Nongkrong Terus, Keuangan Aman Nggak? Begini Cara Gen-Z Mengatur Keuangan

Mahasiswi S1 Universitas Pamulang. Saya adalah pribadi yang suka akan eksplorasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vinessa Christalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buat sebagian Gen Z, nongkrong sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Setelah kuliah, selesai kerja, atau sekadar ingin menghabiskan waktu bersama teman, ajakan seperti “nongkrong yuk” rasanya cukup sulit untuk ditolak.
Nongkrong sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Selain menjadi kegiatan untuk bersantai, nongkrong juga bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan dengan teman dan melepas penat dari aktivitas sehari-hari. Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini juga bisa membuat pengeluaran semakin besar.
Bayangkan dalam seminggu kita nongkrong beberapa kali. Sekali nongkrong mungkin hanya mengeluarkan Rp30.000 sampai Rp50.000. Kelihatannya memang tidak terlalu banyak. Tetapi kalau dilakukan berkali-kali dalam sebulan, jumlahnya bisa menjadi cukup besar.
Nongkrong dan Gaya Hidup Gen Z
Gen Z hidup di tengah perkembangan media sosial yang sangat cepat. Apa yang sedang tren bisa dengan mudah diketahui melalui TikTok, Instagram, dan berbagai platform lainnya. Mulai dari kafe yang sedang viral, makanan yang sedang ramai dicoba, sampai tempat nongkrong yang dianggap "aestetik"
Hal tersebut terkadang membuat seseorang merasa ingin ikut mencoba. Bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena tidak ingin ketinggalan tren atau merasa kurang update dibandingkan teman-temannya.
Di sinilah gaya hidup mulai berhubungan dengan kondisi keuangan. Ketika mengikuti tren menjadi kebiasaan, pengeluaran yang awalnya kecil bisa menjadi semakin besar.
Bukan Berarti Gen Z Tidak Boleh Nongkrong
Yang lebih penting adalah mengetahui batas kemampuan diri sendiri.
Misalnya, sebelum menerima ajakan nongkrong, kita bisa melihat terlebih dahulu kondisi keuangan. Jika uang yang tersedia memang cukup, tidak masalah untuk ikut. " Guys, balik kampus coffeshop yuk". Setelah mendengar kata keramat itu dan ternyata kita memang memiliki kebutuhan yang lebih penting, di saat dompet kering menolak ajakan sesekali juga bukan sesuatu yang perlu dirasa bersalah.
Kita juga bisa membuat batas pengeluaran khusus untuk hiburan atau nongkrong setiap bulannya.
Dengan begitu, kegiatan bersosialisasi tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Nongkrong Boleh, Keuangan Tetap Harus Sehat
Generasi Z sebenarnya tidak harus memilih antara menikmati kehidupan atau mengatur keuangan. Keduanya bisa berjalan bersama selama dilakukan dengan seimbang.
Menurut saya, nongkrong bersama teman boleh saja, membeli makanan yang disukai juga tidak masalah. Namun, jangan sampai keinginan untuk mengikuti gaya hidup membuat kita lupa dengan kebutuhan yang lebih penting, seperti biaya pendidikan, transportasi, tabungan, atau kebutuhan sehari-hari.
Pada akhirnya, pengelolaan keuangan bukan tentang seberapa sedikit kita mengeluarkan uang, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan uang dengan bijak.
Jadi, kalau ada yang mengajak “nongkrong yuk?”, tidak perlu langsung takut saldo berkurang. Nongkrong boleh, mengikuti tren juga boleh. Yang penting, jangan sampai tanggal tua datang lebih cepat daripada gajian.
