Konten dari Pengguna

Beropini di Media Sosial Twitter, Menggiring Opini Publik?

Vina Ndaru Salasia

Vina Ndaru Salasia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vina Ndaru Salasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bermain Twitter di gadget. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain Twitter di gadget. Foto: Pixabay

Seiring berjalannya waktu, kini teknologi sudah semakin canggih. Apalagi di era globalisasi seperti ini perkembangan telekomunikasi dan informatika (IT) sudah begitu pesat dan maju. Terjadinya globalisasi dikarenakan adanya pertukaran pandangan terhadap dunia, produk, pemikiran, dan segala aspek-aspek kebudayaan lainnya.

Kemajuan telekomunikasi merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong interdependensi atau ketergantungan aktivitas ekonomi dan budaya. Menurut Jan Art Scholte, globalisasi memiliki definisi internasionalisasi yang mengartikan globalisasi sebagai meningkatnya hubungan internasional.

Hal ini membuat setiap negara harus mempertahankan identitasnya masing-masing dan tentu saja akan menjadi semakin tergantung satu sama lain. Meningkatnya hubungan internasional antar negara menjadikan masyarakat lebih terbuka terhadap pengetahuan global. Sebagaimana teknologi membuat jarak tidaklah menjadi masalah dalam berkomunikasi.

Kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab berkembangnya berbagai macam media online seperti adanya media sosial. Ketersediaan media yang sangat mendukung membuat masyarakat mudah menerima informasi dari mana saja dan kapan saja.

Secara umum, media sosial adalah suatu media daring yang dapat memudahkan para penggunanya untuk melakukan interaksi sosial secara online. Dengan media sosial, mereka bisa berkomunikasi, networking, berbagi, dan masih banyak kegiatan lainnya. Media sosial yang sering digunakan oleh masyarakat pada saat ini adalah Instagram, TikTok, Facebook, Youtube, Twitter, dan lain sebagainya.

Media sosial merupakan suatu situs jaringan sosial seperti layanan berbasis web yang memungkinkan setiap orang dapat membangun profil publik. Media daring ini dapat digunakan untuk mengetahui daftar-daftar pengguna yang sedang terhubung dengan mereka dan menjelajahi daftar koneksi yang dibuat oleh orang lain dengan menggunakan suatu sistem (Henderi et al, 2007).

Berdasarkan Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 9 November 2020, penggunaan internet di Indonesia mencapai angka 196,7 juta jiwa. Salah satu penggunaan media sosial terbanyak di Indonesia adalah Twitter. Media sosial twitter bisa dibilang memiliki pengaruh yang besar dalam menyampaikan informasi. Bahkan platform ini dapat menggeser peran media konvensional.

Karakter media sosial twitter yang tergolong bebas seperti dengan adanya pesan yang tidak terkontrol dan dapat disebarkan ke banyak orang menjadikan para aktor politik berlomba-lomba dalam menggiring opini publik. Tidak hanya berita positif, dalam media sosial twitter juga banyak beredar berita bohong (hoax) ataupun berita palsu (fake news).

Beberapa berita mungkin saja menarik perhatian para pengguna twitter untuk diperbincangkan. Biasanya akan menjadi trending di twitter dan akan menjadi isu hangat yang akan dibahas beberapa hari ke depan. Dengan berita itu menjadi trending, akan memunculkan cuitan-cuitan dari para pemilik akun tentang pandangan-pandangannya.

Contohnya saja pada kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Peristiwa itu terjadi pada saat Novel usai melaksanakan salat subuh di masjid dekat rumahnya. Banyak yang menganggap bahwa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan adalah sebuah konspirasi.

Dikatakan seperti itu karena Novel Baswedan merupakan penyidik KPK yang menangani beberapa kasus korupsi. Banyak yang menanggapi bahwa kasus penyiraman air keras itu merupakan salah satu penyerangan aktor politik yang membayar oknum untuk melakukannya dan memiliki orang kuat di dalamnya. Hal itu yang membuat polisi tidak segera menemukan pelakunya.

Berita itu terus saja memunculkan opini-opini dari para pengguna twitter untuk saling bertukar pendapat. Bahkan ada saja tim pro dan kontra mengenai kasus penyiraman air keras ini. Biasanya ada beberapa oknum yang memprovokasi dengan rasionalisasi sehingga menyebabkan opini public akan tergiring dengan gagasan yang sama.

Jadi, yang memunculkan berbagai opini di platform tersebut adalah seseorang yang mencoba mengeluarkan pendapat tentang apa yang ada di pikirannya. Sebenarnya setiap orang pasti sudah memiliki persepsinya masing-masing, tetapi dengan adanya opini baru yang muncul dalam komunikasi politik tersebut dapat menggiring seseorang dalam persepsi yang baru.

Apalagi jika ada kasus seperti penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, pasti ada beberapa public figure yang beropini dan itu akan menjadikan acuan beropini masyarakat. Contohnya saja video berdurasi 1 menit 43 detik dari komika Bintang Emon yang mengomentari tentang kasus penyiraman air keras. Dengan adanya video itu secara tidak langsung sudah menggiring beberapa opini masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri penyampaian pesan dalam media sosial terutama di twitter akan sangat cepat mendapatkan feedback dari khalayak dan tentu saja menimbulkan opini publik. Karena akses internet yang sangat mudah dilakukan di mana saja dan kapan saja. Media sosial sangat mudah untuk menjadikan opini publik yang terarah.

Berita atau informasi yang ada di media sosial tidak dibatasi oleh ruang. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dalam melakukan penyebaran informasi yang positif melalui media sosial untuk kepentingan umum. Dan sudah sepatutnya masyarakat tidak menerima mentah-mentah informasi tersebut. Masyarakat harus pintar mengkritisi sumber informasi terkait dengan kebenarannya sebelum beropini.

Vina Ndaru Salasia, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia.