Konten dari Pengguna

Dari Lapak Buku ke Kanvas Kehidupan: Kisah Ki Mugo, Tokoh Seni Lukis Banyumasan

Vrizka Alifia Nurwandah

Vrizka Alifia Nurwandah

Mahasiswa Universitas Amikom Purwokerto - Ilmu Komunikasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vrizka Alifia Nurwandah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ki Mugo Sumedi (65) Kamis,1/1/2026. Sumber: Dokumentasi penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ki Mugo Sumedi (65) Kamis,1/1/2026. Sumber: Dokumentasi penulis.

Perjalanan Ki Mugo sebagai Pelukis Realis Banyumas

BANYUMAS – Di depan gubug yang penuh dengan lukisan, di Banyumas seorang pria paruh baya dengan rambut hitam panjang ikal yang mulai memutih tampak tenang di balik kanvasnya. Mengenakan celana batik khas yang menjadi identitasnya, jemari yang mulai keriput itu menari lincah, memindahkan nyawa ke atas kanvas putih. Ia adalah Mugo Sumedi, atau yang lebih akrab disapa Ki Mugo, sosok pelukis realis jalanan yang mendedikasikan hidupnya pada garis dan warna.

Ia lahir di era 1960-an sebagai anak laki-laki di antara sepuluh bersaudara, darah seni Ki Mugo bukanlah muncul tanpa sebab. Melainkan bakatnya mengalir deras dari sang ayah yang tidak lain juga merupakan seorang seniman Wayang Wong di Gombong, Kebumen. Namun, perjalanan Ki Mugo menuju palet lukis tidaklah instan.

Dari Lapak Buku ke Kanvas Kehidupan, sebelum dikenal sebagai "Pelukis Banyumasan", Ki Mugo pernah mengadu nasib di hiruk-pikuk Ibu Kota sebagai pedagang buku serta majalah. Barulah pada tahun 1990, ia memutuskan gantung keranjang dagangan dan sepenuhnya memegang kuas lukis.

Menurut Ki Mugo melukis bukanlah cita-citanya namun Ki Mugo percaya dan mempunyai kemauan."Kita bisa ya karena ada kemauan," ujarnya pendek. Bagi Ki Mugo, konsistensi adalah harga mati. Dengan tangan cokelatnya yang legam terpapar matahari jalanan, ia mewajibkan dirinya untuk melukis setiap hari. Baginya, melukis bukan sekadar hobi, melainkan bentuk rasa syukur dan ikhtiar untuk menghidupi ketiga anaknya hingga tuntas menempuh pendidikan.

Namun ada hal yang membedakan Ki Mugo dengan pelukis realis lainnya. Baginya, melukis adalah proses spiritual yang sakral. Ia memegang teguh prinsip bahwa setiap objek yang ia lukis memiliki "jiwa".

Galeri Lukisan Ki Mugo di Saung Seni Ki Mugo Sumedi. Sumber: Dokumentasi Penulis

"Trik yang saya gunakan sebelum melukis adalah tembang tembung. Saya izin dulu kepada yang mau dilukis agar diberi kelancaran," ungkapnya sambil menunjuk sebuah lukisan tokoh legenda yang tampak hidup dan berkarakter.

Izin dan restu inilah yang menurutnya membuat sebuah karya tidak hanya indah dipandang, tapi juga memiliki "ruh". Ia tak jarang mengingatkan bahwa seni lukisan tangan tidak akan pernah bisa disamakan dengan hasil mesin. "Lukisan itu tidak bisa sama persis dengan foto, bahkan dengan mesin fotokopi sekalipun," tambahnya dengan senyum tipis yang tulus.

Meski kini fisiknya tak lagi seprima dulu saat ia mampu menyelesaikan empat lukisan besar dalam seminggu semangat Ki Mugo tak kunjung padam. Jika jenuh datang menyapa, ia punya resep sederhana yaitu dengan segelas kopi hitam dan dibersamai obrolan hangat bersama kawan-kawan sejawat.

Perjalanan panjang Ki Mugo juga sempat membawanya menjadi seorang dalang Wayang Golek. Lewat wayang, ia menyisipkan nilai-nilai religi, hal itu merupakan sebuah bentuk pengabdian lain kepada Sang Pencipta. Kini, di masa tuanya, melukis baginya adalah obat untuk membunuh kebosanan dunia.

Di balik kesuksesannya bertahan sebagai seniman jalanan, Ki Mugo selalu menyebut satu nama istrinya. Dukungan tanpa henti dari sang istri adalah bahan bakar utama yang membuatnya tetap tegak berdiri. "Semua perjalanan ini tidak ada yang sia-sia. Istri bahagia, saya pun bahagia," pungkasnya.

Kini, Ki Mugo terus berkarya di sisi jalan, memperkenalkan keindahan lukisan realisme kepada setiap pelintas, sembari terus memahat bukti bahwa konsistensi dan kerendahan hati adalah kuas terbaik dalam melukis takdir kehidupan.