Konten dari Pengguna

Ketika Produk Lokal Masuk ke Dunia Digital, Apakah Penjualan Akan Meningkat?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Visca Olivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh penulis

Apakah penjualan akan meningkat ketika produk lokal ikut masuk ke dunia digital saat ini?

Perkembangan teknologi saat ini membuat pola hidup seseorang ikut berubah mengikuti perkembangan. Masyarakat memanfaatkan kemudahan teknologi dalam aktivitas pembelian kebutuhan secara online, hingga saat ini banyak orang yang lebih memilih untuk membeli barang secara online dibandingkan datang langsung ke toko. Karena saat ini cukup dengan membuka handphone dan mengunduh aplikasi marketplace, semua yang dibutuhkan akan langsung terpenuhi dalam waktu yang singkat dan cara yang mudah.

Kondisi ini yang membuat banyak pedagang mulai beralih ke toko online dan mencoba memperluas pasarnya melalui platfrom digital. Pemasaran melalui digital sangat menguntungkan bagi penjual, karena produk yang tadinya hanya dikenal di satu wilayah bisa dipasarkan secara lebih luas hingga ke daerah lain bahkan ke negara lain tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membuka toko offline. Tapi, apakh membuka toko online benar-benar layak untuk meningkatkan penjualan produk lokal?

Membuka toko online memang sangat mudah dan cepat. Tapi kita tidak hanya membuka toko begitu saja, kita juga harus mengetahui bagaimana cara mempertahankan bisnis itu. Kita harus membuat perencanaan pasar, memperkirakan modal, operasional, straegi pemasaran, dan kemampuan membaca perilaku konsumen.

Peluang pasar digital semakin besar

Pasar digital memiliki potensi yang cukup besar, dilihat dari laporan e-Conomy SEA 2025 yang memperkirakan ekonomi digital indonesia mencapai hampir US$100 miliar pada tahun 2025. Jika kita melihat penjualan melalui video pendek ecommerce di indonesia, kita juga bisa melihat bahwa transaksi ini naik 90 persen secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi pada tahun 2025. Jumlah penjual online yang memanfaatkan fitur video juga meningkat 75%menjadi sekitar 800 ribu.

Bagi produk lokal, kondisi ini bisa dijadikan peluang yang cukup bagus sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Selain dapat menjangau pasar lebih luas, penjualan secara online juga harus bisa membaca pasar untuk bersaing dengan produk serupa.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap pembuatan toko online sebagai tahap akhir dari pemasaran. Padahal pembukaan toko online adalah tahap awal dari pemasaran. Seorang penjual di marketplace harus memikirkan banyak strategi agar produknya tetap menjadi pilihan konsumen. Persaingan di marketplace sangat ketat, banyak sekali pilihan yang disediakan yang bisa membuat konsumen membandingkan produk kita dengan produk lainnya. Perbandingan yang dilakukan oleh konsumen biasanya melalui harga, kualitas, foto produk, ulasan, ongkos kirim dan pelayanan dari toko.

Produk yang dipasarkan harus memiliki target konsumen yang jelas. Misalnya seperti produk wardah, mereka menyasar pasar wanita muslimah usia remaja hingga dewasa kalangan menengah sebagi target utamanya. Jika sudah menentukan target pasar yang jelas, kita bisa menentukan harga pasarnya, desain produknya, bahasa yang digunakan untuk promosi dan konten yang cocok untuk targetnya.

Persaingan Harga Menjadi Tantangan

Marketplace membuat konsumen jadi lebih mudah membandingkan harga dan kualitas produk antara satu toko dengan toko lainnya. Kondisi ini lah yang membuat produk lokal sulit bersaing jika hanya mengandalkan harga yang murah. Karena itu,seorang pelaku usaha harus menonjolkan kualitas produk, keunikan produk, desain unik, atau nilai lokal yang dimiliki. Strategi digital marketing juga tidak cukup hanya dengan mengunggah foto produk. Video pendek, live shopping, ulasan dari pelanggan, dan rekomendasi dari konten kreator lain juga dapat membantu produk lebih mudah ditemukan konsumen.

Biaya Harus Diperhitungkan

Toko online memang dinilai lebih menghemat biaya karena tidak perlu biaya sewa toko fisik, tetapi dalam penjualan online tetap membutuhkan biaya produksi, kemasan, promosi, iklan, administrasi platform, dan tenaga kerja. Pelaku usaha juga perlu membedakan omzet dengan keuntungan.

Misalnya, produk seharga Rp50.000 memiliki biaya produksi Rp30.000, kemasan Rp3.000, serta biaya platform dan promosi Rp5.000. Keuntungan yang tersisa hanya Rp12.000. Jika terlalu sering memberikan diskon, keuntungan dapat semakin kecil. Karena itu, perhitungan break even point penting untuk mengetahui jumlah penjualan yang dibutuhkan agar bisnis yang kita jalankan tidak mengalami kerugian.

Risiko Bisnis Online

Toko online juga memiliki risiko, seperti perubahan algoritma media sosial, kebijakan marketplace, ulasan negatif, retur, keterlambatan pengiriman, hingga persaingan harga. Kita tidak bisa hanya bergantung pada satu platform. Sebagai pelaku usaha, kita sebaiknya menggunakan beberapa platfrom penjualan. Marketplace bisa kita jadikan untuk tempat melakukan transaksi, sementara media sosial bisa digunakan untuk membangun hubungan dengan konsumen dan memperkuat merek melalui konten video pendek.

Toko online dikatakan layak jika strateginya jelas

Toko online memiliki peluang untuk memperluas pasar produk lokal, tetapi pertumbuhan e-commerce tidak otomatis menjamin peningkatan keuntungan. Kelayakan bisnis tetap bergantung pada kebutuhan pasar, keunggulan produk, biaya operasional, strategi pemasaran, dan kemampuan memenuhi pesanan.

Produk lokal dapat memanfaatkan keunikan bahan, desain, proses produksi, atau cerita di balik produk sebagai pembeda. Dengan strategi yang tepat, toko online dapat berfungsi sebagai sarana transaksi sekaligus membangun merek dan memperluas pasar.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah produk lokal perlu masuk ke toko online, tetapi apakah model bisnis yang dipilih mampu menghasilkan penjualan yang sehat dan berkelanjutan.