Tidak Pernah Pacaran Membuat Kesepian?

Mahasiswa Program Studi Digital Bisnis Manajemen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Vincent Sugiharto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang beranggapan bahwa masa remaja adalah waktu untuk belajar soal cinta. Namun, apa jadinya jika seseorang melewati masa remajanya tanpa pernah pacaran sama sekali? Apakah hal ini berdampak pada kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis saat dewasa?
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Youth and Adolescence mencoba menjawab pertanyaan ini. Studi tersebut meneliti 3.421 remaja hingga dewasa muda dan mengidentifikasi empat pola pengalaman romantis yang berbeda:
Late starters – mulai pacaran lebih lambat dengan pengalaman terbatas.
Moderate daters – mulai pacaran pada usia menengah dengan pengalaman sedang.
Frequent changers – mulai pacaran lebih dini dan sering berganti pasangan.
Continuous singles – tidak pernah memiliki hubungan romantis hingga usia 20 tahun.
Tidak Pernah Pacaran = Lebih Kesepian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok continuous singles cenderung mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah dan tingkat kesepian yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya, baik di masa remaja maupun ketika beranjak dewasa muda (Meeus et al., 2021).
Menariknya, kelompok moderate daters justru melaporkan tingkat kebahagiaan tertinggi dan kesepian terendah. Artinya, memiliki pengalaman pacaran dalam kadar “cukup” saat remaja bisa berperan positif dalam perkembangan psikososial.
Apa Artinya untuk Kehidupan Kita?
Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman romantis pada masa remaja bukan sekadar urusan cinta, tetapi juga berhubungan dengan kesehatan mental dan rasa kesejahteraan. Bukan berarti semua orang wajib pacaran, tetapi pengalaman menjalin hubungan dekat dengan orang lain tampaknya membantu remaja mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk menghadapi masa dewasa.
Jadi, faktanya memang benar: tidak pernah pacaran hingga dewasa muda dapat meningkatkan risiko merasa lebih kesepian dan kurang puas dengan hidup. Namun, yang terpenting bukanlah seberapa cepat atau sering seseorang pacaran, melainkan bagaimana pengalaman itu membantu membangun rasa kedekatan, kepercayaan, dan dukungan emosional.
