Konten dari Pengguna

Autisme Ritmis: Berawal dari Tatalu Bima Satria

Vudu Abdul Rahman

Vudu Abdul Rahman

Multiliteracy & Multiple Intelligence Enthusiast

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vudu Abdul Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semua orang berbakat musik. Jika tidak, mengapa Tuhan memberimu jantung terus berdenyut? –Mitch Albom.

Dokumentasi Pribadi: Bima dan Teman-Teman Berfoto Bersama di Ruang Literasi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi: Bima dan Teman-Teman Berfoto Bersama di Ruang Literasi

Pada tiap jam istirahat, kedua pasang mata di antara pintu dan engsel ruang literasi sekelebat terlihat. Hal itu kerap terjadi ketika saya berada di dalam ruang tersebut di awal semester, tahun 2016. Sosok anak lelaki berumur 10 tahun itu bernama Bima Satria. Jika saya menengadahkan kepala ke arah pintu, ia terpaku, diam, dan menghilang. Itulah kesan pertama yang pada akhirnya membuat saya bertanya-tanya tentang sosok dirinya. Ada semacam frekuensi yang ingin diantarkan dirinya kepada saya. Bima seolah ingin mengungkapkan kegelisahannya sejak kelas 1 SD.

Saya mendapatkan informasi dari orang tuanya, bahwa Bima kerap berteriak, terkejut, dan mengangkat tubuh dengan tergesa dari tempat tidur. Terbangun dengan gelisah, melamun, dan menundukkan kepala di kamarnya. Peristiwa yang sama dalam waktu yang lama, kerap terjadi setiap bangun pagi berkali-kali. Menurut pengakuan Bambang Setio Pribadi, ayah Bima, anak lelakinya ini kejang-kejang saat usianya masih 40 hari. Dokter pribadinya menyarankan untuk berobat selama dua tahun. Ketika berusia lima tahun, Bima diuji seorang psikolog yang hasil IQ-nya normal, tapi motorik halusnya terganggu. Tingkat konsentrasi lemah, sehingga untuk mengikuti pembelajaran sangat sulit. Meskipun memperhatikan, pikirannya melayang ke sebuah dimensi yang tidak dimengerti orang-orang di sekitarnya.

Kelas Berisik

Peristiwa bermula saat kedua tangan Bima mengetuk-ngetuk meja. Ketukan-ketukan itu membuatnya tak bisa diam. Mula-mula entakannya pelan kemudian semakin cepat hingga membuatnya lepas kendali.

“Siapa yang mengetuk-ngetuk meja?” tanya saya ketika menulis pelajaran pada papan tulis. Seluruh siswa serentak mengarahkan telunjuknya kepada Bima. Saya tidak memarahinya, tetapi memberi penjelasan tentang musik ritmis untuk menjaga perasaannya. Teman-temannya merasa risih, terganggu, dan terkadang melahirkan konflik baru setiap hari. Termasuk kebiasaannya tatalu pada meja yang membuat gaduh dan mengganggu seisi kelas. Di sinilah saya mulai diuji dalam mengarahkan seorang anak dengan perilaku yang tidak terduga.

Pada suatu pagi, gerbang sekolah hampir saja ditutup oleh Pak Ajat—seorang penjaga sekolah. Bima menghentikan dorongan tangan Pak Ajat, yang biasa melaksanakan tugas pada saat matahari setinggi pundak. Bima pun menyandarkan sepeda di tempat parkir di pinggir lapang sekolah. Ia berlari menuju ruang kelas 4 yang berada di lantai 2. Akan tetapi, sebelum ia beranjak ke kelas, kelompok rampak kendang kelas lima menghentikan langkahnya.

Setiap mendengar ketukan, getaran menelusuk ke labirin telinga, melaju cepat ke dalam pikiran, dan dinikmati bersamaan entakan-entakannya. Bima senang memukul-mukul sebuah benda, pandangannya tidak fokus, dan konsentrasinya lemah. Setiap saya menjelaskan materi di depan kelas, ia kerap tidak memperhatikan. Kerap kali berpindah-pindah tempat dan menghampiri teman-temannya di bangku lain. Begitulah kesehariannya, seorang anak berkebutuhan khusus yang duduk di bangku kelas 4 SDN. Perumnas Cisalak. Apabila sebuah entakan terdengar, kepalanya tidak berhenti bergerak dan mengikuti getaran pukulan-pukulan sebuah benda. Gerakan kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan, jika tidak terkendali terlihat seperti pusaran.

