Konten dari Pengguna

Opini Publik vs Fakta, Mengapa Cancel Culture Semakin Marak?

Viola Aurelia Meidianty

Viola Aurelia Meidianty

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Viola Aurelia Meidianty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Media Sosial (Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Media Sosial (Canva)

Akhir-akhir ini, fenomena cancel culture semakin sering muncul di media sosial. Seseorang bisa tiba-tiba menjadi sasaran kritik massal hanya karena satu potongan video atau unggahan yang viral. Dalam waktu singkat, opini publik langsung terbentuk, bahkan sebelum informasi yang utuh benar-benar dipahami.

Secara sederhana, cancel culture adalah bentuk pengucilan sosial terhadap seseorang, biasanya figur publik, akibat tindakan atau pernyataan yang dianggap melanggar norma. Fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk modern dari “boikot”, di mana publik secara bersamaan menarik dukungan dan memberikan sanksi sosial di ruang digital.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam, persoalan utama dari cancel culture bukan hanya pada tindakan “membatalkan” seseorang, melainkan pada cara masyarakat membentuk penilaian. Di era digital, proses berpikir sering kali menjadi sangat singkat. Informasi yang belum lengkap sudah cukup untuk dijadikan dasar kesimpulan.

Dalam logika penyelidikan ilmiah, kesimpulan tidak boleh diambil secara instan. Dibutuhkan proses yang melibatkan pengumpulan data, verifikasi, serta analisis yang rasional. Sayangnya, pola ini jarang diterapkan dalam interaksi di media sosial. Banyak orang lebih mengandalkan kesan pertama daripada melakukan penelusuran lebih lanjut.

Ilustrasi Ikut Arus (Canva)

Dari perspektif psikologi, hal ini dapat dipahami sebagai kecenderungan berpikir cepat. Individu cenderung menyederhanakan informasi agar lebih mudah diproses. Selain itu, adanya dorongan untuk menyesuaikan diri dengan mayoritas membuat seseorang lebih mudah mengikuti opini yang sudah ramai berkembang.

Faktor emosi juga memperkuat fenomena ini. Konten yang memicu kemarahan atau kekecewaan cenderung lebih cepat menyebar. Dalam kondisi emosional, individu lebih rentan mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Akibatnya, penilaian yang terbentuk sering kali tidak lagi rasional.

Ilustrasi Kehilangan Reputasi (Canva)

Masalahnya, ketika opini publik terbentuk terlalu cepat, dampaknya bisa besar. Seseorang bisa kehilangan reputasi, kesempatan, bahkan relasi sosial, hanya dari informasi yang belum tentu utuh.

Lalu, sebagai mahasiswa dan tentunya masyarakat, kita harus bagaimana?

Mungkin kita nggak bisa menghentikan cancel culture, tapi kita bisa mulai dari cara kita sendiri menyikapi informasi. Ada beberapa hal sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan, meskipun kadang susah juga buat dipraktikkan.

  1. Menunda Reaksi Awal

Biasanya, reaksi awal kita itu yang paling emosional. Entah langsung marah, setuju, atau ikut komentar. Padahal, justru di momen itu kita perlu jeda. Nggak semua hal harus langsung ditanggapi saat itu juga.

  1. Memahami Konteks Secara Utuh

Banyak informasi di media sosial itu bentuknya potongan. Video dipotong, tulisan di-screenshot, lalu disebarkan tanpa penjelasan lengkap. Kalau cuma dari situ kita langsung menilai, besar kemungkinan kita salah paham.

  1. Membedakan Fakta dan Opini

Ini kelihatannya simpel, tapi sering banget ketukar. Banyak yang terlihat seperti “fakta”, padahal sebenarnya opini orang lain yang dikemas seolah-olah benar. Di sini penting banget untuk lebih hati-hati.

  1. Menghindari Konformitas Berlebihan

Kalau semua orang bilang A, bukan berarti A itu pasti benar. Bisa jadi memang benar, tapi bisa juga cuma efek ramai saja. Di sinilah pentingnya punya jarak dari opini mayoritas.

  1. Mengelola Respons di Ruang Digital

Kadang kita merasa perlu ikut berpendapat di semua hal yang viral. Padahal, diam juga bisa jadi pilihan yang lebih bijak, apalagi kalau kita belum punya informasi yang cukup.

Ilustrasi Kemampuan Tidak Terburu Buru (Canva)

Pada akhirnya, cancel culture bukan cuma soal siapa yang benar atau salah, tapi juga soal bagaimana kita sebagai individu berpikir. Di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk tidak terburu-buru justru jadi hal yang penting.

Dan mungkin, di tengah semua kebisingan opini di media sosial, jadi orang yang sedikit lebih pelan dalam berpikir itu bukan kelemahan, tapi justru kekuatan.