Konten dari Pengguna

Kenapa Brand Mulai Meninggalkan Artis dan Beralih ke Influencer Kecil

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Visca Olivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh penulis

Dulu orang tidak ragu untuk kerja sama dengan artis ternama agar produknya lebih banyak di kenal orang, karena artis ternama akan lebih cepat menghasilkan engagement yang tinggi. Tapi kenapa sekarang strateginya mulai berubah? kenapa brand lebih memilih bekerjasama dengan banyak influencer kecil dibandingkan langsung menggaet artis ternama? apakah hal ini dinilai lebih efektif?

Siapa sih yang disebut influencer kecil itu?

Sebuta ini dipakai untuk nano-influencer yang memiliki sekitar 1.000–10.000 pengikut dan micro-influencer yang memiliki sekitar 10.000–100.000 pengikut. Walaupun angka pengikutnya tidak sebesar dengan artis ternama, tapi trust yang dibangun lebih besar sehingga audiens lebih terhubung. Influencer ini biasanya lebih terhubung ke audiens karena memiliki minat yang sama. Lalu apa saja yang membuat brand saat ini lebih memilih bekerja sama dengan influencer?

1. Biaya lebih masuk akal

Tarif untuk artis besar sering jauh melampaui anggaran pemasaran UMKM. Dengan dana yang sama, brand bisa gandeng beberapa influencer kecil sekaligus sambil menguji konten mana yang paling jalan. Risikonya pun lebih tersebar. Kalau satu konten gagal, kerugiannya tidak sebesar membayar satu artis bertarif tinggi. Karena saat ini sosial media bisa saja memberikan traffic yang sangat bagus untuk influencer kecil, jadi lebih banyak peluang konten viral untuk influencer kecil

2. Audiens lebih terarah, lebih percaya

Pengikut influencer kecil biasanya mengikuti orang tersebut karena memiliki minat yang sama, contohnya skincare untuk kulit berminyak, fashion muslim, kuliner rumahan, dan semacamnya. Rekomendasi dari akun seperti ini terasa lebih seperti saran teman ketimbang iklan. Konten artis besar sebaliknya sering langsung dikenali sebagai endorsement berbayar, sehingga audiens jadi lebih skeptis.

3. Keterlibatan yang lebih terasa

Influencer kecil biasanya masih sempat membalas komentar dan pesan pengikutnya, dan interaksi dua arah semacam ini bisa membuat audiens merasa dilibatkan. Bagi sebuah brand, komentar berisi pertanyaan soal harga, ukuran, atau cara pakai jadi sinyal minat beli yang jauh lebih nyata dibanding sekadar angka views.

4. Bukan tanpa risiko

Jangkauan influencer kecil terbatas. Artis atau influencer besar memang bagus jika kita tujuannya untuk membangun citra merk secara cepat. Tapi dari segi pengikut bisa saja dimanipulasi jadi brand harus memeriksa juga jumlah engagement organiknya, dan biasanya alur kerjasama dengan artis besar jauh lebih rumit dibandingkan dengan kerjasama influencer kecil. Jika ingin mengejar hari yang tepa untuk menjalankan campaign atau payday sale untuk menaikkan konten, influencer kecil juga bisa lebih cepat untuk di ajak kerjasama dibanding influencer besar yang harus membuat janji jauh-jauh hari.

Bagaimana caranya memilih influencer yang tepat?

  • Periksa apakah audiens influencer cocok dengan target pasar produk.

  • Lihat kualitas interaksi di kolom komentar, bukan sekadar jumlah likes.

  • Pastikan gaya konten sejalan dengan citra brand.

  • Mulai dari kerja sama kecil, lalu ukur hasilnya lewat insight dan penjualan.

  • Sepakati aturan keterbukaan bahwa konten itu memang kerja sama berbayar.

Penutup

Beralihnya brand ke influencer kecil bukan berarti artis besar sudah tidak berguna. Keduanya punya peran berbeda. Kerjasama dengan artis untuk jangkauan luas, influencer kecil untuk kedekatan dan kepercayaan. Bagi brand dengan anggaran terbatas, strategi yang cerdas bukan mengejar akun berpengikut terbanyak, melainkan akun yang audiensnya benar-benar mau mendengar