Bima berdiri hampir setengah jam di balik pintu ruang kesenian, kedua kakinya melangkah sembarang, dan berjalan lesu menuju kelas.

“Sebenarnya, aku ingin menjadi pemain rampak kendang. Tapi ...,” akunya suatu hari sambil menginjaki anak-anak tangga.

Sebuah peristiwa yang dihadapi pertama kali di kelas empat ini, membuat saya terkejut. Berinteraksi dengan sosok Bima yang menyembunyikan anugerah terbesarnya di bawah laut kesadaran. Saya kemudian mengubah titik koordinat sudut pandang terhadapnya. Mencari celah sebagai pintu masuk untuk kemudian membawanya ke atas permukaan. Saya berusaha menggali Bima hingga tempat terdalam psikenya. Meskipun berusaha hadir di antara siswa di sebuah sekolah umum, saya memahami ketidakpercayaan dirinya. Perlu waktu lama dan menjaga perasaan agar dapat memaksimalkan sebuah pendekatan. Mulai berkomunikasi dengan dirinya, orang tuanya, teman sejawat, dan kepala sekolah. Kolaborasi berbagai pihak merupakan jembatan dalam menghubungkan pelayanan terbaik antara seorang guru dengan seorang anak berkebutuhan khusus.

Pada suatu hari, saya mengajaknya ke ruang literasi untuk berdiskusi. Berdasarkan pembicaraan dengannya saat itu, saya menemukan masalah yang belum pernah diungkapkannya. Berdasarkan pengakuannya, ia sulit berbicara kepada Pak Dani yang bertugas sebagai guru kesenian. Seorang pendidik berperawakan jangkung itu memiliki wewenang dalam membina tim rampak kendang. Perasaan takut adalah hantu yang selalu menggentayangi Bima sejak lahir. Masalah terjadi ketika Pak Dani tidak dapat memaksakan Bima masuk ke dalam tim rampak kendang. Kehadirannya akan mengganggu, apalagi dengan keterampilan dalam memainkan kendang yang belum teruji. Alasan tidak menerima Bima karena persiapan tim yang dibina oleh Pak Dani telah melalui fase latihan berbulan-bulan. Persiapan tersebut dalam rangka mengikuti sebuah ajang tingkat kota dan provinsi.

Dokumentasi Pribadi: Ruang Literasi di Markas Komunitas Sabak Percisa.

Oleh sebab itu, saya memulai pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan penguatan literasi musik ritmis sesuai beberapa pustaka yang mendukung.

“Alat musik apa yang dimiliki Bima di rumah?” tanya saya saat itu, “Jimbe,” balasnya.

Jimbe merupakan alat musik ritmis yang menghasilkan getaran tapi tidak bernada. Terkait dengan hal itu, Budiutomo (2017) dalam bukunya 6 Alat Musik Ritmis Beserta Pengertian, Gambar, Fungsi dan Daerah Asalnya menjelaskan bahwa alat musik ritmis sebagai alat musik yang tidak bernada atau nadanya tidak tetap atau berubah-ubah. Baginya, alat musik ritmis berfungsi sebagai alat musik pengiring sebuah lagu. Saya mengamati bahwa jimbe itu merupakan alat musik yang memacu adrenalin Bima—seorang anak lelaki yang kerap kali tiba-tiba berada di luar kelas.

Menemukan siswa dengan tipikal seperti Bima, saya berpikir keras untuk mencari cara terbaik dalam menggali kelebihannya. Kebetulan, ada sebuah ruang yang kerap saya gunakan untuk mengasah kelebihan peserta didik; dalam hal ilustrasi, bermain peran, musikal dan lain sebagainya. Setelah menganalisis kemampuan yang dimiliki Bima, saya mengarahkannya untuk melatih permainan jimbe.

Awalnya, saya mengunduh cara memainkan jimbe dari YouTube. Setelah itu, saya memberi contoh ketukan-ketukan agar sesuai dengan ritme lagu. Bima terlihat kesulitan dalam menerima arahan saya. Ketukan-ketukannya pun tidak beraturan. Saya hampir menyerah untuk melatih permainan jimbe untuk Bima yang kesulitan menerima perintah. Namun ternyata, ia dapat memainkan ketukan-ketukan setelah berada di kelas maupun jam istirahat. Rupanya, Bima tidak menerima perintah seketika, tetapi ia menyerapnya terlebih dahulu dalam rentang waktu tertentu. Akhirnya, ia dapat memainkan ketukan jimbe sesuai arahan.

