontroversial.
Keluarga dengan anak-anak menikmati waktu di taman kota. Sementara banyak yang menemukan kebahagiaan dalam peran sebagai orang tua, semakin banyak perempuan Indonesia yang memilih jalan berbeda untuk mendefinisikan kebahagiaannya. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Childfree Bukan Berarti Anti-Anak
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami bahwa childfree berbeda dengan childless. Childless merujuk pada kondisi tidak memiliki anak karena keadaan di luar kendali (seperti masalah kesuburan), sementara childfree adalah pilihan aktif dan sadar untuk tidak memiliki anak.
Dr. Maya Puspita, psikolog klinis yang sering menangani kasus konseling pernikahan, menjelaskan, "Banyak orang salah paham bahwa perempuan childfree itu egois atau tidak menyukai anak. Padahal, mereka seringkali sangat menyayangi anak-anak kerabat atau teman. Mereka hanya tidak ingin memiliki anak sendiri karena berbagai pertimbangan yang matang."
ADVERTISEMENT
Pertimbangan ini bisa beragam: mulai dari keinginan untuk fokus pada karier, kekhawatiran terhadap kondisi dunia yang semakin tidak menentu, trauma masa kecil, hingga kesadaran bahwa mereka tidak memiliki naluri keibuan yang kuat—dan itu tidak masalah.
Tekanan Sosial: "Kapan Punya Anak?"
Bagi perempuan Indonesia, pertanyaan "Kapan punya anak?" adalah ritual yang tak terhindarkan setelah menikah. Pertanyaan ini muncul di setiap pertemuan keluarga, arisan, bahkan di kantor. Seolah-olah, keberhasilan seorang perempuan dalam pernikahan diukur dari kemampuannya melahirkan keturunan.
Dina (32), seorang entrepreneur yang memilih childfree, berbagi pengalamannya: "Tahun pertama menikah, saya masih bisa tersenyum menjawab pertanyaan itu. Tahun kedua, mulai lelah. Tahun ketiga, saya tegas mengatakan bahwa kami memilih untuk tidak punya anak. Reaksinya? Sebagian keluarga shock, sebagian menganggap saya akan berubah pikiran, dan ada yang langsung menjauh karena menganggap saya 'tidak normal'."
ADVERTISEMENT
Tekanan ini tidak hanya datang dari keluarga besar, tetapi juga dari lingkungan sosial yang lebih luas. Media sosial dipenuhi dengan konten tentang "kebahagiaan menjadi ibu," iklan susu formula, dan narasi bahwa perempuan baru lengkap ketika menjadi ibu. Narasi dominan ini membuat pilihan childfree seolah-olah menjadi pemberontakan terhadap kodrat.
Redefining Womanhood: Perempuan Lebih dari Rahim
Salah satu argumen terkuat dari gerakan childfree adalah penolakan terhadap reduksi identitas perempuan hanya sebagai "mesin reproduksi." Feminis gelombang kedua, Simone de Beauvoir, pernah menulis, "One is not born, but rather becomes, a woman"—seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan melalui konstruksi sosial.
Dalam konteks Indonesia, konstruksi sosial tentang keperempuanan masih sangat terikat dengan peran domestik dan reproduksi. Perempuan diharapkan untuk menikah, melahirkan, dan mengasuh anak. Ketika seorang perempuan memilih keluar dari jalur ini, ia dianggap menyimpang.
ADVERTISEMENT
Namun, semakin banyak perempuan Indonesia yang menyadari bahwa kebahagiaan dan pemenuhan diri tidak harus melalui jalur yang sama. Mereka menemukan makna hidup melalui karier, hobi, kontribusi sosial, atau sekadar menikmati kebebasan untuk hidup sesuai keinginan mereka sendiri.
Argumen Ekonomi dan Lingkungan
Selain pertimbangan personal, banyak perempuan childfree juga memiliki argumen rasional yang kuat. Dari segi ekonomi, biaya membesarkan anak di Indonesia—terutama di kota besar—sangat tinggi. Mulai dari biaya persalinan, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari, semuanya membutuhkan investasi finansial yang tidak sedikit.
Sebuah studi dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia memperkirakan bahwa biaya membesarkan satu anak di Jakarta hingga lulus kuliah bisa mencapai lebih dari 1 miliar rupiah. Bagi pasangan yang ingin memiliki kualitas hidup tertentu atau mengejar tujuan finansial lain (seperti pensiun dini atau traveling), pilihan childfree menjadi sangat masuk akal.
ADVERTISEMENT
Dari segi lingkungan, argumen childfree juga semakin relevan. Krisis iklim, overpopulasi, dan degradasi lingkungan membuat sebagian orang mempertanyakan etika membawa anak ke dunia yang semakin tidak pasti. Gerakan antinatalism, meskipun masih minoritas, mulai mendapat perhatian sebagai respons terhadap krisis ekologis global.
Kesehatan Mental: Memilih Diri Sendiri
Aspek yang sering diabaikan dalam diskusi tentang childfree adalah kesehatan mental. Tidak semua orang memiliki kapasitas emosional, psikologis, atau bahkan fisik untuk menjadi orang tua. Dan mengakui keterbatasan ini adalah tanda kematangan, bukan kelemahan.
