Transformasi Pendidikan: Ihwal Etika Pembelajaran Berbantuan Kecerdasan Buatan

Multiliteracy & Multiple Intelligence Enthusiast
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Vudu Abdul Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tagar Artificial Intelligence pada platform Instagram terdapat 3,2 juta postingan, sedangkan tagar AI sekira 8,1 juta unggahan. Pada mesin pencari Google lebih mencengangkan lagi, penelusuran warganet tercatat 1 miliar 170 juta (Artificial Intelligence) dan 9 miliar 390 juta (AI)—hingga tulisan ini dituangkan.
Berangkat dari popularitas AI tersebut, di antara miliaran warganet itu mungkin baru mencari informasi, rasa penasaran, bahkan sudah melakukan uji coba untuk membantu urusan akademis-nonakademis, dan memantik penghasilan tambahan atau mendapatkan pekerjaan baru.
Di antara kegunaan ragam platform AI tersebut, yakni mengubah teks ke suara, teks ke gambar, menjernihkan audio, membuat lirik dan lagu, menerjemahkan artikel/jurnal/buku berbahasa asing ke bahasa nasional, membuat musik, membuat gambar, menjawab soal sesulit apapun, memparafrasa teori maupun opini, dan mengedit berbagai macam alih wahana. Nyaris semua aspek terakomodir oleh AI dengan ketidaksempurnaan perkembangannya.
Kira-kira, mana yang lebih canggih di antara kecerdasan manusia dan teknologi? Prediksi Artificial Intelligence yang akan melampaui kecerdasan manusia mungkin saja terjadi. Namun, manusia juga bisa membatasi AI dan mengendalikan secanggih apapun rancangan teknologinya.
Bukan sebaliknya. Dengan rancangan sistem AI, apakah akan memberi timbal balik yang lebih buruk terhadap manusia? Para peneliti tengah mengembangkan Brain Intelligence yang mampu melebihi Artificial Intelligence.
Ditegaskan Lu, dkk. (2018) dalam penelitiannya “Brain Intelligence: Go Beyond Artificial Intelligence” bahwa Kecerdasan Otak (BI) dapat menghasilkan ide-ide baru tentang peristiwa tanpa mengalaminya dengan menggunakan kehidupan buatan serta fungsi imajinasi buatan.
Untuk sementara, pendidikan etika penggunaan teknologi adalah jawabannya. Saat kecerdasan buatan kian mengkhawatirkan kemanusiaan, UNESCO dalam buku Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence telah menyelenggarakan konferensi di Paris, 9—24 November 2021, yang berbunyi pengakuan terhadap dampak positif dan negatif yang mendalam akibat kecanggihan AI.
Di antara dampaknya dapat memengaruhi masyarakat, lingkungan, ekosistem, pikiran manusia, dan kehidupan manusia. Dengan demikian, perilaku dalam penggunaannya dapat memengaruhi pemikiran, interaksi, dan pengambilan keputusan manusia dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, sosial, alam, budaya serta komunikasi dan informasi.
Dari adegan mencengangkan ihwal optimalisasi kecerdasan buatan dalam film “Lucy” (2014), kapasitas otak tokoh utama yang diperankan Scarlett Johansson itu meningkat hingga 100 persen. Dalam film besutan sutradara Luc Besson tersebut, Lucy menghilang ke dalam kontinum ruang dan waktu.
“Aku ada di mana-mana,” katanya dalam sebuah pesan teks pada layar komputer. Tokoh utama itu menembus ke masa lalu dan bertemu nenek moyang—kera bernama yang sama, Lucy. Dengan teknologi dalam film aksi fiksi ilmiah ini, tidak hanya mengajak pikiran. Lebih dari itu, manusia bisa berselancar ke masa silam dengan teknologi yang seratus persen.
Sejalan dengan film “Lucy”, ditegaskan juga oleh seorang profesor pemuja sains dan teknologi, Harari (2014) pada bukunya Homo Deus. Ia menarasikan bahwa Sapiens tengah berusaha melampaui batas seleksi alam yang tengah mengubah setiap organisme nyaris 4 milyar tahun di planet ini.
Pada abad ke-21, revolusi tidak sekadar teknologi, melainkan hingga genetika dan robotik. Sapiens juga dapat menggunakan multisains demi mewujudkan kecerdasan dan keliarannya. Ilmuwan di Duke University, North Carolina, mereka menunjukkan monyet-monyet resus yang otaknya telah ditanami elektroda—untuk mengumpulkan sinyal dari otak dan memancarkannya ke alat-alat eksternal.
Monyet bernama Aurora, belajar mengendalikan lengan bionik yang tidak tersambung. Hanya dengan pikiran sambil pada waktu bersamaan menggerakkan kedua lengan organiknya. Bagaikan Dewi Hindu, Aurora kini berlengan tiga, dan lengan-lengannya dapat terletak di ruangan, atau bahkan kota, yang berbeda.
Dalam pengantar buku Introduction to Artificial Intelligence: Second, Enlarge Edition, Jackson (2019) mengajukan pertanyaan menarik, “Apakah kita cukup cerdas untuk memahami kecerdasan?” Salah satu pendekatan untuk menjawab pertanyaan ini adalah "kecerdasan buatan", bidang ilmu komputer yang mempelajari bagaimana mesin dapat dibuat untuk bertindak secara cerdas.
