Dirty Vote Refleksi dari Dirty System

Vindy W Maramis
Pegiat Literasi dan Ibu Rumah Tangga
Konten dari Pengguna
19 Februari 2024 18:23 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Vindy W Maramis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Film dokumnter yang berjudul "Dirty Vote" masih menjadi film kontroversial di tengah-tengah masyarakat. Ditayangkan saat masa tenang sebelum pemilihan umum, film yang di sutradarai oleh Dandhy Laksono langsung mendapatkan sekitar 7 juta penonton di hari pertama penayangannya.
Ilustrasi : Kecurangan Surat Suara. Sumber : iStock
Mengapa film Dirty Vote ini menjadi menarik di perbincangkan?. Cukup diakui bahwa pemilihan waktu penayangan oleh sang sutradara menjadi salah satu faktor yang mendorong film ini booming, selain itu tentu karena film dokumenter ini mengulas fakta tentang kecurangan-kecurangan yang terjadi sebelum pemilihan umum saat ini khususnya pemilihan presiden 2024. Namun sebenarnya fakta yang ditayangkan bukanlah hal baru dalam dunia politik demokrasi, melainkan sudah sering terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Bagi siapa yang jeli, tentu juga akan menyadari hal serupa, bahkan tak perlu menjadi pakar politik, masyarakat awan yang mau 'melek politik' pun akan bisa melihat kotornya permainan politik demokrasi.
Yang saat ini belum dipahami oleh kita semua adalah fenomena dirty vote ini sesungguhnya cerminan dari dirty system. Kecurangan-kecurangan yang terjadi merupakan kecurangan sistemik yang memang sudah dirancang sedemikan rupa.
Sistem demokrasi yang diciptakan memang membuka peluang kecurangan itu terjadi. Karena demokrasi itu sendiri lahir dari ideologi kapitalisme yang asasnya adalah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Dalam pandangan kapitalisme-sekulerisme, segala sesuatu itu harus berdiri diatas materi yaitu keuntungan dan manfaat tanpa memandang aspek kebolehan dalam norma etika agama.
ADVERTISEMENT
Maka dalam siklus politik demokrasi yang sering dilakukan oleh penganutnya adalah keengganan lepas dari kekuasaan. Kekuasaan bukan dijadikan amanah melainkan ladang meraup keuntungan. Sehingga demi mempertahankan hegemoni kekuasaan segala cara dihalalkan. Ya seperti yang dipaparkan dalam film Dirty Vote.
Inilah cacat dan buruknya sistem buatan manusia. Manusia yang lemah, terbatas, dan memiliki kecenderungan terhadap hawa nafsu tidak akan mampu membuat hukum yang baik dan sempurna.
Itulah mengapa Allah katakan dalam Al Qur'an yang artinya :
Allah telah menjadikan Islam sebagai agama dan aturan kehidupan. Bahkan Allah menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin yang berarti syariat Islam bukan hanya mampu menjadi peraturan kehidupan bagi muslim saja, melainkan seluruh manusia. Sebab Allah lah Sang Pencipta, Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur.
ADVERTISEMENT
Hal ini terbukti ketika Islam diterapkan dalam sebuah sistem pemerintahan pada masa Rasulullah di Madina hingga Turki Ustmani. Sejarah mencatat bagaimana Negara Islam mampu memberikan keadilan, kesejahteraan bidang pendidikan dan ekonomi, bahkan pada masa itu negara Islam menjadi mercusuar dunia.
Bahkan Will Durrent seorang sejarawan Barat dengan jujur mencatat dalam bukunya yang berjudul The Story of Civilization, "Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapa pun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi. Fenomena seperti itu setelah masa mereka".
Hal ini menunjukkan bahwa Islam mampu mengatur kehidupan manusia sekalipun manusia hidup dalam pluralitas.
ADVERTISEMENT
Oleh sebab itu sistem yang baik akan menghasilkan manusia yang baik pula. Islam sebagai ideologi kehidupan akan menghasilkan manusia-manusia yang jujur, adil, dan amanah. Sehingga ketika diberikan kekuasaan akan dijaga dan dijalankan sesuai dengan koridor hukum syara'.
Allahua'lam.