Data, Tata Kelola Cerdas, dan Daya Saing Kota di Panggung Global

Saya merupakan mahasiswa semester 7 yang sedang berkuliah di universitas pamulang, Saya memilih jurusan manajemen sumber daya manusia.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Vita Ayu Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Literasi data menentukan seberapa dipercaya, dibiayai, dan tangguhnya sebuah kota di tengah ketidakpastian ekonomi dunia
Kota hari ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simpul ekonomi tempat modal, teknologi, dan talenta bertemu. Karena itu, International Conference “Bridging the Gap: Leveraging Data Literacy to Accelerate PRIMA (Innovative, Advanced, and Smart Governance) for Sustainable and Resilient Cities (SDG 11)” layak dibaca lebih luas daripada urusan administrasi pemerintahan. Di balik tema literasi data dan tata kelola cerdas, ada pertanyaan ekonomi yang besar: bagaimana kota bersaing dan bertahan dalam ekonomi dunia yang semakin tidak pasti?
Kesenjangan yang Nyata
Frasa “bridging the gap” menunjuk pada persoalan yang akrab bagi banyak pemerintah daerah. Data sebenarnya tersedia, mulai dari mobilitas warga, konsumsi energi, hingga risiko banjir. Namun data itu sering tersebar, tidak terstandar, dan belum dipahami penggunanya. Di sinilah literasi data menjadi penentu. Teknologi secanggih apa pun tidak berguna jika pengambil kebijakan tidak mampu membaca, menafsirkan, dan menerjemahkan data menjadi keputusan.
Tata Kelola sebagai Sinyal bagi Investor
Dari sudut pandang ekonomi internasional, kualitas tata kelola adalah sinyal. Investor, lembaga pembiayaan pembangunan, dan mitra teknologi asing mencari kota yang kebijakannya dapat diprediksi, transparan, dan berbasis bukti. Kota dengan data terbuka dan proses perizinan yang terukur menurunkan ketidakpastian, dan ketidakpastian yang rendah berarti biaya modal yang lebih ringan. Dalam konteks ini, kerangka PRIMA yang menekankan tata kelola inovatif, maju, dan cerdas bukan jargon, melainkan modal daya saing.
Agenda SDG 11 juga terhubung langsung dengan arus pembiayaan global. Pembangunan transportasi massal, pengelolaan air dan sampah, serta infrastruktur tahan bencana membutuhkan dana besar. Skema seperti obligasi hijau, pembiayaan campuran (blended finance), dan pinjaman dari lembaga pembangunan multilateral hanya mengalir ke kota yang mampu membuktikan kelayakan proyek dan mengukur dampaknya. Kemampuan membuktikan itu bertumpu pada kualitas data.
Resiliensi adalah Soal Ekonomi
Pandemi, krisis rantai pasok, dan dampak perubahan iklim telah menunjukkan bahwa guncangan global dirasakan pertama kali di kota. Pelabuhan yang tersendat, banjir yang melumpuhkan kawasan industri, atau lonjakan harga pangan semuanya berdampak langsung pada pelaku usaha dan warga. Kota yang resilien adalah kota yang mampu mendeteksi risiko lebih dini dan merespons lebih cepat. Sistem peringatan dini, pemetaan kerentanan, dan analitik prediktif hanya bisa dibangun di atas ekosistem data yang sehat.
Jangan Lupa Sisi Manusia dan Keadilan
Meski demikian, ada catatan penting. Tata kelola cerdas tidak boleh menjadi proyek teknologi yang eksklusif. Jika hanya dinikmati kawasan yang sudah maju, kesenjangan antarkota dan antarwarga justru melebar. Perlindungan data pribadi, keamanan siber, dan inklusi digital harus berjalan beriringan dengan percepatan inovasi. Literasi data pun tidak cukup dimiliki birokrat dan akademisi, tetapi perlu menjangkau warga, pelaku UMKM, dan komunitas agar mereka dapat mengawasi dan ikut berpartisipasi.
Dari Konferensi ke Aksi
Konferensi internasional seperti ini bernilai bila melahirkan kemitraan, bukan hanya komunike. Pertukaran praktik baik antarnegara, standar data yang saling terhubung, dan kolaborasi riset sebaiknya berlanjut menjadi proyek konkret di tingkat kota. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, yang urbanisasinya terus berjalan cepat, momentum ini penting. Kota-kota kita akan menjadi penentu apakah target pembangunan berkelanjutan tercapai atau tertinggal.
Pada akhirnya, jembatan yang hendak dibangun konferensi ini bukan hanya antara data dan kebijakan, tetapi juga antara ambisi lokal dan peluang global. Kota yang melek data akan lebih dipercaya, lebih mudah dibiayai, dan lebih siap menghadapi guncangan. Itulah daya saing yang sesungguhnya.
