Begini Rasanya Jadi Diplomat Indonesia di Rusia: Hidup di Tengah Konflik

Diplomat at the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. Part of Sesdilu 79
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vinsensius Shianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bulan Februari 2022, setelah satu setengah tahun bertugas sebagai diplomat di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Moskow, saya mulai merasa betah tinggal di Rusia. Negara ini ternyata jauh dari kesan suram dan menyeramkan yang sering digambarkan dalam film-film Hollywood. Moskow adalah kota metropolitan yang bersih, aman, dan modern, dipenuhi kafe, bar, serta pusat perbelanjaan yang dipenuhi barang-barang bermerek dari Amerika dan Eropa.

Suatu pagi, suasana itu tiba-tiba berubah. Saya terkejut menerima pesan di grup WhatsApp KBRI berisi berita tentang dimulainya operasi militer Rusia di Ukraina. Kami segera mengadakan rapat untuk menyiapkan rencana kontinjensi bagi Warga Negara Indonesia di Rusia. Pesan dari keluarga dan teman di tanah air berdatangan menanyakan keadaan kami. Jawaban kami sederhana: “Keadaan di Moskow aman, kami masih beraktivitas seperti biasa.”
Situasi global berkembang cepat. Negara-negara Barat merespons dengan menerapkan ribuan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia, mulai dari larangan ekspor-impor, pembatasan perbankan, hingga penutupan wilayah udara bagi maskapai Rusia. Saya merasakan langsung bagaimana kehidupan di Rusia berubah. Beberapa bahan pokok seperti gula dan terigu sempat mengalami kekosongan di supermarket, nilai tukar rubel terhadap dolar AS melemah tajam, sistem transfer antarnegara terhenti, dan banyak merek terkenal seperti McDonald’s, Zara, dan Starbucks memilih keluar dari Rusia.
Perubahan ini juga dirasakan oleh kami, para diplomat Indonesia yang tinggal di Rusia. Kami mengalami kesulitan mentransfer gaji ke Indonesia, menarik mata uang asing, dan mendapatkan penerbangan internasional untuk kembali ke tanah air. Saya masih ingat harus menunggu beberapa bulan untuk menarik uang tunai dalam valuta asing, akibat adanya pembatasan transaksi oleh pemerintah Rusia.
Namun tidak butuh waktu lama bagi Rusia untuk pulih. Dalam waktu dua minggu, kebutuhan pokok di rak-rak supermarket kembali terisi dengan berbagai produk lokal. Bisnis pakaian dan makanan dalam negeri dengan cepat menggantikan merek-merek dagang asing yang hengkang, bahkan beberapa menawarkan kualitas yang lebih baik. Nilai rubel yang sempat melemah pun kembali menguat hingga melampaui posisi sebelum konflik.
Dari pengalaman itu, saya menyadari satu hal penting: masyarakat Rusia punya resiliensi yang luar biasa. Dalam tekanan sanksi yang berat, mereka tidak panik. Mereka beradaptasi, berinovasi dan menumbuhkan kemandirian ekonomi. Indonesia tentu tidak mendukung adanya konflik, tetapi ada pelajaran yang bisa kita petik dari situasi ini, yaitu pentingnya membangun ketahanan nasional melalui swasembada pangan, penguatan industri dan UMKM, diversifikasi mitra dagang, serta pengembangan sistem keuangan alternatif.
Selalu ada dua sisi dalam setiap peristiwa. Masyarakat Rusia tidak seragam dalam pandangan mereka terhadap konflik. Banyak di antara mereka memiliki kerabat di Ukraina dan berharap perdamaian segera tercapai. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi diplomat bukan hanya soal memahami politik, tetapi juga tentang memahami manusia. Di tengah konflik dan sanksi, kehidupan tetap berjalan.
