Peran Media Sosial Terhadap Perkembangan Korean Wave

Salah Satu Mahasiswa di UMY - IK19
Tulisan dari Vivian Vebryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seiring bergantinya zaman tentunya teknologi yang ada menjadi semakin canggih, tak terkecuali teknologi komunikasi.
Pada era yang serba digital ini, masyarakat sudah lekat dengan media. Salah satunya adalah media sosial. Masyarakat yang aktif menggunakan media ini disebut khayalak. Menurut Cangara (2007 : 25), khalayak dapat di definisikan sebagai pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber (yang dapat berupa satu orang atau lebih, baik kelompok, partai, atau negara). Salah satu imbas dari perkembangan teknologi komunikasi yaitu munculnya pop culture (budaya populer). Budaya populer sendiri di definisikan sebagai “culture of the people” atau budaya orang-orang. Hal ini dikarenakan budaya populer tidak hanya dijadikan sebagai konsumsi saja, namun dapat dijadikan sebagai produk industri, bahkan komoditas.
Adanya media sosial dapat mempengaruhi budaya yang ada di masyarakat, karena media dapat memproduksi sebuah bentuk budaya kemudian menyebarkan informasi tersebut agar suatu produk budaya dapat menjadi populer. Sehingga apa yang diproduksi oleh media akan diterima oleh publik sebagai suatu nilai (budaya) yang bahkan bisa menjadi panutan masyarakat. Selain itu, dengan kemudahan memakai media sosial, informasi dalam bentuk apapun bisa kita dapatkan meskipun berasal dari belahan dunia lain.
Salah satu contoh budaya populer yang sedang booming di Indonesia (dan bahkan di seluruh dunia) yaitu budaya Korea atau yang disebut sebagai Korean Wave. Di Indonesia sendiri Korean Wave biasanya lebih dikenal melalui dunia hiburan yang berupa musik (K-Pop), drama (K-Drama) dan juga variety shows mereka yang memiliki konsep menarik. Dampak dari Korean Wave ini dapat dilihat dari kalangan generasi millenial. Salah satu produk dari budaya Korea yang paling diminati yaitu K-Pop, yang dibuktikan dengan tingginya angka streaming MV (Music Video) K-Pop yang berasal dari Indonesia, dan juga banyaknya grup dance cover khusus lagu Korea yang bermunculan.
Budaya Kpop sendiri mulai merambah ke Indonesia sekitar tahun 2012, dimana pada saat itu K-Pop sedang berada pada masa kejayaan. Hal ini berawal dari lagu milik PSY dengan judul “Gangnam Style” sedang booming dimana-mana. Kemudian dari situ orang-orang banyak yang mulai mencari mengenai Korea dan K-Pop melalu berbagai macam media, seperti YouTube atau Instagram.
Pada tahun ini tingkat ketertarikan orang-orang pada budaya Korea semakin meningkat, karna disaat pandemi seperti ini orang-orang sulit untuk melepaskan penatnya, sehingga banyak yang memilih untuk menghibur diri dengan cara menonton drama Korea atau melihat variety shows mengenai K-Pop idol yang sedang “naik daun”.
Disini media sosial seperti YouTube dan Twitter sangat mempermudah orang-orang untuk mencari informasi mengenai apa saja drama, MV K-Pop atau acara yang sedang nge-trend, karena mereka mempunyai fitur yang sama, yaitu fitur “Trending”. Dengan fitur ini kita dapat melihat apa saja yang sedang nge-trend. Di Twitter sendiri biasanya orang-orang penasaran dengan banyaknya hashtag dengan topik K-Pop yang sedang trending, kemudian dari situ mereka dapat memperluas mengenai apa yang dicari.
Munculnya budaya populer dapat memberikan beberapa perubahan terhadap gaya hidup yang dapat berupa seperti hedonisme dan materialisme, yang dikarenakan budaya populer ini lebih fokus kepada emosi dan kepuasan. Salah satu contoh dari hedonisme ini dapat dilihat dari pembelian merchandise K-Pop. Dalam album K-Pop terdapat merchandise yang berupa PC (Photo Card), Post Card, Sticker dan lain sebagainya. Biasanya saat idol favorit mereka merilis album baru, para fans K-Pop akan membeli album dengan harapan akan mendapatkan PC bias-nya (seorang idol yang sangat digemari), jika nanti tidak mendapatkan PC bias-nya maka mereka akan mencoba mencari sampai dapat kemudian membelinya, atau bisa juga dengan cara trading.
Adapun perubahan terhadap tingkah laku yang dapat berupa seperti imitasi. Imitasi sendiri merupakan teknik pengembangan tingkah laku yang dimana seorang individu akan meniru sesuatu dari apa yang ia observasi dan ia jadikan sebagai role model, mulai dari penampilan hingga kebiasaan. Banyak remaja yang sedang mencari jati dirinya, sehingga dimasa-masa tersebut remaja banyak mencoba hal-hal baru. Remaja yang merupakan seorang K-Popers dapat mengalami perubahan gaya pakaian, yang perlahan tapi pasti akan berubah menjadi “Korean style”. Dengan memanfaatkan media sosial yang ada (seperti akun khusus untuk Korean style) mempermudah untuk merubah gaya pakaian.
Kemudian cara berbicara dapat berubah menjadi sedikit ke-koreaan seperti pemakaian kata jinjja (yang berarti serius) saat memberikan reaksi ketidakpercayaan, atau pemakaian kata daebak saat melihat sesuatu yang “wah”.
Di Indonesia, kedua hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya influencers yang menyukai K-Pop mengadakan unboxing album atau membeli merchandise official milik grup K-Pop tersebut, menonton konser, dan berpakaian dengan style ala Korea, mulai dari warna rambut, make up, aksesoris dan juga outfit yang mereka pakai.
Vivian Vebryanti (030), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
