Konten Jualan Buatan AI Makin Bertebaran, Apakah Pembeli Masih Percaya?

Saya adalah seorang mahasiswa jurusan digital marketing di Universitas Pamulang yang saat ini sudah bekerja di bidang sosial media sebagai Content Creator
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Visca Olivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini jika kita membuka sosial media seperti Tiktok, Instagram, Youtube dan lainnya pasti pernah melihat iklan yang dibuat oleh AI. Sebenarnya iklan model AI ini sangat mudah untuk kita tahu karena feel dari penyampaian yang diberikan akan sedikit kaku, tidak seperti manusia. Bagi penjual, Ai menjadi sebuah kabar baik karena produksi konten jadi cepat dan murah. Tapi hal ini malah menimbulkan pertanyaan, kalau semua terasa buatan Ai, apakah pembeli masih percaya?
Kenapa penjual beralih ke AI?
Sebenarnya alasan ini sudah sangat jelas. Membuat konten setiap hari akan sangat menguras waktu dan tenaga, terutama bagi pelaku UMKM yang mengurus semuanya sendiri. AI dapat membantu kita dalam pemembuatan naskah, caption, gambar produk, sampai video singkat dalam hitungan menit. Di tengah persaingan yang ketat di platform seperti Shopee dan TikTok Shop,Ai akan membantu pekerjaan kita secara cepat dan juga praktis.
Masalah saat ini adalah konten yang dihasilkan AI ini menimbulkan masalah trust pada pelanggan. Tujuan utama dibuatnya konten jualan adalah untuk membangun rasa percaya konsumen kepada brand kita. Orang akan membeli skincare setelah melihat pemakaian nyata, atau membeli baju setelah melihat bagaimana bahan dan bentuk baju itu ketika digunakan di tubuh orang. Ketika visual dinilai terlalu sempurna atau ulasan terdengar seragam, audiens bisa curiga. Beberapa survey yang telah saya ajukan pada beberapa konsumen, mereka mengatakan tidak akan membeli barang ketika penjualan barang tersebut menggunakan Ai, alasan yang mereka berikan yaitu mereka tidak bisa mengetahui gambar asli produk tersebut. Hal ini menyebabkan masalah serius karena menurunnya minat beli konsumen. Walaupun AI sangat praktis digunakan, tetapi AI memiliki kekurangan dari segi hasil konten seperti warna yang berbeda, ukuran yang tidak sesuai, dan tekstur bahan yang tidak seperti barang aslinya, pembeli yang nantinya kecewa akan meninggalkan komentar negatif di ulasan produk.
Saat ini platform besar mulai meminta kreator memberi label pada konten yang dibuat atau diubah AI, dan TikTok maupun Meta sudah mempunyai kebijakan terkait hal ini. Artinya, penjual tidak bisa lagi menganggap AI sebagai jalan pintas yang tidak perlu dijelaskan. Di Indonesia, pelaku usaha juga perlu memperhatikan aturan perlindungan konsumen dan UU Pelindungan Data Pribadi bila memakai data atau wajah orang dalam materi promosi.
Lalu jalan tengah yang bisa kita ambil dalam penggunaan AI yaitu jadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti. Bukan berarti AI harus dihindari. Kita bisa memakai AI untuk pekerjaan di belakang layar, seperti menyusun draf caption, mencari ide hook, atau merapikan naskah. Sementara wajah, suara, dan bukti pemakaian produk tetap dibuat atau diproduksi oleh manusia.
Hal yang bisa dilakukan oleh penjual adalah:
Tunjukkan produk asli, bukan hanya render atau gambar buatan.
Jujur soal penggunaan AI bila memang dipakai dalam materi utama.
Pertahankan suara dan kepribadian brand, karena audiens mengingat karakter, bukan kesempurnaan.
Baca komentar dan insight untuk melihat apakah audiens merespons atau justru menjauh.
AI akan terus dipakai dalam pemasaran digital, dan itu tidak bisa kita hindari. Tapi kepercayaan tetap menjadi Hal utama dalam berjualan. Penjual yang menang bukan yang paling banyak memakai AI, melainkan yang tahu kapan harus memakainya dan kapan harus tampil apa adanya
