Narasi, Kekuasaan, dan Konflik: Menilik Konflik Palestina-Zionis Israel

Virgi Rahma
Hi there! I'm Virgi Rahma Zizi, known as Egi. Currently pursuing my passion for Political Science at the University of Indonesia, within the Faculty of Social and Political Sciences.
Konten dari Pengguna
4 April 2024 23:05 WIB
·
waktu baca 9 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Virgi Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Protesters at a pro-Palestinian, anti-Israel rally in St. Paul, Minnesota, November 19, 2023. (Michael Siluk/UCG/Universal Images Group via Getty Images/ via JTA)
zoom-in-whitePerbesar
Protesters at a pro-Palestinian, anti-Israel rally in St. Paul, Minnesota, November 19, 2023. (Michael Siluk/UCG/Universal Images Group via Getty Images/ via JTA)
ADVERTISEMENT
Nakba 1948 : Menelaah Akar Konflik Berkepanjangan Palestina-Israel
Konflik Israel-Palestina telah berakar pada awal abad ke-20. Ketegangan di antara dua pihak tersebut mengarah pada sejarah panjang konflik. Terdapat satu peristiwa besar yang menjadi awal konflik berkepanjangan ini, Resolution 181 yaitu pembagian wilayah menjadi Arab State dan Jewish State. Hal tersebut mendorong konflik yang dikenal dengan Arab-Israeli War yang telah menjadi penanda konflik berkelanjutan di wilayah tersebut.
ADVERTISEMENT
Lahirnya Zionisme sebagai sebuah ideologi politik dengan kepercayaan bahwa “Jews are a nation or a race that deserve their own state” menjadi pegangan bangsa yahudi dalam penekanan terhadap Palestina dalam merampok tanah tersebut untuk memperjuangkan state yang diagungkan berdasarkan konsep biblical bahwa Holy Land telah dijanjikan kepada bangsa Yahudi oleh Tuhan. Pengambilan tanah yang bukan kepemilikan bangsa Yahudi didasari oleh janji tuhan dalam kepercayaan penganut zionisme tersebut berjalan mudah dengan bantuan Inggris yang telah menjanjikan tanah Palestina sebagai rumah bagi bangsa Yahudi dalam Deklarasi Balfour 1917.
Imigrasi Zionis ke Palestina telah dimulai sejak 1919 dengan fasilitas dari Inggris dan kekuatan Nazi Jerman yang menekan bangsa Yahudi mendorong imigrasi berjalan dengan drastis. Hal tersebut mendorong orang Arab Palestina meluncurkan pemberontakan melawan Inggris dan kolonialisme dengan penempatan Zionis yang dikenal dengan Arab Revolt. Kekerasan dari otoritas inggris meningkat dalam upaya peredaman pemberontakan yang berlangsung hingga tahun 1939.
ADVERTISEMENT
Beberapa tahun setelahnya, otoritas Inggris mengumumkan pemberhentian mandat terhadap Palestina pada 15 Mei 1948, delapan jam sebelum deklarasi kemerdekaan Israel oleh David Ben Gurion. Bangsa Palestina memperingati hal ini sebagai tragedi nasional atas kehilangan tanah air mereka dengan cara yang tidak resmi. Pengusiran masyarakat Palestina yang telah dilakukan oleh Zionist sejak adanya Mandat Inggris terjadi lagi ketikan UN Partition Plan disetujui. Hal ini kemudian dikenal dengan Nakba 1948, sebuah gerakan pengusiran atau dapat disebut sebagai ethnic cleansing.
Gerakan perlawanan diluncurkan kembali oleh Arab Revolt sebagai perang lanjutan Arab-Israel pada tanggal 15 Mei 1948. Dalam paruh pertama, terdapat 750.000 orang Palestina yang secara paksa diusir atau melarikan diri dari tanah airnya akibat serangan gencar yang dilakukan pasukan Zionis dengan total 233 peristiwa, seperti pembantaian, serangan bom, penjarahan, penghancuran properti serta desa. Walaupun para Zionis telah mendapatkan mimpinya untuk menciptakan “a Jewish Homeland” dengan kependudukannya di Palestina, proses ethnic cleansing Nakba tidak pernah berhenti.
