Konten dari Pengguna

Tari Gambyong, Kesenian Rakyat yang Naik Kelas

Viral Food Travel
Berita viral seputar Food dan Travel
15 Juli 2021 6:10 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Viral Food Travel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Tari Gambyong. Sumber: Dinas Pariwisata Kota Surakarta
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tari Gambyong. Sumber: Dinas Pariwisata Kota Surakarta
ADVERTISEMENT
Tari Gambyong adalah tari tradisional asal Surakarta atau yang populer sebagai Solo, Jawa Tengah. Seni tari yang satu ini terkenal karena metamorfosanya sebagai tarian rakyat yang naik kelas menjadi tarian keraton.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari laman Portal Informasi Indonesia, tari Gambyong umumnya dipentaskan sebagai penghormatan untuk Dewi Sri sebagai simbol kesuburan pada saat musim tanam dan panen padi oleh masyarakat Jawa.
Sebelum masuk ke dalam lingkungan Keraton, tari Gambyong merupakan tari pergaulan yang disebut dengan tari tayub. Tari ini selalu hadir pada hajatan tradisional yang ada di desa-desa, seperti pernikahan dan sunatan.

Tari Gambyong yang naik kelas

Buku berjudul Sejarah Tari Gambyong Seni Rakyat Menuju Istana yang ditulis oleh Sri Rochana Widyastutieningrum menyebutkan bahwa pada masa lalu raja di Jawa kerap mengundang para seniman desa ke istana untuk diserap kepandaian dan keterampilannya.
Hal ini menjadikan kesenian desa menjadi lebih halus karena telah disesuaikan dengan rasa dan keindahan ideal para bangsawan oleh seniman-seniman istana. Tari Gambyong sendiri merupakan bentuk perkembangan dari tari tlèdhèk yang ada sejak zaman Kerajaan Jenggala atau tari Tayub yang ada sejak zaman Demak.
ADVERTISEMENT
Pada dasarnya, asal mula tari Gambyong yakni tayub dan talèdhèk hampir mirip dengan ronggeng atau lengger yang memang mempunyai citra erotis.
Ilustrasi Tari Gambyong. Sumber: Portal Informasi Indonesia
Nama Gambyong diambil dari seorang penari tlèdhèk, Gambyong, yang hidup pada zaman Susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta.
Tari Gambyong mulai berkembang pada zaman Susuhunan Paku Buwana IX. Pada waktu itu, tarian ini sudah diperhalus dengan kaidah tari keraton, sehingga berbeda dengan tarian sebelumnya dan dalam perjalanannya diperkenalkan kepada khalayak umum dan berkembang di masyarakat.

Tari Gambyong sebagai Tari Keraton

Tari Gambyong yang berkembang di lingkungan keraton telah berpegang pada kaidah-kaidah, etika, dan etiket tari keraton. Terdapat penyesuaian unsur gerak tari yang meliputi bentuk, volume, tekanan, dan tempo atau kecepatan.
ADVERTISEMENT
Langkah modifikasi ini kemudian membuat tari Gambyong menjadi lebih halus dengan menghilangkan gerakan-gerakan erotis yang ada. Namun uniknya, kesan kenes (lincah dan genit), luwes kewes (lemah gemulai), dan lembut dari tarian ini tetap bisa ditonjolkan.

Perkembangan Variasi Tari Gambyong di Luar Keraton

Banyaknya variasi tari Gambyong di luar tembok keraton diawali oleh munculnya tari Gambyong Pareanom oleh Nyi Bei Mintoraras dari Keraton Mangkunegaran pada tahun 1950.
Kemunculan tari Gambyong Pareanom ini kemudian diikuti oleh munculnya susunan tari Gambyong lain yang ada di luar Mangkunegaran, seperti Gambyong Pangkur, Gambyong Gambirsawit, Gambyong Ayun ayun, Gambyong Campursari, Gambyong Sala Minulya, Gambyong Mudhatama, Gambyong Dewandaru, dan lain-lain. Tari Gambyong Pareanom oleh Nyi Bei Mintoraras ini juga telah mengawali perubahan bentuk sajian dari tari Gambyong itu sendiri.
ADVERTISEMENT
(SYA)