Membeli demi Pengakuan: Gengsi sosial dan Konsumsi Islami di era media Sosial

Mahasiswa di UIN KH. Abdurahman Wahid Pekalongan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Vira Putri Umaroji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Konsumsi Islami merupakan prinsip penting dalam mengatur perilaku belanja agar sesuai dengan kebutuhan dan ajaran Islam. Pernahkah kita membeli barang bukan karena membutuhkannya, melainkan karena melihat teman memilikinya? Misalnya, membeli ponsel terbaru, sepatu bermerek, atau pakaian yang sedang tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Media sosial membuat hal ini mudah dijumpai karena menampilkan gaya hidup orang lain setiap hari. Tanpa sadar, keputusan membeli dapat dipengaruhi keinginan memperoleh pengakuan, bukan kebutuhan. Padahal, dalam ekonomi Islam, konsumsi seharusnya dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan.

Konsumsi penting dalam kehidupan karena barang dan jasa dibutuhkan sehari-hari. Gengsi Sosial dan Konsumsi Islami Namun, masalah muncul ketika gengsi lebih diutamakan daripada manfaat. Barang yang semula digunakan sesuai fungsinya dapat berubah menjadi simbol status. Akibatnya, seseorang merasa harus memiliki barang tertentu agar setara dengan lingkungan pergaulannya, meskipun belum diperlukan. Kebiasaan ini dapat menggeser prioritas dan membuat keberhasilan diukur dari penilaian orang lain.
Media sosial turut memperkuat perilaku konsumtif. Penelitian Wulandari, Muftiyanto, dan Suyatno (2024) terhadap 97 mahasiswa pengguna media sosial di Surakarta menemukan hubungan positif yang signifikan antara penggunaan media sosial dan perilaku konsumtif mahasiswa. Foto barang baru, pakaian mahal, serta gaya hidup mewah dapat mendorong orang mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan. Padahal, unggahan belum tentu menggambarkan kondisi ekonomi seseorang secara utuh. Karena itu, media sosial perlu disikapi bijak dan tidak dijadikan ukuran pilihan belanja. Meski demikian, tidak semua penggunanya pasti konsumtif.
Kemampuan mengelola keuangan juga memengaruhi keputusan konsumsi. Prayoga dan Merliyana (2026) menemukan bahwa media sosial berpengaruh positif terhadap perilaku konsumtif mahasiswa, sedangkan literasi keuangan berpengaruh negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman keuangan membantu seseorang mengambil keputusan lebih rasional. Saat keinginan mengikuti tren melebihi kemampuan, uang dapat dihabiskan untuk barang yang belum diperlukan. Akibatnya, biaya pendidikan, tabungan, dan kebutuhan harian kurang diperhatikan. Jika berulang, pengeluaran sulit dikendalikan dan seseorang mungkin menggunakan utang atau pembayaran tertunda demi gaya hidup di luar kemampuannya.
Membeli barang demi tren mungkin terasa menyenangkan karena mendatangkan perhatian atau pujian. Namun, kepuasan itu bisa hilang ketika muncul barang baru yang kembali ingin dimiliki. Seseorang pun dapat terjebak membandingkan diri dengan orang lain. Menurut saya, pengakuan sosial yang sementara tidak seharusnya mengorbankan kestabilan keuangan. Keputusan konsumsi perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang, bukan hanya kesenangan sesaat.
Dalam ekonomi Islam, konsumsi tidak hanya dinilai dari kemampuan membeli, tetapi juga manfaat, kebutuhan, dan dampaknya. Islam membolehkan manusia menikmati rezeki, tetapi mengajarkan agar tidak berlebihan. Prinsip ini sejalan dengan Surah Al-A’raf ayat 31 yang memerintahkan manusia makan dan minum serta melarang sikap berlebih-lebihan. Ajaran ini menjadi pedoman menggunakan harta secara bertanggung jawab. Membeli barang tidak salah jika dilakukan wajar. Masalah muncul ketika pembelian didorong gengsi, tanpa pertimbangan, atau mengganggu kebutuhan penting (Al-Qur’an, Surah Al-A’raf [7]: 31).
Konsumsi Islami bukan berarti harus selalu membeli barang murah atau dilarang mengikuti zaman. Barang berkualitas dan teknologi baru boleh dibeli selama sesuai kemampuan serta memberi manfaat. Barang mahal tidak otomatis menunjukkan keberhasilan, sebagaimana barang sederhana bukan tanda gagal. Menurut saya, konsumsi bijak diukur dari ketepatan memenuhi kebutuhan, bukan harga barang atau pujian orang lain. Setiap orang perlu memahami batas kemampuan dan tidak memaksakan diri agar terlihat sama dengan lingkungan.
Untuk menghindari belanja demi gengsi, bedakan kebutuhan dan keinginan sebelum membeli. Tanyakan, “Apakah barang ini benar-benar saya butuhkan?” dan “Apakah saya membelinya karena manfaatnya atau ingin dipuji?” Pertanyaan ini membantu menilai keputusan. Buat juga anggaran bulanan agar pengeluaran untuk kebutuhan utama, tabungan, dan keperluan lain tetap seimbang. Selain itu, jangan terburu-buru membeli barang yang sedang tren. Beri jeda sebelum membayar untuk mempertimbangkan apakah barang itu memang diperlukan.
Literasi keuangan perlu diterapkan sehari-hari. Memahami pemasukan, pengeluaran, tabungan, dan risiko utang membantu seseorang mengelola uang secara bertanggung jawab. Catatan pengeluaran dapat menunjukkan ke mana uang digunakan dan bagian yang perlu dikurangi. Keluarga dan lembaga pendidikan juga dapat membangun kebiasaan keuangan sehat melalui contoh dan pembelajaran pengelolaan uang. Dengan begitu, seseorang lebih mampu menimbang manfaat barang dan tidak mudah terpengaruh tekanan sosial.
Masyarakat perlu mengubah pandangan bahwa keberhasilan hanya diukur dari merek pakaian, jenis ponsel, atau banyaknya barang. Setiap orang memiliki kondisi keuangan berbeda, sehingga kehidupan tidak tepat dibandingkan hanya dari unggahan media sosial. Menghargai diri sendiri tidak harus dilakukan dengan mengikuti semua tren. Kemampuan menentukan prioritas dan mengelola uang secara bertanggung jawab lebih bermakna daripada sekadar terlihat mewah.
Pada akhirnya, membeli demi pengakuan bukan sekadar persoalan belanja, tetapi berkaitan dengan cara seseorang memandang diri dan menilai keberhasilan orang lain. Dalam ekonomi Islam, harta seharusnya memberi manfaat, memenuhi kebutuhan secara wajar, dan mendukung kemaslahatan. Karena itu, gengsi tidak seharusnya menentukan konsumsi. Dengan mengutamakan kebutuhan, meningkatkan literasi keuangan, dan menghindari sikap berlebihan, masyarakat dapat membangun kebiasaan konsumsi sehat. Tujuan mengelola harta bukan agar terlihat kaya, melainkan untuk hidup lebih baik, seimbang, dan bertanggung jawab.