ADVERTISEMENT
Selain mengalami penghancuran, penangkapan, serta pengusiran oleh Israel, ruang gerak Palestina juga dibatasi oleh pos militer dan Separation Wall yang menghalangi mereka untuk bepergian secara bebas. Setidaknya terdapat 1,8 juta orang Palestina involuntary yang berada di Israel dan tercatat sekitar 50 undang-undang diskriminatif terhadap kelompok yang tidak beragama Yahudi.
“From River to The Sea, Palestine will be Free” : Perlawanan Balik terhadap Zionist
Penekanan Israel dalam menggencarkan ethnic cleansing terhadap Palestina demi merampok “tanah suci yang dijanjikan” berlanjut dan tidak berhenti hingga kini. Dengan posisi Palestina yang tidak berhenti mendapatkan tekanan dari Israel telah meluluhlantakkan negara Palestina, memakan ratusan juta korban yang mayoritasnya adalah anak-anak dan perempuan. Gerakan pemberontakan untuk melawan Israel pun muncul, salah satunya yang digencarkan oleh Hamas, kelompok nasionalis Palestina yang sangat menentang Israel dengan tujuan pembebasan Palestina, “From River to The Sea, Palestine will be Free.”
ADVERTISEMENT
Salah satu serangan balik yang diluncurkan oleh Hamas sebagai kelompok pembela Israel diluncurkan pada tanggal 7 Oktober 2023 terhadap Israel di hari perayaan umat Yahudi, Simchat Torah. Serangan ini tepat 50 tahun dan satu hari setelah Mesir dan Suriah melancarkan serangan saat perayaan Yahudi, Yom Kippur pada tahun 6-25 Oktober 1973. Serangan balik 7 Oktober menjadi momentum bagi warga Palestina di Gaza menembus Separation Wall dan memunculkan kegembiraan dan rasa pembebasan diantara warga Palestina. Peristiwa ini melambangkan pembebasan dan perlawanan dari tekanan pendudukan dan penindasan Israel.
Namun, pemecahan tembok pemisah di jalur Gaza tersebut telah memicu ketegangan yang semakin meningkat, termasuk serangan udara di Gaza dan West Bank. Peristiwa 7 Oktober 2023 telah menekan konflik berkelanjutan antara Palestina dan Israel serta penanda upaya berkelanjutan Palestina terhadap kebebasan serta keadilannya hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Serangan dimulai dengan para pasukan Hamas yang meluncurkan serangan dari Gaza Stripe pada pagi hari di tanggal 7 Oktober, gelombang penembakan yang diluncurkan terhadap Israel telah menewaskan sekitar 1.200 orang. Selain itu, diarahkan pula tembakan roket. Serangan tersebut merenggut anak-anak, lansia, serta 364 nyawa pemuda di acara festival musik yang sedang berlangsung saat itu. Hamas turut menyandera lebih dari 250 orang lainnya ke Gaza.
Hams sebagai kelompok bersenjata terkuat dan penguasa tunggal Gaza setelah mengusir rival politiknya—Fatah di West Bank — pada tahun 2007 telah menjadi kekuatan dominan dengan menyatukan 10 fraksi Palestina dalam war-game style, yang diawasi oleh “joint operation room.” Mengacu pada BBC, terdapat 10 kelompok yang ikut dalam serangan 7 Oktober berdasarkan headband khas serta emblem yang digunakan dalam joint operation room, termasuk Palestine Islamic Jihad (PIJ). Meskipun kelompok yang ikut serta dalam penyerangan terhadap Israel memiliki spektrum ideologi yang berbeda dan luas, mereka memiliki satu keinginan untuk menggunakan kekerasan terhadap Israel dalam upaya melancarkan serangan balik atas penindasan yang dialami Palestina.
