Nongkrong Terus, Keuangan Boncos? Saatnya Gen Z Belajar Mengatur Uang

Mahasiswi S1 Universitas Pamulang. Saya adalah pribadi yang suka akan eksplorasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Vinessa Christalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nongkrong, Sudah Jadi Gaya Hidup Gen Z
Bagi sebagian besar Generasi Z (Gen Z), nongkrong telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rutinitas sehari-hari. Entah setelah pulang kuliah, selesai bekerja, atau sekadar mengisi waktu luang bersama teman-teman, ajakan sederhana seperti “Nongkrong, yuk!” sering kali terasa sulit untuk ditolak.
Nongkrong memang bukan hal yang buruk. Selain menjadi sarana untuk melepas penat, kegiatan ini juga dapat mempererat hubungan sosial dan menjaga kedekatan dengan teman. Namun, jika dilakukan terlalu sering tanpa perencanaan, kebiasaan tersebut bisa berdampak pada kondisi keuangan. Pengeluaran kecil yang terlihat sepele justru dapat menumpuk dan menguras isi dompet tanpa disadari.
Pengeluaran Kecil yang Lama-Lama Membesar
Sekali nongkrong, seseorang mungkin hanya mengeluarkan Rp50.000. Jumlah tersebut terlihat tidak terlalu besar. Namun, jika dilakukan sebanyak 12 kali dalam sebulan, total pengeluarannya mencapai Rp600.000. Belum termasuk biaya transportasi, parkir, atau pengeluaran tambahan lainnya.
Bagi mahasiswa atau pekerja muda yang masih memiliki penghasilan terbatas, jumlah tersebut tentu cukup berarti. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan, kebutuhan sehari-hari, atau dana darurat justru habis untuk memenuhi keinginan sesaat. Tanpa disadari, kebiasaan nongkrong yang tidak terkontrol dapat membuat kondisi keuangan semakin sulit dikelola.
FOMO dan Tren Media Sosial: Pemicu Gaya Hidup Konsumtif
Gen Z hidup di tengah perkembangan media sosial yang begitu cepat. Berbagai tren mudah ditemukan di TikTok maupun Instagram, mulai dari kafe estetik yang baru dibuka hingga makanan dan minuman yang sedang viral. Konten-konten tersebut sering kali menimbulkan keinginan untuk ikut mencoba, meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Fenomena ini berkaitan dengan FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Akibatnya, sebagian orang terdorong untuk mengeluarkan uang bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin tetap mengikuti perkembangan tren dan merasa menjadi bagian dari lingkaran pertemanan.
Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini dapat membentuk pola konsumsi yang tidak sehat. Keputusan keuangan akhirnya lebih banyak didasarkan pada keinginan untuk mengikuti orang lain daripada mempertimbangkan kemampuan diri sendiri.
Gengsi dan Tekanan Pertemanan, Musuh Tersembunyi Dompet Gen Z
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar Gen Z dalam mengelola keuangan adalah rasa gengsi dan ketakutan akan tersisih dari lingkungan pertemanan. Terkadang, seseorang memaksakan diri untuk hadir dalam setiap ajakan nongkrong karena takut dianggap tidak asyik, kurang bergaul, atau bahkan dijauhi oleh teman-temannya.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan kemampuan finansial yang berbeda. Ada yang sudah memiliki penghasilan tetap, ada yang masih bergantung pada uang saku orang tua, dan ada pula yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri.
Karena itu, kita perlu memahami bahwa tidak semua ajakan harus dipenuhi. Menjaga hubungan pertemanan tidak seharusnya mengorbankan kestabilan keuangan. Teman yang baik semestinya dapat memahami batas kemampuan kita tanpa menjadikan kondisi finansial sebagai bahan perbandingan atau lelucon.
Mindful Spending: Bukan Berhenti Nongkrong, tetapi Lebih Bijak
Mengatur keuangan bukan berarti harus mengurung diri di rumah atau berhenti nongkrong sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah menerapkan *mindful spending*, yaitu kebiasaan membelanjakan uang secara sadar dengan mempertimbangkan kebutuhan, prioritas, dan kemampuan finansial.
Salah satu caranya adalah menentukan anggaran khusus untuk hiburan setiap bulan. Misalnya, jika anggaran nongkrong ditetapkan sebesar Rp200.000, kita perlu menyesuaikan frekuensi dan pilihan tempat nongkrong agar tidak melampaui batas tersebut. Kita juga bisa memilih tempat yang lebih terjangkau, membawa uang sesuai anggaran, atau mengusulkan kegiatan alternatif seperti berkumpul di rumah teman.
Selain itu, kita perlu membiasakan diri untuk berani menolak ajakan ketika kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan. Mengatakan, “Maaf, gue skip dulu ya. Bulan ini lagi ngerem pengeluaran,” seharusnya menjadi hal yang wajar. Tidak perlu merasa malu hanya karena memilih untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan uang.
Pertemanan Sehat, Keuangan Aman, Masa Depan Lebih Terarah
Pada akhirnya, nongkrong dan mengikuti tren bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Keduanya tetap bisa dinikmati selama dilakukan dengan bijak dan tidak mengganggu kebutuhan utama. Kuncinya terletak pada kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan, mengendalikan gengsi, serta memahami batas kemampuan finansial diri sendiri.
Lingkaran pertemanan yang sehat adalah lingkungan yang mendukung perkembangan diri dan menghargai keputusan masing-masing, termasuk keputusan untuk berhemat. Kita tidak perlu terus-menerus mengeluarkan uang demi mendapatkan pengakuan sosial atau membuktikan bahwa kita mampu mengikuti gaya hidup orang lain.
Nongkrong boleh, mengikuti tren juga boleh. Namun, jangan sampai tanggal tua datang lebih cepat daripada hari gajian. Sebab, keberhasilan mengelola keuangan bukan tentang seberapa sering kita terlihat menikmati hidup, melainkan tentang bagaimana kita tetap bisa menikmati hari ini tanpa mengorbankan kebutuhan dan masa depan.
