Konten dari Pengguna

AI dan Mahasiswa: Ketika Kemudahan Mulai Menggeser Proses Berpikir

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Widiawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Diolah oleh penulis menggunakan Artificial Intelligence melalui OpenAI ChatGPT.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Diolah oleh penulis menggunakan Artificial Intelligence melalui OpenAI ChatGPT.

Dalam era digitalisasi saat ini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) semakin marak digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. AI kini semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Kehadirannya membuat berbagai aktivitas akademik menjadi jauh lebih mudah. Mencari ide, memahami materi yang sulit, membuat rangkuman, memperbaiki tulisan, hingga melakukan brainstorming dapat dilakukan dengan bantuan AI dalam waktu singkat. Bagi mahasiswa, teknologi ini tentu memberikan kemudahan yang sebelumnya tidak tersedia.

Namun, di balik kemudahan tersebut, ada pertanyaan yang menurut penulis perlu mulai kita pikirkan:

Apakah AI membantu mahasiswa untuk berpikir, atau justru perlahan membuat mahasiswa tidak lagi terbiasa berpikir?

Sebagai mahasiswa, penulis sendiri tidak dapat mengatakan bahwa penggunaan AI selalu buruk. Penulis juga menggunakannya untuk membantu memahami hal-hal yang belum dipahami atau ketika sedang mencari sudut pandang baru. Dalam kondisi seperti itu, AI terasa seperti teman diskusi yang selalu tersedia ketika dibutuhkan.

Masalahnya muncul ketika AI tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, tetapi menjadi jalan pintas.

Hal tersebut cukup mudah ditemukan dalam kehidupan perkuliahan. Misalnya dalam forum diskusi atau tugas yang diberikan dosen. Pertanyaan yang sebenarnya masih dapat dijawab dengan membaca kembali materi perkuliahan terkadang langsung diajukan kepada AI. Jawabannya kemudian disalin, sedikit diubah, lalu dikumpulkan.

Fenomena seperti ini membuat penulis berpikir bahwa persoalannya bukan sekadar apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana AI digunakan dalam proses belajar.

Ada perbedaan antara mahasiswa yang mencoba memahami sebuah pertanyaan terlebih dahulu, kemudian menggunakan AI untuk mencari sudut pandang tambahan, dengan mahasiswa yang bahkan belum mencoba berpikir tetapi langsung meminta AI memberikan jawaban.

Keduanya sama-sama menggunakan AI, tetapi proses belajarnya jelas berbeda.

Ketika kebiasaan mendapatkan jawaban secara instan terus dilakukan, ada kemungkinan proses yang seharusnya terjadi sebelum memperoleh jawaban justru semakin jarang dilakukan. Membaca, mencari sumber, membandingkan informasi, menyusun argumen, mempertanyakan jawaban, hingga berdiskusi dengan orang lain merupakan bagian dari proses berpikir yang tidak kalah penting dibandingkan jawaban akhirnya.

UNESCO menekankan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan perlu berlandaskan pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centred approach). Artinya, manusia tetap memiliki kendali dalam memanfaatkan teknologi, sementara AI digunakan untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikan peran manusia di dalamnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan AI dalam pendidikan seharusnya tidak membuat mahasiswa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi. AI memang dapat membantu memahami materi, mencari informasi, atau menemukan sudut pandang baru. Namun, kemampuan untuk memahami, mempertanyakan, dan mengevaluasi informasi tetap perlu dimiliki oleh mahasiswa.

Di sinilah kemampuan berpikir kritis menjadi penting. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi bukan berarti setiap informasi yang diberikan selalu benar. Mahasiswa tetap perlu memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan menggunakan penalarannya sendiri. UNESCO juga mendorong peserta didik untuk mampu mempertanyakan dan mengevaluasi keluaran AI, bukan sekadar menerimanya begitu saja.

Hal ini penting karena pendidikan pada dasarnya tidak hanya bertujuan menghasilkan mahasiswa yang mampu menemukan jawaban. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya membentuk kemampuan untuk bertanya, menganalisis, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan. Karena itu, kemampuan berpikir tetap perlu menjadi bagian utama dari proses belajar, meskipun AI semakin mudah digunakan.

Bahkan penelitian terbaru mengenai AI dalam pendidikan menunjukkan bahwa pengaruh AI terhadap kemampuan berpikir kritis tidak sesederhana “AI pasti membuat mahasiswa lebih pintar” atau “AI pasti membuat mahasiswa malas”. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana AI digunakan. AI dapat mendukung kemampuan berpikir kritis ketika mahasiswa tetap diminta mempertanyakan, mengevaluasi, dan memperbaiki hasil yang diberikan AI. Sebaliknya, penggunaan yang tidak terarah dapat mendorong mahasiswa untuk menyerahkan sebagian proses berpikirnya kepada teknologi.

Karena itu, menurut penulis, mahasiswa tidak perlu memilih antara menggunakan AI atau menolak AI. Pilihan yang lebih penting adalah belajar menggunakan AI secara bertanggung jawab.

AI dapat digunakan untuk mencari ide, tetapi ide tersebut tetap perlu dikembangkan sendiri. AI dapat membantu menjelaskan materi, tetapi mahasiswa tetap perlu memahami penjelasannya. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi isi dan argumentasi tetap harus dipahami oleh orang yang menggunakannya.

Hal ini juga berkaitan dengan peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Kemampuan berpikir kritis tidak hanya dibutuhkan ketika mengerjakan tugas atau mengikuti ujian. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan ketika mahasiswa menghadapi berbagai informasi di luar kampus, termasuk berita, isu sosial, kebijakan publik, dan informasi yang beredar di media sosial.

Jika sejak di bangku perkuliahan kita terbiasa menerima informasi tanpa memeriksa dan mempercayai jawaban hanya karena terlihat meyakinkan, kebiasaan tersebut dapat terbawa ke kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, jika AI digunakan sebagai alat untuk memperluas wawasan sekaligus mendorong kita untuk memeriksa dan mempertanyakan informasi, teknologi justru dapat menjadi bagian dari proses belajar yang lebih baik.

Pada akhirnya, penggunaan AI dalam dunia pendidikan bukanlah persoalan tentang seberapa sering mahasiswa menggunakannya, melainkan tentang apakah penggunaan tersebut masih memberi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir. Kemudahan yang diberikan AI seharusnya tidak membuat proses belajar menjadi semakin singkat, tetapi justru memberi kesempatan untuk belajar dengan cara yang lebih efektif. Mahasiswa tetap perlu membaca, bertanya, meragukan, membandingkan, dan menyusun pemikirannya sendiri. Sebab, kemampuan tersebut tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada teknologi.

AI yang semakin pintar tidak otomatis membuat manusia semakin bijak. Teknologi dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi keputusan untuk menerima, mempertanyakan, atau memeriksa jawaban tersebut tetap berada di tangan manusia.

Mungkin persoalan terbesar bukan ketika mahasiswa menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban. Persoalannya adalah ketika mahasiswa tidak lagi merasa perlu mencari tahu bagaimana jawaban tersebut diperoleh. AI seharusnya membuat mahasiswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar, bukan membuat mahasiswa memiliki lebih sedikit alasan untuk berpikir.