Dari Usaha Rumahan, Ini 5 Fakta Gudeg Pejompongan yang Kini Untung Rp 300 Juta

Berita viral seputar Food dan Travel
Tulisan dari Viral Food Travel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gudeg menjadi salah satu makanan tradisional yang telah melegenda. Sejak dulu, makanan ini menjadi kesukaan banyak orang di berbagai penjuru Indonesia; meskipun aslinya berasal dari Yogyakarta. Namun, sebuah keluarga berhasil mempertahankan cita rasa gudeg dan menjadikannya usaha kuliner di kota lain.
Misalnya bisnis kuliner melegenda Gudeg Pejompongan yang sudah dipegang oleh generasi ke-3 dari sang pendiri. Bermula dari berjualan di rumah, kini sudah berhasil mendapatkan omzet Rp 300 juta per bulannya. Seperti apa kisahnya? Simak dalam lima fakta berikut, yuk!
1. Berdiri sejak tahun 1964
Nenek Ayuning Tri Astari merupakan perintis dan pemilik dari Gudeg Pejompongan yang melegenda ini. Sejak tahun 1964, beliau sudah mendirikan usaha gudeg yang tidak meninggalkan cita rasa aslinya di dekat RS Benhil. Kala itu, tidak banyak rumah makan yang mampu membantu para pegawai rumah sakit untuk mendapatkan variasi makanan di sana.
Dengan hobi yang dimiliki, kini sang nenek sudah menurunkan bisnis kulinernya kepada 2 generasi lainnya; yakni kepada sang cucu. Dulunya ia menjual dalam bentuk bungkusan, namun lama kelamaan garasinya sudah diperbaiki dan dijadikan tempat makan yang bisa dine in.
2. Tidak gunakan supplier untuk memasok bahan panganan
Gudeg legendaris ini masih menggunakan cara tradisional yakni dengan mengutus karyawan berbelanja di pasar. Para karyawan harus meluangkan waktu pagi-pagi di pasar untuk mencari bahan makanan yang akan diolah kembali menjadi gudeg.
Ternyata hal tersebut yang menjadi salah satu rahasia rasa dari gudeg yang melegenda di area Bendungan Hilir ini.
3. Sang penerus dulunya sempat cuti kuliah demi membantu ibunya
Setiap bisnis kuliner tentu menemukan tantangan masing-masing. Seperti yang dijalani Ayuning Tri Astari atau yang kerap disapa Tyas. Saat sang ibu melanjutkan usaha ini, ia terpaksa cuti dari kuliahnya yang bertempat di Universitas Atma Jaya Jakarta.
Hal tersebut diputuskannya untuk bisa membantu sang ibu membesarkan kuliner asal Yogyakarta ini. Di tambah lagi, ia sedang memasuki semester akhir yang membuatnya menjadi susah fokus untuk mengerjakan tugas akhir.
4. Menggunakan cara tradisional untuk memasarkan kulinernya
Sejak awal berdiri hingga kini, keluarga Tyas tidak menggunakan media sosial untuk meningkatkan promosi bisnisnya. Mereka rajin mengikuti bazar yang dilaksanakan di mal untuk membantu orang mengerti bisnis kuliner ini.
Bahkan mereka tidak ingin mendirikan franchise karena hal tersebut terkesan terlalu instan. Mereka hanya menerima reseller untuk tetap mempertahankan cita rasa produk gudegnya ini.
5. Kini miliki omzet Rp 300 juta setiap bulan
Setelah berdiri dan bertahan sekian lama, Tyas mengaku bahwa mereka bisa mendapatkan omzet sejumlah Rp 300 juta setiap bulannya. Hal tersebut merupakan hasil kerja keras keluarganya untuk bisa mempertahankan pelanggan dan tentunya cita rasa gudeg ini.
30 persen pendapatannya didapat dari layanan order melalui ojek online. Mereka membuka penerimaan order untuk meningkatkan pendapatan gudeg ini.
Kalau kamu bagaimana? Apakah setelah membaca kisah inspiratif ini jadi ingin membawa makanan khas daerahmu untuk dibisniskan juga?
