Konten dari Pengguna

Asal Kolintang, Alat Musik khas Minahasa Sulawesi Utara

Viral Food Travel

Viral Food Travel

Berita viral seputar Food dan Travel

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Viral Food Travel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alat musik kolintang. Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Alat musik kolintang. Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta

Sudahkah kamu tahu asal dari alat musik Kolintang? Sudah menjadi rahasia umum bahwa alat musik tradisional ini adalah salah satu warisan kebudayaan masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara.

Kolintang merupakan alat musik yang terbuat dari kayu. Dilansir melalui Kemendikbud, kayu yang digunakan merupakan kayu khusus yang ringan, namun padat. Kayu-kayu ini kemudian disusun di atas alas kayu sebagai resonator.

Alat musik tradisional khas Sulawesi Utara ini secara sekilas mirip dengan gambang yang merupakan alat musik Jawa. Kolintang sendiri dimainkan dengan cara dipukul dan kerap hadir dalam berbagai acara, seperti upacara adat, pertunjukan tari, pertunjukan musik, dan sebagainya.

Asal Kolintang

Alat musik kolintang. Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta

Asal kolintang yang terkenal ini dari daerah Minahasa di Sulawesi Utara. Fakta ini, merujuk jurnal Pelestarian Musik Kolintang di Desa Maumbi Kecamatan Kalawat karya Navaro Hendrik, Shirley Y.V.I. Goni, dan Hendrik W. Pongoh merupakan bagian budaya kesenian gong Asia Tenggara.

Gong ini telah dimainkan selama berabad-abad lamanya di Kepulauan Melayu Timur - Filipina, Indonesia Timur, Malaysia Timur, Brunei, dan Timor.

Perkembangan kolintang juga tak lepas dari masuknya pengaruh Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Barat.

Dirangkum melalui jurnal Rancang Bangun Aplikasi Alat Musik Kolintang menggunakan Augmented Reality berbasis Android (2016) oleh Meylisa Rasjid, Rizal Sengkey, dan Stanley Karouw, pada awalnya kolintang merupakan alat musik yang terdiri atas beberapa potong kayu berjejer yang dimainkan dengan dipangku di kaki pemainnya yang duduk.

Lalu penggunaan peti resonator dimulai sejak Pangeran Diponegoro pergi ke Minahasa pada tahun 1830. Konon, ia bersama rombongannya juga memboyong gamelan dan gambang ke Minahasa.

Alat musik kolintang. Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta

Pemakaian kolintang tidak dapat dipisahkan dari kepecayaan tradisional rakyat Minahasa, sehingga sering digunakan dalam upacara ritual pemujaan arwah leluhur. Namun, saat agama Kristen masuk ke Minahasa, eksistensi kolintang menghilang selama kurang lebih 100 tahun lamanya.

Kolintang kembali muncul setelah perang dunia kedua yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk. Ia menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik yang universal.

Nama kolintang sendiri berasal dari nada rendah yang berbunyi tong, nada tinggi yang berbunyi ting, dan nada biasa yang berbunyi tang. Nama alat musik ini juga diambil dari bahasa daerah mangemo kumolintang yang berarti mari lakukan tong ting tang. Nah, ajakan ini yang kemudian melahirkan istilah kolintang.

Jenis Kolintang

Kolintang terbagi atas sembilan jenis berdasarkan hasil suaranya, yakni:

  1. loway (bass)

  2. cella(cello)

  3. karua (tenor 1)

  4. karua rua (tenor 2)

  5. uner (alto 1)

  6. uner rua (alto 2)

  7. katelu (ukulele)

  8. ina esa (melodi 1)

  9. ina rua (melodi 2)

  10. ina taweng (melodi 3).

Nah, itu tadi asal kolintang yang merupakan alat musik tradisional daerah Minahasa di Sulawesi Utara. Unik bukan?

(SYA)