Food & Travel14 September 2020 19:19

Kisah Daniel Bangun Bandeng Juwana Elrina, Awalnya Cuma Bisnis Kuliner Rumahan

Konten kiriman user
Kisah Daniel Bangun Bandeng Juwana Elrina, Awalnya Cuma Bisnis Kuliner Rumahan  (1340)
Bandeng Juwana Erlina Semarang Foto: Dok.Instagram/bandengjuwana
Bandeng Juwana Elrina, siapa yang tidak mengenal merek makanan khas Semarang yang kerap dijadikan oleh-oleh ini? Daniel Nugroho Setiabudhi telah mendirikan pusat oleh-oleh terbesar di kota itu sejak tahun 1981.
ADVERTISEMENT
Masyarakat Semarang tampaknya sudah terbiasa melihat penampakan pusat oleh-oleh yang selalu ramai akan pengunjung itu. Selain menjual ikan Bandeng, masih banyak usaha lain rintisan Daniel yang tidak kalah sukses; seperti toko roti Dyriana dan Rumah Makan Elrina.
Semua itu berkat usaha kerja keras, inovasi, serta kreativitas yang dirintis oleh dr. Daniel dan istrinya Ida Nursanti. Seperti apa sih kisah perjalanan hidup dr. Daniel sampai akhirnya dapat mendirikan usaha sukses ini?
Ide bisnis membuat ikan bandeng tulang lunak awalnya merupakan bisnis kuliner sampingan dari pekerjaan dokter umum, yang dahulu kurang menghasilkan uang.
Walau begitu, Daniel masih aktif sebagai dokter dan pernah menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Kusta Keled dan Tugurejo sejak tahun 1970 sampai 1990.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 1980, ide untuk membuat bandeng duri lunak muncul setelah melihat beberapa toko bandeng duri lunak yang selalu ramai akan pengunjung.
Selama tiga bulan, dr. Daniel mencoba dan mengetes resep bandeng bermodalkan alat pressure cooker setiap harinya. Tiga sampai lima kilogram bandeng diproduksi. Ikan bandeng kemudian dibagikan kepada teman-temannya yang pandai memasak untuk mendapat kritik dan saran dari mereka.
Akhirnya pada 3 Januari 1981, laki-laki kelahiran Purworejo ini mulai berjualan bandeng di depan rumahnya. Produk ikan bandeng tulang lunak diberi nama Bandeng Juwana Elrina yang diambil dari tempat kelahiran pendiri, serta singkatan ketiga nama putri pendiri.
Juwana diambil dari tempat kelahiran istri Daniel, yaitu Ida Nursanty Dra, Apth di Kota Juwana. Sementara, Elrina merupakan singkatan El dari putrinya yang bernama Elizabeth, Ri dari nama putrinya Maria, dan Na dari nama putrinya Johana.
ADVERTISEMENT
Walau awalnya produk bandeng yang terjual sedikit, tetapi dr. Daniel masih menekuni bisnisnya hingga semakin lama semakin banyak yang mengenali produk bandengnya.
Perlahan tapi pasti, pelanggan mulai berdatangan sampai Daniel berusaha memanfaatkan ruang tamu untuk dijadikan lapak berdagang bandeng. Namun karena terlalu ramai, Daniel bermodal dana pinjaman teman membangun toko kecil dengan luas enam meter.
Sembari membangun usaha bandeng presto, Daniel juga berusaha mewujudkan impian untuk membangun toko roti dan kue. Pengusaha itu kemudian mengambil pinjaman Rp 50 juta dari bank untuk memulai usaha roti yang diberi nama roti Dyriana. Usaha toko roti ini didirikan 5 tahun jelang usaha bandeng tulang lunaknya, tepatnya pada 21 April 1986.
Dari sana, usaha dr. Daniel terus berkembang. Akhir tahun 1994, dia mendirikan usaha Elrina Restaurant untuk mengatasi masalah parkir di toko utamanya. Sekarang usaha Bandeng Juwana Elrina serta toko roti Dyriana sudah tersebar ke banyak daerah di Semarang; dari cabang-cabang, restoran, toko roti sampai pabrik pengolahan bandeng.
ADVERTISEMENT
Berkat ketekunannya, kini usaha bandeng duri lunak berkembang dan menjadi salah satu toko oleh-oleh populer di kota Semarang. Olahan makanan nusantara ini sudah termasuk sebagai salah satu kuliner legendaris Semarang.
Rasanya yang nikmat, serta pengemasan yang aman membuat hidangan ini menjadi pilihan oleh-oleh wisatawan. Setelah melihat perjuangan dr. Daniel dalam membangun bisnisnya, jangan lupa untuk mengunjungi tempat ini ketika ke Semarang, ya!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white