Konten dari Pengguna

Prinsip Belajar dalam Proses Belajar

Virah Elya

Virah Elya

mahasiswa universitas sriwijaya

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Virah Elya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : pixabay.com

Rothwal A.B Pada Tahun 1961 menyampaikan pandangannya mengenai prinsip-prinsip belajar yang terkait dengan proses pembelajaran. Garis besar prinsip-prinsip ini umumnya berlaku dalam proses belajar (Nurfatonah, 2014). Penerapan prinsip-prinsip ini bertujuan agar berbagi pengetahuan dapat memberikan nilai tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi para pendidik.

Prinsip-prinsip belajar yang berhubungan dengan proses belajar dibagi menjadi sepuluh prinsip :

1. Prinsip Kesiapan

Setiap siswa memiliki keunikan tersendiri. Kematangan, pertumbuhan fisik, latar belakang intelektual, pengalaman, motivasi, persepsi, dan faktor lainnya membuat kesiapan masing-masing siswa dalam mengikuti pembelajaran berbeda. Sebagai contoh, seorang siswa A yang berusia 8 tahun mungkin tidak lebih siap daripada siswa B yang berusia 6 tahun. Kesiapan siswa sangat penting untuk keberhasilan mereka dalam menerima materi pembelajaran di sekolah.

2. Prinsip Motivasi

Motivasi dipahami sebagai pendorong yang memicu keinginan manusia, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Dalam konteks pembelajaran, motivasi belajar memiliki hubungan langsung dengan pencapaian belajar. Motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis: Motif Primer, yang bersifat reflektif dan bawaan, dan Motif Sekunder, yang berkembang melalui pengalaman yang dipelajari (Darmawan, 2014).

3. Prinsip Persepsi

Setiap manusia memiliki pandangan unik terhadap segala hal. Persepsi merupakan interpretasi kehidupan. Dalam pendidikan, persepsi subjektif tidak diperlukan karena dapat menghambat kualitas pembelajaran. Pendekatan objektif dari pendidik terhadap siswa akan mempermudah pemahaman perilaku siswa dari sudut pandang yang berbeda.

4. Prinsip Tujuan

Tujuan pembelajaran mencakup perubahan perilaku, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan, dan sikap. Tujuan ini menjadi landasan bagi pelaksanaan pendidikan agar terarah dan terkoordinasi. Dalam kurikulum merdeka belajar, terdapat tiga kompetensi utama: 1) Kompetensi Merdeka Belajar; 2) Kompetensi Merdeka Berkolaborasi; dan 3) Kompetensi Merdeka Berkarya.

5. Prinsip Perbedaan Individual

Setiap individu terlahir dengan perbedaan. Pendidik, melalui pengalaman, memahami bahwa setiap siswa adalah aset berharga bagi bangsa. Jika kecerdasan hanya diukur dari nilai akademik, maka pendidikan akan menghambat kemajuan. Setiap siswa memiliki bidang kecerdasannya masing-masing, dan pendidik berfungsi sebagai pendamping untuk membantu siswa menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Keterampilan yang diperlukan pendidik di era industri 4.0 meliputi fleksibilitas, adaptasi teknologi, etos kerja, pemecahan masalah, etika kerja, dan komunikasi.

6. Prinsip Transfer, Retensi, dan Tantangan

Transfer pengetahuan untuk nilai, sementara retensi berarti penggunaan kembali nilai yang diperoleh. Proses transfer pengetahuan yang berpusat pada pembelajaran membentuk siklus yang berkelanjutan. Pendidikan bertujuan membentuk karakter yang unggul, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab. Pengalaman dan pengetahuan saat ini mempengaruhi daya tahan anak terhadap tantangan di masa depan.

7. Prinsip Belajar Kognitif

Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir. Kemampuan kognitif siswa dapat dilihat melalui daya tangkap dan daya ingat. Ciri-ciri pemikir kognitif meliputi kemampuan berpikir lancar, luwes, orisinil, dan terperinci. Kognitif dapat dilatih dengan memberikan stimulus yang sesuai. Untuk hasil pembelajaran yang optimal, pendidik perlu memastikan teknik pengajaran dan materi sesuai dengan kemampuan siswa.

8. Prinsip Belajar Afektif

Domain afektif mencakup emosi, nilai, apresiasi, motivasi, dan sikap. Pendidikan menganggap bahwa aspek afektif penting untuk pengembangan pribadi siswa. Mengabaikan aspek ini dapat menimbulkan masalah moral di masa depan. Keterampilan afektif menjadi penyeimbang bagi kemampuan kognitif, di mana kecerdasan intelektual (IQ) memerlukan kontrol dari kecerdasan emosional (EQ).

9. Prinsip Belajar Evaluasi

Penjaminan mutu dilakukan melalui evaluasi untuk menilai pencapaian program. Evaluasi penting dalam proses belajar, tidak hanya untuk mengukur tujuan tetapi juga sebagai dasar pengambilan keputusan. Evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan untuk meminimalkan dampak negatif. Sistem penilaian saat ini di Indonesia masih mengandalkan tes, yang memberikan angka capaian. Oleh karena itu, sistem penilaian harus dilaksanakan dengan baik dan adil. Perencanaan strategi pembelajaran bagi pendidik harus berdasarkan evaluasi capaian siswa, sedangkan sistem penilaian yang terarah dapat mendukung motivasi dan apresiasi siswa.

10. Prinsip Belajar Psikomotor

Siswa yang memiliki keterampilan dalam gerakan fisik dan kekuatan otot menunjukkan kemampuan psikomotor yang lebih baik dibandingkan dengan aspek kognitif. Ada enam tahap keterampilan psikomotor: gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi non-diskursif. Penilaian hasil belajar psikomotor mencakup persiapan, proses, dan produk, yang dilakukan secara bertahap melalui observasi.

Referensi :

Darmawan, D. (2014). Prinsip-prinsip motivasi dalam pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nurfatonah. (2014). Prinsip-prinsip dalam proses belajar mengajar. Bandung: Alfabeta.