Konten dari Pengguna

Menilik Makam Girigondo, Wisata Religi di Kulon Progo yang Tak Lagi Seramai Dulu

Vina Mariska

Vina Mariska

Mahasiswa S1 Pariwisata Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vina Mariska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah berkembangnya berbagai destinasi wisata di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat sebuah tempat yang menyimpan cerita panjang tentang sejarah Pakualaman. Tempat tersebut bukan destinasi rekreasi hiburan ataupun destinasi wisata alam, melainkan sebuah destinasi religi kompleks pemakaman keluarga besar Kadipaten Pakualaman yang dikenal sebagai Makam Girigondo

Bangunan di kawasan kompleks Makam Girigondo, Kulon Progo. Foto: Vina Mariska
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan di kawasan kompleks Makam Girigondo, Kulon Progo. Foto: Vina Mariska

Terletak di Dusun Girigondo, Desa Kaligintung, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Makam Girigondo menjadi salah satu tujuan ziarah yang memiliki nilai sejarah. Kompleks pemakaman ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir keluarga besar Pakualaman, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan sejarah yang masih dapat dikenali hingga saat ini.

Berdasarkan penuturan juru kunci Makam Girigondo, Pak Wasiluddin, kompleks pemakaman tersebut mulai digunakan pada tahun 1900 sebagai tempat pemakaman KGPAA Paku Alam V. Sebelum Makam Girigondo dibangun, Paku Alam I hingga Paku Alam IV dimakamkan di kawasan Kotagede. Pemindahan lokasi pemakaman kemudian dilakukan setelah mempertimbangkan keterbatasan lahan serta melalui proses olah batin pada masa itu. Hingga akhirnya, kawasan Girigondo dipilih sebagai lokasi pemakaman keluarga Pakualaman. Sebelum dikenal dengan nama Girigondo, kawasan tersebut sebelumnya disebut Gunung Keling. Kompleks Makam Girigondo terdiri atas enam teras. Teras tertinggi menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh utama, yaitu KGPAA Paku Alam V, KGPAA Paku Alam VI, dan KGPAA Paku Alam VII, beserta garwa dalem dan putra-putranya. Sementara itu, makam kerabat Pakualaman lainnya berada di teras-teras bagian bawah.

Ziarah sebagai Tradisi dan Pengingat Sejarah

Lebih dari sekadar kompleks pemakaman, Makam Girigondo juga memiliki fungsi sebagai tempat ziarah. Bagi sebagian masyarakat, ziarah bukan hanya kegiatan mengunjungi makam, melainkan juga menjadi sarana untuk mendoakan mereka yang telah meninggal, mengenang jasa para leluhur, serta mengambil pelajaran dari kehidupan masa lalu.

Tradisi keagamaan dan budaya juga masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Makam Girigondo. Salah satunya adalah tradisi Nyadran yang dilaksanakan pada bulan Sya'ban. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk keterikatan masyarakat Dusun Girigndo dengan nilai-nilai keagamaan dan penghormatan terhadap mereka yang telah meninggal. Keberadaan tradisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas di Makam Girigondo tidak hanya berkaitan dengan sejarah keluarga Pakualaman saja, tetapi juga memiliki hubungan dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat sekitar.

Ketika Jumlah Peziarah Tak Lagi Seramai Dulu

Di balik nilai sejarah dan tradisi yang masih melekat, Makam Girigondo juga mengalami perubahan dalam aktivitas kunjungannya. Salah satu hal menarik dari penuturan juru kunci adalah perbedaan jumlah peziarah sebelum dan setelah pandemi COVID-19. Menurut Pak Wasiluddin, sebelum pandemi, jumlah peziarah yang datang dapat mencapai ribuan orang setiap harinya. Kunjungan biasanya semakin ramai pada waktu-waktu tertentu, terutama selama bulan Sya'ban dan hari raya. Namun, kondisi tersebut berubah setelah pandemi COVID-19. Jumlah peziarah yang datang mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan dengan masa sebelumnya.

"Setelah COVID itu sudah sangat menurun, bisa dikatakan sedikit sekali. Kalau dulu, tiap hari itu ribuan orang," ungkap Pak Wasiluddin.

Penurunan tersebut menjadi salah satu tantangan bagi keberadaan Makam Girigondo sebagai destinasi wisata religi. Menurut Pak Wasiluddin, salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi kunjungan adalah semakin berkembangnya berbagai destinasi wisata di Kabupaten Kulon Progo. Perubahan pilihan destinasi wisata menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan. Ketika berbagai tempat wisata menawarkan pengalaman rekreasi dan hiburan, wisata religi memiliki karakteristik yang berbeda. Daya tariknya tidak selalu terletak pada aktivitas rekreasi, melainkan pada nilai spiritual, sejarah, dan pengalaman reflektif yang dirasakan pengunjung. Meski demikian, penurunan jumlah peziarah tidak serta-merta menghilangkan nilai penting Makam Girigondo. Sebab, keberadaan tempat ini tidak hanya dapat dilihat dari banyak atau sedikitnya orang yang datang, tetapi juga dari sejarah dan tradisi yang masih dijaga.

Menjaga Sejarah Makam Girigondo di Tengah Perubahan Zaman

Makam Girigondo telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Status tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki nilai penting yang perlu dijaga dan dilestarikan. Nilai sejarahnya juga berkaitan dengan tokoh-tokoh yang dimakamkan di dalam kompleks tersebut. Salah satunya adalah Paku Alam VIII yang memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Keberadaan tokoh-tokoh tersebut menjadikan Makam Girigondo bukan hanya tempat untuk mengenang leluhur, tetapi juga ruang untuk mempelajari perjalanan sejarah bangsa.

Bagi Pak Wasiluddin, keberadaan makam para tokoh dan pejuang bangsa perlu terus dikenalkan kepada masyarakat. Ia berharap kesadaran masyarakat untuk melakukan ziarah semakin meningkat, terutama sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang telah berjasa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Gapura dan anak tangga menuju Makam Girigondo, Kulon Progo. Foto: Vina Mariska

"Harapan saya, lingkungan di sini semakin kondusif dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya ziarah, terutama kepada para pejuang dan pahlawan bangsa," tuturnya.

Harapan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian Makam Girigondo tidak hanya berkaitan dengan perawatan fisik kawasan pemakaman. Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab untuk menjaga ingatan sejarah agar tidak terputus dari generasi ke generasi. Pengembangan wisata religi di kawasan ini pun tidak harus selalu berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung. Upaya memperkenalkan sejarah, menjaga tradisi, memberikan pemahaman kepada pengunjung, serta mempertahankan kesakralan kawasan juga menjadi bagian penting dari pelestarian.

Pada akhirnya, Makam Girigondo memberikan gambaran bahwa pariwisata tidak selalu berkaitan dengan hiburan dan keramaian. Ada pula perjalanan yang dilakukan untuk mengenang, mendoakan, dan memahami sejarah. Di tempat seperti ini, ziarah menjadi pertemuan antara nilai keagamaan, kebudayaan, dan ingatan terhadap masa lalu. Makam Girigondo mungkin tidak menawarkan keramaian seperti destinasi wisata lainnya. Namun, di balik suasananya yang tenang, tersimpan kisah panjang tentang keluarga Pakualaman, tradisi masyarakat, dan sejarah perjuangan bangsa. Kisah-kisah tersebut layak untuk terus dikenalkan dan diwariskan, agar keberadaan tempat ini tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu.