Petarung MMA Rusia Tikam Dokter Gegara Debat Vaksin Covid-19

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Viral Sport tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perdebatan soal vaksin Covid-19 di Amerika Serikat (AS) memang cukup ramai. Parahnya lagi, hal ini memakan korban, di mana seorang petarung MMA asal Rusia sampai menikam dokter.
Menurut laporan RT, insiden ini terjadi di Pulau Guam, AS, pada minggu lalu. Akmal Khozhiev ditangkap setelah berselisih di daerah Tamuning.
Pria 27 tahun tersebut menghadapi dakwaan kejahatan tingkat pertama dengan senjata mematikan dan serangan tingkat dua dengan senjata mematikan. Jaminannya ditetapkan sebesar USD 1 juta (setara Rp 14,5 miliar).
Menurut salah satu saksi, Khozhiev dan Dr. Miran Ribati selaku ahli radiologi di Rumah Sakit Memorial Guam terlibat perselisihan. Itu terjadi di sebuah kompleks apartemen dan berlanjut ke masalah fisik.
Petarung berjuluk 'AK47' itu diduga mencekik Ribati sampai pingsan dan kemudian menggunakan tulang hewan dari sisa makanan untuk menikamnya di tenggorokan.
Aksi Khozhiev tak berhenti sampai di situ. Ia selanjutnya mengambil pisau dan kembali menikam Ribati. Polisi dilaporkan menemukan sang dokter dalam posisi tertelungkup dalam genangan darah.
"Tuan, ini saya, ini saya, saya membunuhnya," ungkap Khozhiev kepada polisi dikutip dari RT.
Aksi tersebut cukup disayangkan, mengingat Khozhiev merupakan salah satu petarung yang mumpuni. Sejauh ini, ia memiliki catatan 3-1 selama karier profesionalnya.
Kendati demikian, Khozhiev memang cukup vokal soal penolakan vaksin covid. Beberapa rekannya juga sadar akan perubahannya, termasuk mantan petarung Bellator, JJ Ambrose.
"Dia [Khozhiev] adalah orang yang hebat sampai dia berubah. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk memperingatkan orang-orang bahwa AK bukan AK lagi," kata Ambrose kepada KUAM dikutip dari RT.
