Konten dari Pengguna

Teknologi yang Semakin Pintar dan Manusia yang Terancam Dilupakan

Vinsensius SFil MM

Vinsensius SFil MM

Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vinsensius SFil MM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup di masa ketika teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk bertanya. Mesin semakin cerdas, sistem semakin efisien, dan algoritma semakin menentukan arah hidup. Namun justru di tengah kemajuan itu, ada kegelisahan yang sulit diabaikan: apakah manusia masih menjadi pusat dari semua perkembangan ini, atau hanya sekadar bagian kecil dari sistem yang terus membesar?

Teknologi sering dipuja sebagai solusi. Ia menjanjikan kecepatan, kemudahan, dan kemajuan. Dalam dunia industri, teknologi dianggap mampu meningkatkan produktivitas. Dalam ruang digital, ia dipandang sebagai alat pembebasan. Tetapi realitas sehari-hari tidak selalu seindah narasi itu. Lingkungan rusak atas nama efisiensi, manusia tersingkir oleh mekanisme kerja, dan relasi sosial perlahan berubah menjadi relasi data.

Di titik inilah teknologi tidak lagi netral. Ia membawa cara berpikir tertentu: segala sesuatu diukur dari fungsi, keuntungan, dan efektivitas. Ketika logika ini dibiarkan mendominasi, manusia berisiko direduksi menjadi angka, target, atau komponen produksi. Kita mulai menilai hidup bukan dari makna, tetapi dari performa.

Pemikir Jürgen Habermas pernah mengingatkan bahwa persoalan utama teknologi bukan terletak pada alatnya, melainkan pada cara rasionalitas teknis menguasai ruang hidup manusia. Ketika semua hal diperlakukan seperti mesin yang harus dioptimalkan, maka nilai-nilai kemanusiaan perlahan tersingkir. Percakapan digantikan instruksi, musyawarah diganti prosedur, dan kebijaksanaan kalah oleh kecepatan.

Situasi ini terasa dekat dengan pengalaman kita hari ini. Media sosial, misalnya, memberi ruang bicara, tetapi sekaligus membentuk cara kita berpikir dan bereaksi. Kita terdorong untuk cepat menilai, cepat marah, dan cepat lupa. Teknologi yang seharusnya memperluas dialog justru sering mempersempit pemahaman.

Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada sikap kita yang terlalu mudah menyerahkan arah hidup kepada sistem. Kita jarang bertanya: untuk siapa teknologi ini dikembangkan? Siapa yang diuntungkan? Dan siapa yang diam-diam dikorbankan?

Karena itu, teknologi perlu dimanusiakan kembali. Bukan dengan menolaknya, tetapi dengan menempatkannya dalam kerangka tanggung jawab etis. Teknologi harus melayani kehidupan, bukan sebaliknya. Ia seharusnya membantu manusia hidup lebih bermakna, bukan sekadar lebih cepat dan lebih sibuk.

Memanusiakan teknologi berarti berani memperlambat langkah untuk berpikir. Berani mengkritik kemajuan yang merugikan martabat manusia dan lingkungan. Dan berani menegaskan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan oleh teknologi memang layak dilakukan.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan terletak pada seberapa canggih sistem yang kita bangun, tetapi pada seberapa manusiawi kehidupan yang kita jaga. Teknologi boleh berkembang sejauh mungkin, tetapi manusia tidak boleh kehilangan tempatnya sebagai tujuan, bukan alat.