Konten dari Pengguna

Mau Sukses Perlu Privilege: Benarkah Begitu?

Vitha Lestari

Vitha Lestari

SMA Citra Berkat

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vitha Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina, atas permintaan penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina, atas permintaan penulis.

Topik soal privilege memang tak akan pernah basi di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Dari artinya saja, "hak istimewa", kita sudah tahu bahwa privilege akan memberikan banyak kemudahan bagi siapa pun yang memilikinya.

Kemudahan itu tak selalu dalam bentuk dukungan finansial. Bisa saja bentuknya koneksi sosial, emosional, dan lainnya. Dengan mengantongi privilege itu, dipercaya seseorang bisa mengakses banyak hal dan lebih mudah mencapai kesuksesan.

Seperti misalnya video yang jadi perbincangan warganet akhir-akhir ini tentang pandangan pengusaha muda sekaligus kreator cilik yang baru berusia 10 tahun, Ryu Kintaro, soal betapa "seru" hidup seorang perintis. Tak sedikit yang mengkritik karena merasa definisi "merintis" dan "memulai dari 0" versi Ryu tidak sama dengan kebanyakan masyarakat.

Mengutip lister.co.id, kata perintis merujuk pada seseorang yang memimpin suatu inisiatif atau perubahan dalam bidang tertentu, baik itu inovasi teknologi, pendidikan, atau gerakan sosial. Jika berdasarkan definisi ini, Ryu memang bisa dikatakan sebagai seorang perintis karena berani mengambil risiko dan berinovasi di bidang FnB.

Ryu punya bisnis minuman jamu herbal yang ia beri nama "Tjap Nyonya Kaya". Bisnis ini adalah salah satu bukti bahwa ia memanfaatkan privilege yang diberikan orang tuanya dengan baik di usia belia.

Meski demikian, ucapannya yang menyebut, "...jadi perintis itu seru, enggak ada yang nunjukin arah, enggak ada yang ngejamin hasil, tapi justru di situ letak asyiknya", cenderung tidak relate dengan kebanyakan masyarakat kita.

Kehidupan yang Ryu jalani sebagai anak pengusaha sukses, bisa dikatakan membuat langkahnya menjalankan bisnis sebagai seorang "perintis" lebih mulus ketimbang kebanyakan orang lain. Bagi banyak masyarakat yang merintis, jika bisnis mereka gagal, maka mereka harus mencari lagi modalnya sendiri. Bagi kebanyakan orang itu, gagal bukan pilihan.

Lantas apakah ada cara menjadi "perintis sebenarnya" tanpa menggunakan privilege?

Buat Tujuan yang Jelas

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina , atas permintaan penulis.

Ketika memulai sesuatu sebaiknya kamu sudah menentukan tujuan yang jelas. Dengan demikian, kamu akan lebih terarah di setiap langkahnya.

Hal ini juga bisa membantu ketika kamu ingin melakukan evaluasi saat ada sesuatu yang ingin diperbaiki atau diganti. Kamu bisa memulai dengan menentukan hal apa yang kamu sukai, dengan begitu kamu akan lebih bersemangat dalam menjalankan bisnis.

Perluas Relasi

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina , atas permintaan penulis.

Kamu bisa mulai dengan terjun ke lingkungan yang diisi banyak orang yang sudah berkecimpung di bidang bisnis serupa dengan bisnismu. Dengan demikian, kamu bisa belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang tersebut.

Selain itu, kamu juga akan lebih mudah mempromosikan bisnismu. Dengan bergabung dan membangun lingkungan positif, kamu akan mendapatkan dukungan emosional untuk menjagamu tetap konsisten atas apa yang ingin kamu capai.

Asah dan Kembangkan

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina , atas permintaan penulis.

Kamu tidak akan bisa memulai sebuah bisnis yang kamu tak punya skill di bidang tersebut. Seandainya kamu sudah mengantongi skill yang dibutuhkan, terus asah skill tersebut dan cobalah untuk belajar skill baru.

Dengan cara ini kamu akan lebih mudah bertahan di era yang selalu berkembang dengan cepat seperti sekarang. Jika kamu ingin maju, majukan juga skill yang kamu punya.

Berani Bertindak

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina, atas permintaan penulis.

Asalkan kamu berani mengambil risiko, bisnismu akan lebih mudah berkembang. Kamu bisa mulai dari lebih mempertimbangkan setiap keputusan yang akan kamu ambil.

Dengan cara ini, kamu bisa lebih cepat mempersiapkan diri, bahkan untuk kemungkinan terburuk. Jika kamu tidak takut gagal mengambil risiko, jangan takut juga bisnismu akan gagal.

Buat Trenmu Sendiri

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina, atas permintaan penulis.

Dalam bidang apa pun, bisnis apa pun yang kamu jalani, tidak ada alasan untuk tidak menjadi kreatif dan inovatif. Bisnismu tidak akan bertahan lama jika kamu cuma menunggu peluang datang.

Ciptakan peluang itu sendiri. Dengan kreativitas dan inovasi, kamu juga akan lebih siap dan mudah jika dihadapkan pada suatu masalah.

Bangun Pencitraan

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina , atas permintaan penulis.

Pencitraan tak selalu berkonotasi negatif, lho. Arti pencitraan di sini adalah membangun kesan yang baik atau unik terkait dengan bisnis atau dirimu, sehingga orang-orang bisa lebih mudah mengenali.

Dengan membangun citra atau branding yang unik, bisnismu akan lebih mudah diingat banyak orang dan dengan demikian, kesan baik kamu juga akan lebih dipercaya masyarakat.

Bangun Sikap Tangguh

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI — Dreamina, atas permintaan penulis.

Apabila kamu tidak memiliki sikap tangguh, bisa dipastikan bisnismu tidak akan bertahan lebih dari satu bulan. Dalam menjalankan sebuah bisnis, tantangan akan selalu ada di perjalanannya. Seandainya kamu gagal pada satu rintangan dan memutuskan menyerah, usaha yang telah kamu bangun akan terhenti selamanya.

Untuk bisa membangun sikap tangguh, ada banyak cara yang bisa dilakukan tergantung pada kepribadianmu. Beberapa contohnya adalah tidak takut jika gagal dan menerima kenyataan bahwa kita hanya perlu mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan.

Dengan seseorang memiliki privilege bukan berarti akan otomatis menjadi sukses. Ia tetap butuh berusaha, namun usahanya tidak akan sebesar orang lain yang tidak punya privilege.

Menurut profesor psikologi Angela Duckworth, hal yang paling menentukan kesuksesan seseorang adalah kegigihan, seperti yang ia jelaskan dalam bukunya, "Grit-Why Passion and Resilience are the Secrets to Success". Jadi kesuksesan seseorang itu tidak benar-benar ditentukan oleh privilege yang dimiliki, tapi seberapa hebat mereka bisa bersaing di masyarakat.