ADVERTISEMENT
Hamas menggencarkan serangan sebagai respons terhadap kejahatan dan kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina, termasuk penyerangan atas situs suci islam—Masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur. Selain itu, Hamas menekan pelepasan tahanan Palestina di Israel dan mengakhiri blokade jalur Gaza oleh Israel dan Mesir. Hamas telah dianggap sebagai kelompok teroris oleh Israel, Amerika, Uni Eropa, dan Inggris. Sementara, Iran merupakan negara yang mendukung Hamas dengan memfasilitasi dana, senjata, dan pelatihan.
Tiga minggu setelah kejadian, tekanan kembali diluncurkan oleh Israel melalui invasi darat juga membombardir Gaza dari laut. Serangan difokuskan terhadap Kota Gaza dan terowongan di bawahnya yang diklaim sebagai pusat operasi militer kelompok Hamas. Hingga saat ini, serangan oleh Israel terus berlanjut yang telah memakan ratusan ribu korban jiwa dengan mayoritas anak-anak dan perempuan. Dilansir oleh Al-Jazeera, tiap harinya terdapat 12 bangunan hancur, 42 bom diluncurkan, 15 orang meninggal setiap harinya di Gaza, dan 6 diantaranya adalah anak-anak.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya tindakan serangan militer yang dilakukan Israel terhadap Palestina, terdapat blokade pasokan makanan, air, dan bahan bakar. Hal ini dilakukan untuk menekan Hamas melepaskan sanderanya. Namun, kejadian ini menyebabkan severe shortages para penduduk Gaza. Tak lama, Israel memberi izin atas bantuan kemanusiaan yang juga tetap dibawah buruk kondisinya.
Palestine vs Zionist Israel dalam kacamata Orientalism
Orientalisme karya Edward Said membahas kompleksitas antara dunia Barat dan Timur Tengah karena mengungkapkan stereotip yang sangat tertanam dan penafsiran yang telah lama memengaruhi cara Barat memandang Timur. Perspektif ini mencoba untuk memahami dan merumuskan dunia Timur melalui lensa Eropa Barat. Orientalisme merujuk pada konsep "Timur" sebagai The Orient, dan "Barat" sebagai The Occident.
ADVERTISEMENT
Kajian Said memaparkan peran berpengaruh narasi Orientalis dalam pembentukan persepsi dan hegemoni Barat atas Timur Tengah. Terdapat konstruksi yang secara aktif membentuk pandangan dunia Barat, menggambarkan masyarakat Timur Tengah sebagai secara inheren rendah, tunduk, dan bergantung pada intervensi Barat. Stereotip yang sudah tertanam kuat ini, baik yang bercorak rasisme maupun romanticize notions, yang tidak hanya memperkuat dinamika kekuasaan tetapi juga sebagai landasan ideologis untuk kolonialisme dan imperialisme Barat. Said menyoroti sifat yang merusak dari narasi ini, mengungkap peran mereka dalam mempertahankan penindasan sistemik dan eksploitasi dengan menyamar sebagai superioritas dan kebaikan budaya.
