Konten dari Pengguna

Pakaian Bukan Masalahnya

Virgiawan Ari

Virgiawan Ari

Mahasiswa S1 komunikasi di Binus

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Virgiawan Ari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Korban seringkali menjadi pihak yang disalahkan akibat kejadian yang menimpanya. Sumber : https://www.shutterstock.com/
zoom-in-whitePerbesar
Korban seringkali menjadi pihak yang disalahkan akibat kejadian yang menimpanya. Sumber : https://www.shutterstock.com/

Bertepatan dengan hari ibu, seluruh dunia sedang merayakan kehadiran sosok perempuan yang melahirkan peradaban ke dunia ini. Hari ibu ini juga harusnya menjadi sebuah pukulan bagi kita semua terhadap banyaknya kasus kekerasan seksual yang memakan banyak korban. Sudah terlalu lama kita memberdayakan stigma bahwa penyebab kekerasan seksual terhadap perempuan adalah pakaian yang mereka kenakan.

Salah satu kasus yang bisa membantu membantah stigma tersebut adalah pemerkosaan terhadap 21 orang santriwati yang masih di bawah umur, bukan hanya itu beberapa korban juga sampai melahirkan buah hati hasil pemerkosaan yang dilakukan oleh pemilik pesantren itu sendiri.

Miris! Jika pakaian memang menjadi penyebab dari kekerasan seksual terhadap perempuan, lalu bagaimana dengan para santriwati yang menjadi korban pemerkosaan ini? Apakah mereka menggunakan pakaian yang terbuka? Apakah mereka menggoda pelaku untuk memperkosa mereka? Saya rasa tidak.

Herry Wirawan (36) adalah laki – laki dewasa yang tega memperkosa para santriwati yang masih di bawah umur hingga membuat mereka mengalami trauma dan harus menjadi seorang ibu di usia yang sangat muda. 7 dari 21 santriwati yang menjadi korban pemerkosaan telah melahirkan 9 bayi. Pemerkosaan ini sudah berlangsung sejak 2016 hingga 2021, pelaku melakukan aksinya di lingkungan pesantren dan membungkam para korban dengan cara mengurungnya, mengancam, dan masih banyak tindakan – tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh Herry Wirawan.

Kasus ini sudah semestinya membuka mata kita semua untuk bisa melihat bahwa kasus kekerasan seksual semacam ini tidak disebabkan oleh pakaian yang digunakan oleh perempuan, melainkan karena para pelaku tidak bisa mengendalikan nafsu mereka. Sudah saatnya kita semua merangkul para korban dan memberikan dukungan terhadap para korban kekerasan seksual.

Stigma – stigma yang masih beredar dalam kalangan masyarakat sudah seharusnya kita lupakan agar para korban kekerasan seksual yang masih diam bisa memiliki keberanian untuk melaporkan tindak kejahatan yang mereka alami tanpa harus merasa takut akan masyarakat yang akan menyalahkan mereka. Perempuan bukan masalahnya, laki – laki yang harus mulai kita edukasi untuk belajar menghargai dan tidak melecehkan atau melukai perempuan.