Bima merekam perintah dalam otaknya dan ditanggapi kemudian setelah aktivitas berlatih dilakukan. Temuan saya, yaitu Bima perlu jarak untuk mengelaborasi antara perintah, contoh, dan praktik. Melatih kemampuannya dalam memainkan jimbe hampir selama sebulan di ruang literasi itu. Terkadang, jimbe dibawa Bima ke ruang kelas dan menunjukkannya di depan teman-temannya. Bima semacam ingin mengatakan kepada teman-temannya, “Aku memiliki kelebihan!”

Kegaduhan masih tetap terjadi di ruang kelas. Teman-teman Bima juga belum memberi apresiasi. Inilah bagian dari pendidikan bahwa untuk membangun sikap saling menghargai antaranak, perlu waktu juga.

Secara garis besar, Gardner (2018) dalam bukunya Multiple Intelligence: Kecerdasan Majemuk—Teori dalam Praktik menyatakan bahwa kemampuan seorang anak dalam merespons informasi dapat digolongkan ke dalam tiga bagian: Anak visual—kelebihannya dalam menangkap informasi dengan indra penglihatan. Anak auditorik—dengan kemampuan dalam menangkap informasi melalui indra pendengaran. Anak kinestetik—mampu menangkap informasi melalui demonstrasi. Bima lebih cenderung seorang anak kinestetis; melalui peragaan meskipun memerlukan rentang waktu untuk mengikutinya.

Dikutip dari Sambokaraeng (2021) dalam makalahnya Peran Orang Tua dalam Pengenalan Jati Diri Anak-Tinjauan Dari Psikologi Perkembangan Sigmund Freud 5 Tahun Kehidupan Pertama bahwa pada abad 17 (1632–1704), John Locke, seorang Filsuf Inggris mengemukakan bahwa isi kejiwaan anak ketika dilahirkan adalah ibarat secarik kertas yang masih kosong, artinya bagaimana nanti bentuk dan corak kertas tersebut bergantung pada cara kertas tersebut ditulisi. Bukan berarti mereka seperti rumah kosong yang tidak ada isinya atau gelas kosong yang belum penuh airnya. Mereka adalah makhluk yang telah dibekali hati dan pikiran sejak di dalam kandungan. Namun, pendapat tersebut tidak sejalan dengan Jean Jacques Rousseau seorang Filsuf Prancis pada abad 18 (1712–1778). Menurutnya, bahwa seorang anak ketika dilahirkan telah membawa segi-segi moral.

Gejala awal autisme kerap terindikasi dari cara berkomunikasi seorang anak yang terkesan bersuara, tetapi tidak menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Rakhmanita (2020) dalam penelitian Kajian Psikolinguistik terhadap Gangguan Berbahasa Autisme menyatakan laporan American Psychiatric Association 1994 bahwa autisme atau yang disebut pula Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah suatu gangguan perkembangan saraf yang terus terhadap kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Tidak seluruh penderita speech delay langsung didiagnosis autisme. Dalam bukunya berjudul Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia, Chatib (2009), seorang CEO Next Worldview, mengisahkan bahwa Andra yang disangka autis ternyata memiliki kecerdasan spasial visual setelah dilakukan Multiple Intelligences Research (MIR). Kekhawatiran orang tua yang menganggap anak cacat sebenarnya berlebihan. Andra tidak cacat, ia hanya lemah pada kecerdasan interpersonal (cerdas bergaul) dan linguistiknya (bahasa). Andra tidak memiliki minat belajar, kerap bolos, tidak memperhatikan guru, dan tiba-tiba keluar kelas tanpa izin. Sekolah yang tepat dan sumber daya pendidik yang paham seperti kasus demikian dapat menanggulanginya sesuai kodrat yang dimiliki Andra. Ketika seorang pendidik menanyakan keinginan Andra, ia mengambil secarik kertas dan menuliskan kalimat permintaannya dengan huruf besar, “AKU INGIN MENGADAKAN PAMERAN LUKISAN SEKOTA, BIAR SEMUA ORANG MELIHAT LUKISANKU”.

Keinginan Andra adalah sebuah harapan yang harus diwujudkan seorang guru di sekolah tersebut. Dua bulan berikutnya, setelah diarahkan untuk mempersiapkan sebuah pameran lukisannya, Andra dijadikan ketua pelaksana dan hasil lukisannya dilelang untuk umum. Luar biasa, bukan? Bima dan Andra adalah sebagian anak yang harus diberi ruang yang tepat. Dilayani orang-orang sekitar yang benar-benar paham dengan kebutuhan mereka.