Dalam kelanjutan pembahasan tentang orientalisme oleh Edward Said, ia menekankan bahwa orientalisme bukan sekadar studi akademis tentang Orient oleh Barat, melainkan juga alat kekuasaan yang digunakan Barat untuk mengendalikan, memanipulasi, dan mendominasi Timur. Said menyoroti bahwa orientalisme bukan hanya tentang pemahaman objektif atau representasi yang netral tentang Timur, tetapi lebih merupakan hasil dari dinamika kekuasaan yang kompleks antara Barat dan Timur. Melalui orientalisme, Barat tidak hanya menciptakan narasi tentang Orient yang sesuai dengan kepentingan politik dan ekonominya, tetapi juga memperkuat posisi dominannya atas Timur. Orientalisme bukan hanya tentang pengetahuan atau pemahaman, melainkan juga tentang eksploitasi, subjugasi, dan kolonisasi. Dengan demikian, orientalisme bukan hanya sebuah disiplin akademis, tetapi juga merupakan fenomena politik dan sosial yang mencerminkan dinamika kekuasaan dalam relasi Barat-Timur
ADVERTISEMENT
Dalam konteks konflik antara Palestina dan Israel, orientalisme memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan narasi Barat tentang wilayah tersebut. Orientalisme menciptakan gambaran stereotip tentang Timur Tengah, termasuk Palestina, sebagai daerah yang ketinggalan zaman, statis, dan tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Dalam pemikiran orientalis, bangsa Timur Tengah dianggap irasional, kekanakan, dan tidak memiliki kesadaran budaya dan sejarah yang layak. Dalam kasus Israel dan Palestina, orientalisme telah membentuk pandangan Barat tentang konflik tersebut, dengan Palestina sering digambarkan sebagai wilayah yang ketinggalan zaman dan terbelakang, sementara Israel sering diidealisis sebagai entitas modern dan progresif.
Persepsi orientalis juga mempengaruhi pandangan Barat tentang konflik politik antara Israel dan Palestina. Israel sering dilihat sebagai pahlawan yang melawan "anak buah yang tidak bermoral" dari wilayah "Orient" yang dianggap lemah dan tidak beradab. Sebaliknya, Palestina sering dipandang sebagai pihak yang "layak" untuk diperintah atau dikendalikan oleh Barat demi menyelesaikan konflik. Orientalisme mendorong pemikiran bahwa Barat memiliki hak untuk campur tangan dalam urusan Timur Tengah untuk menegakkan ketertiban dan stabilitas, tanpa mempertimbangkan aspirasi atau kepentingan sebenarnya dari penduduk lokal.
ADVERTISEMENT
Selain itu, orientalisme juga memberikan pembenaran bagi intervensi politik dan militer Barat di wilayah tersebut. Pandangan orientalis tentang kelemahan dan keterbelakangan bangsa Timur Tengah melegitimasi tindakan Barat yang dianggap sebagai upaya untuk membantu dan mengarahkan mereka menuju modernitas dan stabilitas. Hal ini tercermin dalam dukungan Barat terhadap Israel sebagai sekutu strategis yang dianggap mewakili nilai-nilai Barat di tengah konfliknya di Timur Tengah.
Orientalisme berperan dalam memperkuat ketidaksetaraan kekuasaan antara Barat dan Timur Tengah serta dalam mempertahankan dominasi politik dan budaya Barat di wilayah tersebut. Orientalism dalam konflik ini mengaburkan pemahaman yang mendalam tentang akar masalah dan aspirasi rakyat Palestina, serta memberikan pembenaran moral bagi tindakan agresif dan represif yang dilakukan oleh Israel dengan dukungan Barat.
ADVERTISEMENT
References
An analysis of the 7th of October 2023 casualties in Israel. (2017, November 9). AOAV. Retrieved April 3, 2024, from https://aoav.org.uk/2023/an-analysis-of-the-7th-of-october-2023-casualties-in-israel-as-a-result-of-the-hamas-attack
Israel-Gaza war in maps and charts: Live tracker. (2023, October 9). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/longform/2023/10/9/israel-hamas-war-in-maps-and-charts-live-tracker
The Nakba did not start or end in 1948. (2017, May 23). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/features/2017/5/23/the-nakba-did-not-start-or-end-in-1948
Ragad, A., Irvine, R., Garman, B., & Seddon, S. (2023, November 27). How Hamas built a force to attack Israel on 7 October. BBC. https://www.bbc.com/news/world-middle-east-67480680
Said, E. W. (1995). Orientalism. Penguin.
What is Hamas and why is it fighting with Israel in Gaza? (2024, February 13). BBC. https://www.bbc.com/news/world-middle-east-67039975#
What is Hamas? A simple guide to the armed Palestinian group. (2023, October 8). Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2023/10/8/what-is-the-group-hamas-a-simple-guide-tothe-palestinian-group
ADVERTISEMENT