Konten dari Pengguna

Junk Food dan Minimnya Aktivitas Fisik Remaja Mager yang Picu Obesitas

Vinny Vera

Vinny Vera

Chasing stories, one headline at a time, with a cup of coffee in hand.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vinny Vera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Junk Food dan Minimnya Aktivitas Fisik Remaja Mager yang Picu Obesitas (Foto: i yunmai on Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Junk Food dan Minimnya Aktivitas Fisik Remaja Mager yang Picu Obesitas (Foto: i yunmai on Unsplash)

Coba ingat-ingat kembali, seberapa sering kamu mengkonsumsi mi instan dalam seminggu? Berapa banyak minuman bersoda yang masuk ke tubuhmu? Atau, berapa jumlah potong fried chicken dan kentang goreng yang kamu pesan dari restoran cepat saji terkenal lewat aplikasi online?

Memang, makanan dan minuman tersebut sangat menggiurkan. Selain karena rasanya yang enak dan gurih, makanan tersebut juga mudah didapat, cepat, dan praktis. Namun, junk food disebut sebagai junk (sampah) food (makanan) bukan tanpa alasan. Tingginya kadar gula, garam, lemak, protein, dan kalori yang terkandung pada junk food, serta rendahnya jumlah serat akan menimbulkan masalah gizi jika dikonsumsi secara terus-menerus. Minimnya angka serat, vitamin, dan mineral yang ditawarkan oleh junk food membuat jenis konsumsi ini dikenal dengan istilah nol kalori, yang artinya adalah makanan yang memiliki kalori yang tinggi tapi rendah kandungan zat gizi mikro.

Tingkat konsumsi junk food pada remaja belakangan ini tergolong tinggi, dengan rata-rata konsumsi tiga sampai empat kali dalam sebulan. Jenis junk food yang sering dikonsumsi oleh para remaja meliputi mi instan, fried chicken, gorengan, kentang goreng, burger, dan lain-lain. Bahkan, sebagian remaja mengaku junk food termasuk makanan yang menjadi favorit mereka.

Konsumsi junk food tentunya memunculkan dilematis tersendiri. Di balik rasa dan efisiensi yang ditawarkan, junk food yang tinggi gula, garam dan lemak sangat kontradiktif dengan acuan konsumsi makan dalam Pedoman Gizi Seimbang. Berbagai macam penyakit dapat timbul akibat dari konsumsi junk food berlebih, seperti kolesterol, peningkatan tekanan darah, stroke, penyakit jantung, dan yang paling sering dialami oleh remaja; obesitas.

Obesitas Bukan Simbol Makmur

Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan masifnya peningkatan penderita obesitas. Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, pada tahun 2007, perbandingan bobot tubuh lebih (overweight) dan obesitas pada usia >18 tahun menghadapi eskalasi persentase sebesar 10,5% dan pada tahun 2013 menyentuh angka hingga 14,8%. Pada tahun 2018, peningkatannya kian melonjak. Dihitung dengan indikator IMT ≥27 angkanya berada di 21,8%. Sementara itu, fenomena obesitas pada remaja dalam rentang usia 16-18 tahun yang sebelumnya hanya mencapai 1,6%, kemudian mengalami kenaikan menjadi 4% pada tahun 2018.

Obesitas seringkali dianggap remeh oleh masyarakat Indonesia. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kultur pemahaman sejak zaman nenek moyang yang cenderung menganggap orang dengan berat badan berlebih sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Pandangan seperti ini harus dibuang jauh-jauh, sebab jika ditinjau dari perspektif kesehatan, obesitas merupakan imbas dari adanya ketidakseimbangan energi. Sesuai dengan yang dikatakan oleh World Health Organization (WHO) dalam laman kemenkes.go.id, yang mendefinisikan obesitas sebagai penimbunan lemak yang terlalu tinggi karena ketidakseimbangan antara asupan energi (energy intake) dan energi yang dikeluarkan (energy expenditure) dalam jangka panjang.

