Konten dari Pengguna

Di Balik Bahasa Viral: Cara Generasi Z Membentuk Makna Lewat Stilistika

Sahir Fifi Natasha

Sahir Fifi Natasha

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia Universitas Mulawarman

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sahir Fifi Natasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kumpul bersama. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kumpul bersama. Foto: Shutterstock

Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi, dan Generasi Z berada di garis depan perubahan tersebut. Setiap hari, kita disuguhi berbagai istilah baru yang cepat viral mulai dari kata-kata santai hingga ungkapan yang sarat makna emosional. Sekilas terlihat sederhana, tetapi jika ditelaah lebih dalam, gaya bahasa ini menyimpan pola yang menarik untuk dikaji melalui stilistika.

sebagai ilmu yang mempelajari gaya bahasa, membantu kita memahami bahwa setiap pilihan kata memiliki tujuan tertentu. Bahasa yang digunakan Generasi Z di media sosial tidak muncul secara acak. Ada kecenderungan untuk memilih kata yang ringkas, ekspresif, dan mudah dipahami dalam konteks digital yang serba cepat.

Misalnya, penggunaan kata seperti “relate”, “valid”, atau “healing” sering kali bukan hanya sebagai kata, tetapi juga sebagai simbol pengalaman bersama. Ketika seseorang mengatakan “ini relate banget”, ia tidak hanya menyatakan kesamaan, tetapi juga membangun koneksi emosional dengan orang lain. Dalam perspektif stilistika, hal ini menunjukkan bagaimana bahasa dapat memperkuat rasa kebersamaan.

Ilustrasi kebersamaan. Foto: Shutterstock

Selain itu, gaya bahasa Generasi Z juga sering memanfaatkan unsur humor dan ironi. Banyak ungkapan yang secara literal terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang lebih dalam atau bahkan bertolak belakang. Ini menunjukkan adanya permainan makna yang menjadi ciri khas komunikasi digital saat ini.

Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana batas antara bahasa formal dan informal semakin kabur. Bahasa yang dulunya dianggap tidak baku kini justru menjadi dominan di ruang publik digital. Dalam kajian stilistika, perubahan ini menandakan adanya pergeseran norma berbahasa yang dipengaruhi oleh konteks dan media.

Namun, yang paling menarik adalah bagaimana bahasa viral ini mampu membentuk cara pandang. Kata-kata yang sering digunakan akan memengaruhi cara seseorang memahami realitas. Misalnya, istilah seperti “overthinking” atau “burnout” membuat pengalaman psikologis tertentu menjadi lebih mudah dikenali dan dibicarakan.

Melalui stilistika, kita dapat melihat bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat konstruksi makna. Generasi Z, dengan segala kreativitasnya, tidak hanya menggunakan bahasa, tetapi juga menciptakan cara baru dalam memaknai dunia.

Pada akhirnya, fenomena bahasa viral ini bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah bukti bahwa bahasa terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan zaman. Dan di balik setiap kata yang tampak sederhana, selalu ada makna yang lebih dalam untuk dipahami.