Indahnya Berkawan dengan Orang Sudan
Tulisan dari Vina Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apakah semua orang Sudan suka kekerasan seperti kesan yang mungkin tampak di tengah konflik antara militer dan paramiliter di Sudan saat ini? Dalam pandangan saya, pada hakikatnya masyarakat Sudan merupakan orang-orang yang cinta damai dan berhati tulus. Izinkan saya berbagi cerita mengenai sejumlah sosok kawan Sudan yang berkesan, yang saya temui ketika saya bertugas di Khartoum, ibu kota Sudan tahun 2018-2020.

Bang Rayah, Kawan Berkendara "No Problem"
Bang Rayah dengan bajajnya setia mengantar saya ke tempat-tempat yang perlu saya kunjungi di Khartoum. Di tengah kerusuhan politik yang kadang terjadi di Khartoum, Bang Rayah bahkan tidak sungkan-sungkan menembus blokade jalan dan melewati milisi-milisi di persimpangan jalan demi mengantar saya ke kantor.
Dia juga menemani saya mencari tabung gas di tengah kelangkaan gas di kota Khartoum. “No problem, no problem,” pungkasnya.
“Bang, mau ke tempat ini. Nih pakai Google Maps ya,” ucap saya.
“No problem, no problem,” jawabnya. Lalu nyasar. Namun demikian, kami tertawa, dan dia mencarikan tempatnya sampai ketemu.
Untuk tempat-tempat yang belum ada di Google Maps, Bang Rayah tidak segan-segan turun berkali-kali dari bajaj dan bertanya pada orang-orang di jalan, di tengah teriknya matahari Negeri Dua Nil untuk mencari arah yang benar.
Duta Besar Mohieldin, Sang Diplomat Penyayang Istri
Pak Dubes Mohieldin merupakan diplomat senior Sudan yang jenaka dan rendah hati. Saya sempat mendampingi beliau ke Bali untuk menghadiri pertemuan internasional yang diselenggarakan DPR RI.
Beliau banyak memberikan saya nasihat: Jagalah kerendahan hati dalam bekerja dan sayangi orang tuamu. Beliau juga bercerita tentang pengalaman karirnya, bukan untuk menyombongkan diri, namun untuk mendorong saya lebih mencintai pekerjaan saya.
Pak Dubes Mohieldin juga seorang suami yang penyayang.
“Nak, temani saya belanja buah-buahan untuk istri saya. Dia sangat suka buah-buahan dari Indonesia,” ujarnya.
Satu dus besar buah-buahan tropis pun dibawanya ke Sudan untuk kekasih hatinya.
“Langsung habis dalam satu hari. Andai buah-buahan Indonesia ada di supermarket Sudan agar kami bisa nikmati setiap hari,” pesan Whatsapp dari Pak Dubes Mohieldin kepada saya.
Ustaz Salah, Si Penyuka Silaturahmi
Loh kok Ustaz bisa Salah? Di Sudan, cukup umum untuk menyapa Bapak-Bapak dengan sebutan Ustaz sebelum namanya, dan mereka sangat senang bila dipanggil demikian. Banyak orang Sudan memang sangat taat beragama.
Ustaz Salah menjual oleh-oleh khas Sudan di sebuah pasar tua di Khartoum bernama Souq Al Arabi. Saya kadang berkunjung ke tokonya untuk berbelanja dan juga ngobrol-ngobrol sambil ngeteh. Itulah salah satu keramahan orang Sudan. Tamu akan selalu disuguhkan segelas teh panas atau sebotol air minum dingin.
Ketika lama saya tak berkunjung ke tokonya, Ustaz Salah dengan raut wajah khawatirnya bertanya: “Ke mana saja?”
“Maaf Ustaz, karena kondisi keamanan, tidak banyak tamu yang datang dari Indonesia,” jawab saya.
“Datang saja untuk silaturahmi, tidak harus beli,” jawabnya.
Ketika saya meninggalkan Khartoum di tengah pandemi, saya tidak sempat berpamitan padanya.
Setahun kemudian, teman Sudan saya mengirim pesan dan foto ini kepada saya: “Dapat salam dari Ustaz Salah. Dia mendoakan kamu selalu sehat dan dilindungi Allah SWT.” Saya terharu karena Ustaz Salah masih ingat kepada saya.
Pesan untuk My Sudanese Friends
Walaupun kebersamaan tidak lagi di pihak kita, namun kenangan akan selalu membawa kita bersama."
Terima kasih wahai teman-teman Sudanku. Di tengah segala keterbatasan di Sudan, saya merasa sangat beruntung karena bisa bertemu sosok-sosok inspiratif dan baik hati seperti kalian. Kalian mengajarkan hal-hal baik kepada saya tentang kehidupan. Walaupun kebersamaan tidak lagi di pihak kita, namun kenangan akan selalu membawa kita bersama. Semoga Allah SWT selalu menjaga kalian dan perdamaian segera kembali ke Sudan.