Saya berinisiatif membuat kelompok musik dalam pengembangan literasi sekolah. Pasukan pianika adalah sebuah kelompok musik yang pemain jimbenya adalah Bima. Salah satu lagu pun tercipta yang terinspirasi dari dinamika yang terjadi antara Bima dan teman-temannya. Lagu “Selamat Pagi” menjadi lagu wajib yang dibawakan kelompok musik ini (Lagunya dapat diunduh pada kanal YouTube Sabak Percisa). Lagu dengan lirik yang mengampanyekan kebaikan seperti energi matahari yang selalu memberi.

Dokumentasi Pribadi: Bima dan Pasukan Pianika Tampil di Hari Guru.

Lirik ini terus digaungkan agar gelombang kebaikan menelusuk ke dalam pikiran mereka. Sehingga, satu sama lain saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. Meski berbeda secara fisik dan mental, mereka bisa belajar bahwa ciptaan Tuhan itu sama. Tuhan tidak mungkin menciptakan makhluk begitu saja, pasti membenamkan anugerah dalam jiwa ciptaan-Nya.

Berdasarkan pengalaman dalam melayani Bima, perlu kesabaran dan perhatian penuh. Memberi kesempatan berkembang adalah kunci dalam membuka pintu yang muskil menjadi mungkin. Di sinilah kemampuan seorang guru diuji dalam menenggelami kelebihan tiap siswa yang tersembunyi. Lambat laun anugerah yang terbenam di kedalaman laut jiwanya itu dapat mengambang di permukaan kehidupan. Seorang guru harus memiliki mental kreatif di ruang kelas sebagai pintu awal pendidikan dengan menerima potensi tiap siswa yang berbeda. Dalam kasus ini, saya berusaha menatap masalah menjadi sebuah celah. Meski dengan rentang waktu yang tidak sebentar, mendampingi seorang anak berkebutuhan khusus memang perlu jiwa besar.

Sebagaimana Chatib (2009) menukil pernyataan Jalaludin Rakhmat dalam pengantar untuk Thomas R. Hoerr, pada buku Kerja Multiple Intelligence, bahwa anak-anak yang dianggap ‘istimewa’ adalah anak-anak dengan kecerdasan yang tidak diapresiasi budaya kita. Rasyid dan Dani punya kecerdasan visual yang menakjubkan, tetapi sekolah-sekolah kita mengabaikannya. Begitu pula dengan Bima yang memiliki kemampuan musikal dalam memainkan alat ritmis—jimbe. Pendidikan harus memberi ruang fitrah anak-anak agar menjadi manusia yang mengenali potensinya. Memanusiakan mereka seutuhnya, bukan setengah matang. Bukankah pendidikan yang baik itu memanusiakan mereka? Artinya, membantu dalam menemukan bakat yang dibawa anak-anak sejak lahir adalah kewajiban orang-orang dewasa di sekitarnya. Termasuk seorang guru dalam mengasah kelebihan mereka. Anak-anak bukan benda mati, tetapi memiliki jiwa dan kehendak yang dapat mengendalikan arah mata angin kehidupannya.

Dokumentasi Pribadi: Poster Film Tatalu Didesain oleh URGTSK.

Bahkan, saya membuat naskah tentang Bima yang kemudian difilmkan untuk memberi inspirasi kepada warga sekolah dan masyarakat. Bahwa kunci melayani seorang anak berkebutuhan khusus itu wajib memberi kesempatan. Film yang berjudul “Tatalu” ini kemudian diputar dalam Sarasehan Literasi Sekolah di Perpustakaan Kemendikbud pada Juni 2017. Saya mencoba berbagi praktik baik dalam mengarahkan seorang anak ‘istimewa’ seperti Bima.

Saya mengasah anak berkebutuhan khusus seperti kasus Bima dengan pendekatan literasi musik ritmis sebagai upaya mengarahkan potensi yang dimilikinya. Pada tahun 2017, selama dua semester, pelayanan dengan pendekatan tersebut ternyata memberi dampak cukup berpengaruh terhadapnya. Bima kemudian terlihat memiliki kepercayaan diri setelah kerap tampil di panggung-panggung kesenian. Bima dan pasukan pianika memang kerap mengisi acara-acara di panggung literasi saat itu. Setelah menemukan celah dari seorang Bima, berbagai pihak harus tetap menjaga atmosfer baik tersebut. Oleh sebab itu, saya berkomitmen dengan rekan sejawat, dan kepala sekolah untuk menjadikan ruang literasi sebagai laboratorium inklusif.