Konten dari Pengguna

Kasih Ayah Sepanjang Jabat

Vindy W Maramis

Vindy W Maramis

Pegiat Literasi dan Ibu Rumah Tangga

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vindy W Maramis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Gibran Rakabuming. Sumber Foto : https://kumparan.com/berita-bisnis/8-usaha-gibran-rakabuming-dari-kuliner-hingga-startup-1zRYBEySRtg
zoom-in-whitePerbesar
Foto Gibran Rakabuming. Sumber Foto : https://kumparan.com/berita-bisnis/8-usaha-gibran-rakabuming-dari-kuliner-hingga-startup-1zRYBEySRtg

Bila ada istilah "kasih ibu sepanjang masa", maka saat ini ada pula istilah baru yaitu "kasih ayah sepanjang jabat". Istilah yang merujuk pada manuver yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo.

Bagaimanapun ditakar nalar, manuver tersebut terlalu gamblang dan terang-terangan diperlihatkan kepada seluruh masyarakat. Aroma dinasti politiknya terlalu tajam.

Dimulai dari isu majunya Gibran anak Presiden Joko Widodo sebagai bakal calon wakil presiden mendampingi Prabowo, namun terkendala usia yang masih terlalu belia, hingga kemudian Mahkamah Konstitusi (MK) dengan segala dramanya mengakali Undang-Undang soal syarat dan batas usia cawapres dan bacawapres yang seolah spesial untuk memuluskan sang keponakan.

Ketua MK sendiri diketahui merupakan adik ipar dari Presiden Jokowi. Setelah putusan MK lolos, ternyata Gibran yang masih menjabat sebagai wali kota solo inipun langsung diumumkan sebagai bacawapres Prabowo Subianto.

Pengamat politik Airlangga Pribadi mengungkapkan bahwa etika imparsialitas terlanggar dalam putusan tersebut disebabkan adanya conflict of interest yang muncul ketika Ketua MK Anwar Usman ikut serta memutuskan perkara dengan menerima gugatan.

Jangankan pengamat politik, masyarakat awam sendiri juga bisa melihat dan menilai hal serupa. Manuver politik yang dilakukan Presiden Joko Widodo ini seolah menegaskan bahwa konstitusi dalam demokrasi begitu rapuh.

Belum lagi majunya Gibran dalam kontestasi pemilihan capres dan cawapres ini juga akan berisiko terjadinya pemulusan jalan Gibran mengingat Joko Widodo masih menjabat sebagai Presiden hingga pemilu berakhir nanti. Undang-undang aja bisa digugat apalagi hanya sekadar memuluskan jalan anak sendiri?

Begitulah nafsu kekuasaan. Memang fitrahnya manusia memiliki hawa nafsu termasuk hawa nafsu terhadap kekuasaan dan jabatan. Maka Allah telah membentengi hal tersebut dalam norma-norma agama. Agar manusia tidak menjadi budak nafsu, maka hanya keimanan yang kuatlah yang mampu menjadi perisainya.

Kekuasaan apabila dilandasi dengan keimanan terhadap Allah dan syariat-Nya, maka akan tercipta kehidupan yang harmoni. Apabila manusia mengetahui betapa beratnya hisab kekuasaan di akhirat kelak, maka manusia akan enggan menerima amanah kekuasaan di dunia ini, bukan malah tak ingin lepas sampai memperebutkan kekuasaan.

Rasulullah pernah bersabda,

"Setiap pemimpin yang memimpin rakyatnya, pada hari kiamat pasti akan didatangkan. Kemudian malaikat Mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya sampai ke langit. Kalau ada perintah dari Allah SWT: lemparkanlah, maka malaikat akan melemparkannya ke bawah yang jauhnya empat puluh tahun perjalanan. (HR. Imam Ibnu Majah).

Allah dalam firman-Nya :

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh" (TQS. Al Ahzab : 72)

Memiliki kekuasaan itu sesungguhnya merupakan sunnatullah. Allah menciptakan manusia memang sebagai pemimpin di muka bumi. Namun yang diperintahkan Allah adalah kepemimpinan untuk menerapkan syariat Allah, kepemimpinan yang adil bagi seluruh alam, bukan kepemimpinan megalomania.