Perjuangan Mahasiswa Sebagai Driver GoJek saat Pandemi

Salah Satu Mahasiswa di UMY - IK19
Tulisan dari Vivian Vebryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANTUL, Yogyakarta –
Di dalam dunia perkuliahan terdapat beberapa tipe mahasiswa.
Tipe pertama, ada mahasiswa yang kerjaannya hanya kuliah lalu pulang, tipe kedua, ada mahasiswa yang setelah pulang kuliah selalu mengikuti rapat, dan ada juga mahasiswa yang kuliah disambi kerja sampingan.
Seperti Ahmad Rizky atau yang biasa disapa sebagai Sibe (19), dirinya merupakan seorang mahasiswa dari Universitas PGRI Yogyakarta.
Setelah dirinya lulus SMA (2019), Sibe memutuskan untuk bergabung dengan mitra GoJek ini. Kurang lebih saat ini dirinya sudah satu tahun bergabung. Orang tua Sibe menyetujui keputusan anak sulungnya itu selama apa yang dikerjakan merupakan hal yang positif dan bermanfaat. Tak lupa juga orang tuanya berpesan kepada Sibe, agar tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa yaitu kuliah.
Pada usia yang sudah matang, remaja sedang aktif untuk mencoba hal-hal baru. Sibe mengungkapkan bahwa dirinya bergabung dengan mitra GoJek dikarenakan ingin mempunyai penghasilan sendiri, sekaligus meringankan beban orang tuanya. Bagi Sibe, menjadi driver GoJek merupakan kerja sampingan yang bisa fleksibel dengan jadwal kuliahnya.
Pada awalnya Sibe mendaftar GoJek karena iseng saja, namun akhirnya Sibe memutuskan untuk serius menjadi salah satu bagian dari GoJek.
Jika dilihat dari jadwal perkuliahan yang padat, belum lagi jika ada tugas-tugas yang diberikan oleh dosen, rasanya sedikit mustahil untuk bisa membagi waktu yang seimbang antara pekerjaan dan perkuliahan. Maka dengan segala pertimbangan, Sibe tetap mengutamakan kuliah.
“Saya tetap menjalankan perkuliahan terlebih dahulu, karena itu yang menjadi prioritas utama saya”, ujarnya.
Sibe merasa kegiatan kuliahnya tidak terganggu meskipun dirinya bekerja sebagai driver GoJek. Jika perkuliahan sedang berlangsung, maka akun GoJeknya dinon-aktifkan terlebih dahulu. Setelah selesai sesi perkuliahan, barulah dirinya mengaktifkan akunnya. Dengan itu, perkuliahan tetap lancar, pekerjaan juga lancar.
Sibe merasa jadwal yang sekarang sudah cukup padat. Sehingga dirinya tidak mengikuti kegiatan lain seperti UKM.
“Saya khawatir, jika saya mengikuti kegiatan lain dari kampus akan membuat saya kesusahan untuk membagi waktu. Jika nanti saya tidak bisa membagi waktu dengan tepat, hasil yang saya dapatkan menjadi tidak maksimal”. Ungkapnya.
Masa pandemi ini sangat berpengaruh terhadap sektor perekonomian dan pekerjaan. Tak terkecuali pada driver GoJek. Sibe merasakan dampak langsung dari adanya pandemi ini.
“Semenjak adanya pandemi, pesanan yang saya dapatkan menjadi sedikit. Karena saat masa-masa pandemi seperti ini kan banyak yang belajar online, lalu ada juga mahasiswa yang pulang ke daerah asalnya, jadi orang-orang yang memakai GoJek berkurang”. Ungkapnya.
Adanya pertambahan pada angka yang terkena Covid-19 ini membuat orang-orang menjadi ragu untuk menggunakan jasa ojek online dengan alasan kesehatan. Driver GoJek dituntut untuk beradaptasi dengan keadaan new normal ini. Maka dari itu, sebagai driver harus pintar-pintar mencari pelanggan.
“Meskipun rezeki itu sudah ada yang mengatur, tetap saja sebagai manusia kita harus berusaha. Kalau kita mau berusaha, pasti kita dapat. Tak lupa juga, harus mematuhi protokol kesehatan yang ada di Indonesia”, ujarnya.
Upah yang Sibe dapatkan dari hasil pesanan yang diterima, ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Baik itu untuk membeli peralatan dan buku untuk kuliah, maupun untuk menyenangkan diri sendiri dengan cara jajan. Sibe juga menyisihkan sebagian dari pendapatannya.
“Hasil dari ngegojek saya tabung juga. Karena, jika suatu saat saya ingin membeli sesuatu kan sudah ada duit nya. Jadi tidak perlu minta kepada orang tua”. Ujar Sibe.