Obesitas berlangsung saat kondisi energi yang diterima oleh tubuh tidak sebanding; cenderung jauh, melampaui energi yang dikeluarkan. Karbohidrat adalah salah satu zat gizi makro, yaitu sumber energi krusial untuk tubuh. Timbunan asupan protein dan karbohidrat menjadi pemicu obesitas pada remaja. Dalam kondisi ini, intensitas jumlah karbohidrat menjadikan zat glukosa ditempatkan dalam wujud trigliserida di jaringan adiposa. Konsumsi protein yang berlebih melampaui kebutuhan menyebabkan protein akan ditempatkan di jaringan adiposa. Lemak di dalam tubuh bertransformasi menjadi asam lemak bebas dan disimpan dalam bentuk trigliserida di jaringan adiposa.

Buang Rasa Mager Demi Tubuh Tetap Fit

Pemerintah dan pakar kesehatan tampaknya belum menemukan formula yang ampuh untuk mengatasi tingginya angka obesitas di Indonesia, khususnya pada usia remaja. Apalagi hal ini berkaitan dengan kebiasaan dan pola hidup manusia yang sukar untuk dikendalikan melalui lingkup eksternal. Butuh kesadaran dari tiap pribadi untuk menjaga asupan gizi dan keseimbangan energi.

Tidak sedikit remaja yang lebih memilih untuk berbaring seharian gadget mereka ketimbang beraktivitas fisik apalagi melakukan olahraga dengan dalih mager (malas gerak). Kata mager sendiri menyiratkan tidak mau atau ragu-ragu untuk melakukan suatu kegiatan. Karena aktivitas fisik termasuk salah satu unsur yang dapat meningkatkan kebutuhan energi (energy expenditure), maka obesitas lebih mungkin terjadi jika tingkat aktivitas fisik yang dilakukan minim.

Aktivitas fisik dapat dimaknai sebagai pergerakan tubuh minimal sehingga kebutuhan energi juga minimal. Perilaku pasif meliputi hal-hal seperti menonton televisi, membaca, menggunakan komputer, melakukan panggilan telepon, dan kegiatan sejenisnya. Aktivitas tersebut cenderung menyebabkan berat badan bertambah. Pada orang dengan berat badan normal, aktivitas fisik memiliki dampak 30% pada penggunaan energi, tetapi pada orang gemuk, hal itu menjadi jauh lebih signifikan. Olahraga sangat penting untuk dilakukan, tidak hanya untuk membakar kalori, tetapi juga mengontrol metabolisme tubuh.

Mulailah dengan aktivitas fisik sederhana seperti melakukan pekerjaan rumah; menyapu lantai, mencuci piring, mencuci baju, membersihkan halaman, dan sebagainya, yang dapat membuat tubuh berkeringat dan membakar kalori yang mengendap. Setelah itu, boleh tingkatkan ke olahraga dengan level sedang seperti jalan santai, jogging, skipping, atau bersepeda. Semua sangat mungkin dilakukan jika kamu berusaha untuk membuang jauh rasa mager dan mulai bergerak demi kebaikan dan kesehatan diri sendiri.

Eksistensi junk food mustahil untuk dihilangkan. Permasalahannya tentu bukan terletak pada keberadaan junk food, apalagi industrinya. Masalahnya terletak pada individu yang mengkonsumsinya, entah dari segi kuantitas, atau pola hidup yang tidak selaras dengan banyaknya makanan yang ditelan. Secara tidak sadar, obesitas seolah menjadi “gerbang” masuknya berbagai penyakit di dalam tubuh. Obesitas yang dialami remaja pasti bisa diatasi dengan menanamkan mindset bahwa menerapkan hidup sehat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga komitmen. Sekarang pilihannya ada di tangan masing-masing, mengkonsumsi junk food dan tetap memiliki tubuh yang sehat dengan perbanyak aktivitas fisik, atau bebas mengkonsumsi junk food namun obesitas.