Dr. Andini Putri, psikiater yang fokus pada isu kesehatan mental perempuan, menekankan, "Menjadi orang tua adalah tanggung jawab seumur hidup yang sangat berat. Jika seseorang tidak merasa siap atau tidak menginginkannya, memaksa diri hanya akan berujung pada penyesalan, depresi, bahkan trauma bagi anak yang dilahirkan. Memilih childfree bisa jadi adalah keputusan yang paling bertanggung jawab."
ADVERTISEMENT
Banyak perempuan childfree yang memiliki riwayat trauma masa kecil, gangguan mental, atau sekadar kesadaran bahwa mereka tidak akan menjadi orang tua yang baik. Daripada memaksakan diri dan berpotensi mewariskan trauma kepada generasi berikutnya, mereka memilih untuk tidak melanjutkan siklus tersebut.
Dukungan Pasangan: Kunci Keberhasilan
Keputusan childfree tidak bisa diambil secara sepihak. Ini adalah keputusan bersama yang membutuhkan komunikasi terbuka dan dukungan penuh dari pasangan.
Rian (37) dan istrinya, Lina (34), adalah pasangan childfree yang telah menikah selama sembilan tahun. Rian berbagi, "Sejak pacaran, kami sudah diskusi tentang ini. Kami berdua sama-sama tidak merasa terpanggil untuk menjadi orang tua. Keputusan ini membuat hubungan kami lebih solid karena kami bisa fokus satu sama lain, mengejar passion masing-masing, dan menikmati hidup tanpa beban ekspektasi sosial."
ADVERTISEMENT
Namun, tidak semua pasangan seberuntung Rian dan Lina. Ada banyak kasus di mana salah satu pihak berubah pikiran setelah menikah, atau tekanan dari keluarga besar menjadi begitu kuat sehingga meretakkan hubungan. Ini menunjukkan pentingnya diskusi mendalam sebelum menikah tentang visi hidup bersama, termasuk soal anak.
Childfree Bukan Berarti Tanpa Kontribusi Sosial
Salah satu kritik terhadap gerakan childfree adalah tuduhan bahwa mereka egois dan tidak peduli pada masa depan masyarakat. Namun, argumen ini sangat lemah.
Banyak perempuan childfree yang justru sangat aktif dalam kegiatan sosial, menjadi mentor bagi anak-anak kurang mampu, atau berkontribusi dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Mereka membuktikan bahwa kontribusi kepada masyarakat tidak harus melalui melahirkan anak biologis.
ADVERTISEMENT
Sari (40), seorang aktivis pendidikan yang childfree, mengatakan, "Saya tidak punya anak sendiri, tetapi saya telah membantu ratusan anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan akses pendidikan. Bagi saya, ini adalah cara saya berkontribusi pada generasi masa depan. Saya tidak perlu melahirkan untuk membuat perbedaan."
Tantangan dan Stigma yang Masih Ada
Meskipun diskusi tentang childfree semakin terbuka, stigma sosial masih sangat kuat. Perempuan childfree sering kali dianggap tidak lengkap, egois, atau bahkan "belum bertemu anak yang tepat" (seolah-olah anak adalah hadiah yang akan mengubah pikiran mereka).
Di tempat kerja, perempuan childfree kadang menghadapi diskriminasi halus. Mereka dianggap "punya banyak waktu" sehingga dibebani dengan pekerjaan ekstra, atau tidak dianggap serius ketika meminta cuti untuk keperluan pribadi karena "tidak punya anak yang perlu dijaga."
ADVERTISEMENT
Di lingkungan sosial, mereka sering dikucilkan dari perbincangan ibu-ibu lain, atau dianggap tidak bisa memahami "perjuangan seorang ibu." Padahal, empati dan pemahaman tidak harus lahir dari pengalaman yang sama.
Menuju Masyarakat yang Lebih Inklusif
Pertanyaan besarnya adalah: apakah masyarakat Indonesia siap menerima keberagaman pilihan hidup, termasuk childfree?
Tanda-tanda positif mulai muncul. Generasi milenial dan Gen Z lebih terbuka terhadap pilihan hidup non-konvensional. Media dan platform digital memberikan ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Komunitas childfree di Indonesia juga mulai terbentuk, memberikan dukungan dan validasi bagi mereka yang memilih jalan ini.
Namun, perubahan budaya tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan edukasi, dialog terbuka, dan yang paling penting, rasa hormat terhadap otonomi individu untuk membuat keputusan tentang tubuh dan hidup mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
Kebahagiaan Tidak Punya Template
Kembali ke Ratih, perempuan yang saya temui di awal tulisan ini. Ketika saya bertanya apakah ia pernah menyesal dengan pilihannya, ia menjawab dengan yakin, "Tidak sekalipun. Saya bahagia dengan hidup saya. Saya punya karier yang saya cintai, hubungan pernikahan yang sehat, dan kebebasan untuk menjalani hidup sesuai nilai-nilai saya. Bagi saya, ini adalah definisi kebahagiaan. Dan saya tidak perlu anak untuk merasa lengkap."
Pilihan childfree mungkin bukan untuk semua orang, dan itu tidak masalah. Yang penting adalah menghormati bahwa setiap orang memiliki hak untuk mendefinisikan kebahagiaannya sendiri. Tidak ada template tunggal untuk hidup yang bermakna.
Bagi perempuan yang memilih childfree, keputusan ini bukan tentang menolak kebahagiaan, tetapi justru tentang merangkul kebahagiaan yang autentik sesuai dengan diri mereka. Dan dalam masyarakat yang benar-benar maju dan beradab, pilihan ini seharusnya dihormati, bukan dikutuk.
ADVERTISEMENT