Konten dari Pengguna

Talenta Digital Butuh Lebih dari Sekadar Keterampilan Teknis

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vita Ayu Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : pribadi (dokumentasi kegiatan)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pribadi (dokumentasi kegiatan)

Pengalaman Sebagai Investasi Nyata di Masa Depan

Pada 26 September 2026, bersama 20 mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) menghadiri rangkaian kegiatan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x HACKATHON 2026 di Jakarta International Convention Center. Undangan ini datang melalui Direktorat Bina Talenta Sains dan Teknologi, menindaklanjuti permohonan dukungan penyelenggaraan PIDI Digital Talent Expo 2026 dari Bank Indonesia.

Yang menarik, delegasi Unpam tidak hanya berasal dari rumpun teknologi seperti Sistem Informasi dan Teknik Informatika. Ada pula mahasiswa Teknik Industri, Manajemen, dan Akuntansi. Komposisi ini mengirim pesan penting: transformasi digital bukan urusan satu jurusan saja. Sektor keuangan, industri, dan bisnis kini berjalan di atas teknologi, sehingga talenta yang dibutuhkan pun lintas disiplin.

Belajar dari Kelas Career Accelerator

Dari seluruh rangkaian acara, saya mengikuti kelas career accelerator bertajuk “Are You Ready to Global Stage?” bersama narasumber Michael dari English One. Judulnya saja sudah menantang kita. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jujur saja, banyak dari kita, termasuk saya, belum tentu siap menjawabnya dengan percaya diri.

Kelas tersebut mengingatkan saya bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup untuk bersaing di panggung global. Seorang programmer andal, analis data yang tajam, atau calon akuntan yang teliti akan tetap terhambat jika tidak mampu mengomunikasikan gagasannya secara efektif, terutama dalam bahasa Inggris, bahasa pergaulan profesional dunia. Dalam dunia kerja yang makin terhubung lintas negara, kemampuan menyampaikan ide, menulis proposal, mengikuti diskusi, dan membangun jejaring dengan orang dari budaya berbeda adalah bagian dari kompetensi inti, bukan pelengkap.

Hackathon dan ekspo talenta digital pun pada dasarnya adalah ajang menjual gagasan. Solusi terbaik tidak akan berdampak jika tidak bisa dipresentasikan dengan meyakinkan kepada juri, mitra, dan investor.

Kesenjangan yang Perlu Kita Akui

Selama ini percakapan tentang talenta digital di Indonesia cenderung berfokus pada kemampuan teknis: coding, analisis data, keamanan siber. Itu penting. Namun ada kesenjangan yang jarang dibahas, yaitu kesiapan berkomunikasi, beradaptasi, dan bersaing di level internasional. Mahasiswa kerap merasa cukup setelah menguasai perangkat dan teori, padahal dunia kerja menuntut kombinasi hard skill dan soft skill.

Di sinilah kegiatan seperti PIDI – DIGDAYA x HACKATHON 2026 punya nilai. Mahasiswa tidak hanya mendengar materi, tetapi juga bertemu praktisi, melihat langsung arah perkembangan inovasi digital, dan memperluas jejaring. Pengalaman semacam ini sulit digantikan oleh ruang kelas biasa.

Apresiasi dan Harapan

Saya mengapresiasi langkah Universitas Pamulang yang mendelegasikan mahasiswanya dari berbagai program studi. Keputusan itu menunjukkan kampus memahami bahwa pengembangan talenta digital harus melibatkan kolaborasi multidisiplin. Apresiasi juga patut diberikan kepada Bank Indonesia dan penyelenggara yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat.

Namun, pengalaman satu hari tidak akan berarti jika berhenti sebagai kenangan. Ada tiga hal yang menurut saya perlu ditindaklanjuti. Pertama, para delegasi sebaiknya membagikan ilmu dan pengalamannya kepada teman-teman di kampus, agar manfaatnya tidak hanya dinikmati 20 orang. Kedua, kampus dapat memperkuat pembiasaan bahasa Inggris dan kemampuan presentasi dalam kegiatan akademik sehari-hari. Ketiga, mahasiswa perlu berani mencoba, mulai dari mengikuti kompetisi, membangun proyek, hingga membuka diri terhadap peluang global.

Penutup

Pertanyaan “Are you ready to global stage?” pada akhirnya bukan hanya untuk peserta kelas hari itu, melainkan untuk seluruh generasi muda Indonesia. Jawabannya tidak datang dari satu acara, melainkan dari kebiasaan belajar yang konsisten, keberanian keluar dari zona nyaman, dan kemauan terus mengasah diri.

Bagi saya pribadi, kehadiran di PIDI – DIGDAYA x HACKATHON 2026 adalah pengingat bahwa panggung global terbuka lebar. Tugas kita adalah memastikan diri benar-benar siap ketika kesempatan itu tiba.