Standar Ganda Yang Terjadi Setiap Hari Tanpa Disadari

Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Vania Noviandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah Anda bahwa dalam sehari, kita mungkin tanpa sadar menerapkan standar ganda lebih dari 10 kali? Dari cara menilai teman hingga reaksi terhadap berita selebritas, ketidakadilan ini tersembunyi di balik kebiasaan sehari-hari. Dari cara berbicara hingga sikap terhadap orang lain, standar ganda ada di mana-mana. Standar ganda dapat berlaku dalam gender, pendidikan, politik, dan masih banyak lagi.
Standar ganda ini dapat dikatakan menjadi suatu kebiasaan dalam menilai sesuatu. Biasanya standar ganda digunakan untuk menilai objek atau suatu kejadian yang serupa namun dengan reaksi dan penilaian berbeda secara tidak adil atau terlihat mendukung salah satu saja. Hal ini sering kali kita temui bahkan mungkin kita sendiri seperti itu.
Padahal sudah banyak sekali organisasi dan para pelaku kepentingan yang mulai membuka suara terkait kesetaraan dan keadilan. Organisasi seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) aktif mendorong sinergi lintas sektor untuk menciptakan kebijakan inklusif bagi perempuan. Selain itu, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menjadi platform penting bagi perempuan ulama dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan menanggulangi kekerasan berbasis gender. Organisasi seperti Aisyiyah, bagian dari Muhammadiyah, juga berperan dalam pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan layanan sosial. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan komitmen bersama untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia.
Tidak dipungkiri bahwa budaya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan standar ganda masih berlaku di Indonesia seperti pemikiran patriarki yang cukup kuat. Misalnya, laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah tangga dianggap keren dan berwibawa, tetapi jika perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga dianggap biasa saja dan sudah kewajibannya. Contoh lainnya, perempuan yang sudah memiliki suami dan bekerja dianggap tidak peduli dengan pekerjaan rumah tangga serta tidak mengurus suami. Tetapi, jika suami yang bekerja dianggap memang sudah tanggung jawabnya, jika suami tidak bekerja akan dianggap hanya menumpang hidup saja pada istrinya. Pada kenyataannya pemikiran seperti ini masih banyak sekali terjadi.
Di era kemajuan teknologi saat ini, masih cukup banyak masyarakat khususnya di Indonesia yang tidak sadar bahwa standar ganda dapat terjadi dimana saja termasuk seperti di dunia maya. Dalam dunia maya, standar ganda sering kali muncul dalam bentuk komentar atau penilaian terhadap konten yang dibagikan oleh individu. Misalnya, seorang perempuan yang memposting foto dirinya dengan pakaian tertentu sering kali mendapat komentar negatif seperti "terlalu seksi" atau "mencari perhatian". Sementara itu, laki-laki yang memposting foto serupa mungkin hanya mendapat pujian atau bahkan tidak ada komentar sama sekali. Fenomena ini menunjukkan adanya perlakuan yang berbeda berdasarkan gender, meskipun situasinya serupa.
Selain itu, standar ganda juga terlihat dalam cara masyarakat menilai konten yang dibagikan oleh individu berdasarkan status sosial atau latar belakang mereka. Seorang influencer dengan jumlah pengikut yang banyak mungkin mendapatkan pujian dan dukungan atas kontennya, sementara individu dengan jumlah pengikut yang lebih sedikit mungkin dianggap tidak relevan atau tidak penting. Hal ini mencerminkan adanya ketidakadilan dalam cara masyarakat menilai konten di dunia maya.
Pada dasarnya standar ganda terjadi karena adanya kebebasan berpendapat yang menjadikan seseorang mulai bebas untuk menilai apapun. Akibatnya kebebasan berpendapat ini sering kali disalahgunakan. Di dunia may, misalnya, orang menyebar opini tanpa mempertimbangkan batas etika dan konsekuensi legal. UU ITE yang ambigu sering digunakan untuk membungkam kritik, sementara pendapat yang sama dibebaskan jika datang dari kalangan tertentu. Kondisi ini juga menciptakan standar ganda: suara dari elite diberi ruang, sementara suara rakyat biasa justru disensor. Studi menunjukkan 62,9% masyarakat merasa takut mengungkapkan pendapat akibat penerapan UU ITE. Dengan demikian, kebebasan berpendapat tanpa kendali yang jelas malah memperkokoh standar ganda di masyarakat.
Fenomena standar ganda ini masih terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Meskipun sering kali tidak disadari, penerapan standar ganda dapat memiliki dampak negatif terhadap individu dan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk menyadari adanya standar ganda dan berupaya untuk mengurangi serta mengatasinya. Dengan kesadaran dan tindakan bersama, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara, di mana setiap individu diperlakukan dengan hormat dan kesempatan yang sama, tanpa memandang gender, status sosial, atau latar belakang mereka.
