Konten dari Pengguna

Cara Mengatasi Sibling Rivalry dengan Bijak Tanpa Pilih Kasih

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Virgianti Indah Pratiwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source Image: AI Generated Image
zoom-in-whitePerbesar
Source Image: AI Generated Image

Suasana sore yang tadinya tenang mendadak berubah riuh. Si kakak menangis karena balok susunannya dirobohkan, sementara si adik berteriak sambil merebut robot mainan dari tangan kakaknya. Bagi banyak orang tua, terutama yang memiliki dua anak atau lebih, pemandangan seperti ini mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian.

Fenomena tersebut dikenal sebagai sibling rivalry, yaitu persaingan atau konflik yang terjadi antara saudara kandung. Meski sering membuat orang tua kehabisan tenaga dan kesabaran, pertengkaran antar saudara sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar anak mengenal emosi, berbagi, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik.

Yang perlu diingat, tujuan orang tua bukanlah menghilangkan pertengkaran sepenuhnya, melainkan mengajarkan anak cara menghadapi perbedaan dengan sehat.

Mengapa Kakak dan Adik Sering Bertengkar?

Perselisihan antar saudara biasanya dipicu oleh beberapa hal berikut.

1. Perebutan perhatian orang tua

Setiap anak ingin merasa dicintai dan diperhatikan. Ketika salah satu merasa perhatian orang tua lebih banyak diberikan kepada saudaranya, rasa cemburu dapat muncul.

2. Keinginan untuk diakui

Baik kakak maupun adik sama-sama ingin mendapatkan pujian. Tidak jarang mereka saling bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat atau lebih disayang.

3. Kondisi fisik yang kurang nyaman

Anak yang lapar, mengantuk, lelah, atau bosan cenderung lebih mudah marah sehingga konflik kecil pun bisa berubah menjadi pertengkaran besar.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Tanpa disadari, orang tua terkadang memperburuk konflik melalui kalimat seperti:

"Kakak kan sudah besar, harus selalu mengalah."

atau

"Adik memang masih kecil, maklumi saja."

Kalimat tersebut memang terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang dapat membuat salah satu anak merasa diperlakukan tidak adil. Kakak bisa merasa bebannya lebih berat, sedangkan adik belajar bahwa menangis atau merengek adalah cara untuk mendapatkan keinginannya.

Alih-alih menyelesaikan masalah, pola seperti ini justru berpotensi membuat persaingan antar saudara berlangsung lebih lama.

Dua Cara Orang Tua Menghadapi Pertengkaran

Situasi Pertama

Ketika kedua anak berebut mainan, ibu langsung mengambil mainan tersebut lalu berkata,

"Kakak kasih ke adik. Kakak kan sudah besar."

Pertengkaran memang berhenti sesaat, tetapi kakak menyimpan rasa kesal, sementara adik merasa selalu dibela.

Situasi Kedua

Dalam situasi yang sama, ibu terlebih dahulu memisahkan kedua anak agar sama-sama tenang.

Setelah emosi mereda, ibu bertanya kepada kakak,

"Apa yang membuat Kakak sedih?"

Lalu bergantian bertanya kepada adik,

"Sekarang giliran Adik bercerita. Apa yang terjadi?"

Setelah mendengarkan keduanya, ibu berkata,

"Mainannya memang cuma satu. Menurut Kakak dan Adik, bagaimana supaya kalian bisa bermain bergantian?"

Pendekatan ini membuat kedua anak merasa didengar sekaligus belajar mencari solusi bersama.

Cara Mengatasi Sibling Rivalry

1. Jadilah Mediator, Bukan Hakim

Saat anak bertengkar, jangan terburu-buru menentukan siapa yang salah. Dengarkan cerita keduanya terlebih dahulu. Fokus utama bukan mencari siapa penyebabnya, melainkan membantu mereka menyelesaikan masalah.

2. Tenangkan Emosi Terlebih Dahulu

Anak yang sedang menangis atau marah sulit menerima nasihat. Pisahkan mereka sejenak hingga lebih tenang, baru kemudian ajak berbicara.

Kalimat sederhana seperti,

"Ibu akan mendengarkan setelah kalian sama-sama tenang,"

sering kali jauh lebih efektif daripada memarahi mereka.

3. Validasi Perasaannya

Anak berhak merasa marah, kecewa, atau sedih. Yang perlu dibatasi adalah perilakunya.

Contohnya,

"Ibu tahu Kakak sedih karena mainannya diambil. Tapi memukul adik tetap tidak boleh."

Dengan cara ini anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.

Mencegah Persaingan Antar Saudara

Selain menyelesaikan konflik, orang tua juga perlu membangun hubungan yang hangat di antara anak-anak.

Luangkan waktu khusus dengan masing-masing anak.

Tidak harus lama. Sepuluh hingga lima belas menit setiap hari tanpa gangguan sudah cukup membuat anak merasa diperhatikan.

Ajarkan empati sejak dini.

Saat membaca buku atau menonton film bersama, ajak anak membicarakan perasaan tokohnya.

Misalnya,

"Menurutmu, bagaimana perasaan kelinci ketika mainannya rusak?"

Cara sederhana ini membantu anak belajar memahami perasaan orang lain.

Berikan apresiasi saat mereka bekerja sama.

Sering kali orang tua hanya bereaksi ketika anak bertengkar, tetapi lupa memberikan pujian ketika mereka akur.

Padahal ucapan seperti,

"Ibu senang melihat Kakak membantu Adik,"

atau

"Terima kasih ya sudah mau berbagi mainan,"

akan memperkuat kebiasaan positif tersebut.

Damai Dimulai dari Sikap Orang Tua

Menghadapi sibling rivalry memang tidak mudah. Ada kalanya orang tua merasa lelah karena harus melerai pertengkaran yang terjadi berulang kali. Namun, setiap konflik sebenarnya adalah kesempatan untuk mengajarkan anak tentang empati, komunikasi, dan cara menyelesaikan masalah dengan baik.

Suatu hari nanti, anak-anak mungkin tidak akan mengingat siapa yang menang saat berebut mainan. Namun, mereka akan mengingat bagaimana orang tuanya mengajarkan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan tenang, saling menghargai, dan penuh kasih sayang. Dari situlah hubungan kakak dan adik dapat tumbuh menjadi persahabatan yang akan mereka bawa hingga dewasa.