Mengenai definisi AI, Brynjolfsson & Mitchell (dalam Berente, Gu, Recker, & Santhanam, 2021) mengaitkannya dengan kemampuan emulasi: bagaimana AI dirancang dengan tujuan meniru kemampuan dan keterampilan manusia?
Transisi Pendidikan Realitas ke Virtual hingga AI
Seorang guru mengajar di kelas virtual dengan mempresentasikan materi. Siswa-siswinya menyimak penjelasan dari sang guru. Pembelajaran tidak ada bedanya dengan kondisi prapandemi. Anak-anak digital native tidak begitu tertarik dengan penyajian satu wahana. Mereka cenderung tertarik dengan penyajian materi yang multiliteratif.
Di masa pandemi, pembelajaran memang berbasis digital. Namun, ada penelitian melaporkan bahwa terjadi learning loss dan literacy loss. Berdasarkan data UNICEF (2022) dalam artikelnya “Covid: 19 Scale of Education Loss ‘Nearly Insurmountable’ Warms UNICEF” bahwa sebanyak 70 persen anak-anak berusia 10 tahun tidak mampu membaca maupun memahami teks sederhana yang meningkat dari 53 persen sejak sebelum pandemi.
Pada penelitian sebelumnya berjudul “Literacy Loss in Kindergarten Children During COVID-19 School Closures”, Bao dkk. (2020) menyatakan bahwa anak-anak usia dini mengalami kehilangan kemampuan membaca selama penutupan sekolah saat COVID-19 merebak. Berdasarkan rekomendasi dari analisis penelitiannya, yakni orang tua atau guru dapat membacakan buku setiap hari kepada anak-anak agar mengurangi 10,15 persen dari kehilangan belajarnya.
Dalam rentang 2020-2023, perkembangan teknologi kian melesat. Fenomena kecerdasan buatan pun mengentak. Meskipun pembahasannya sendiri telah dilakukan oleh para ilmuwan sejak tahun 1956. McCarthy et al. (dalam Berente, Gu, Recker, & Santhanam, 2021) mengungkapkan bahwa banyak indikasi ihwal awal mula pemikiran serius mengenai AI pada tahun 1956 di Dartmouth, New Hampshire, Amerika Serikat.
Proyek pembuatan AI ini diistilahkan dengan klausa “Making a machine behave in ways that would be called intelligent if a human were so behaving”. Dalam artian, membuat mesin berperilaku dengan cara yang akan disebut cerdas jika manusia berperilaku demikian.
Namun, polemik pendidikan memang tidak pernah selesai di negeri ini. Mulai akses pengetahuan, kualitas pendidik, fasilitas yang tidak merata, dan kondisi geografis yang beragam. Dalam penelitian Nasution dkk. (2022) berjudul “Education Integrity Survey: A Suggested Measurement of Integrity in Education Sector” melaporkan bahwa pembahasan integritas pada dunia pendidikan kerap kali berkaitan dengan lingkup akademik seperti plagiarisme dan kecurangan dalam kelas atau penelitian.
Sedangkan dalam konteks nonakademis, problemnya terkait dengan proses layanan administrasi, pengelolaan keuangan, serta pengadaan barang dan jasa. Dengan seabrek masalah pendidikan tersebut, Kemendikbud berupaya untuk mengoptimalkan Kurikulum Merdeka Belajar dengan penguatan literasi dan numerasi.
Implementasinya dapat memanfaatkan platform dan aplikasi Pembelajaran Merdeka Mengajar (PMM). Dengan demikian, Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar diharapkan dapat menjawab tantangan masalah pendidikan teraktual.
Kemendikbud Ristek Mengembangkan Kecerdasan Buatan
Awal tahun 2022 lalu, Kemendikbud Ristek bekerja sama dengan pihak NVIDIA Corporation. Melalui Ditjen Dikti Ristek, upaya ini diharapkan dapat mengembangkan talenta digital Indonesia di bidang Artificial Intelligence. Lingkup dari kerja sama ini mencakup peningkatan kompetensi sumber daya manusia di perguruan tinggi Indonesia.
Dalam hal ini, implementasinya melalui berbagai aktivitas seperti pelatihan keterampilan AI bagi dosen dan mahasiswa, pengembangan kurikulum AI di perguruan tinggi, penerjemahan lokakarya dan diskusi penelitian, serta pengembangan dan dukungan ekosistem startup AI.
Kemendikbud Ristek juga terus berinovasi untuk memfasilitasi kebutuhan dosen, guru, mahasiswa dan siswa. Beberapa platform telah disiapkan Kemendikbud Ristek atas kerja sama dengan beberapa perusahaan AI. Misalnya, pada laman kampusmerdeka.kemdikbud.go.id yang menyajikan Artificial Intelligence Mastery Program.
Sebuah platform yang memfasilitasi pelatihan AI secara daring untuk mahasiswa dengan tujuan bukan hanya mengenalkan dan memperdalam AI, melainkan juga untuk membekali peserta dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi AI yang begitu pesat. Pada laman tersebut, Kemendikbud Ristek berusaha menyiapkan generasi mahasiswa yang tidak sekadar siap kerja, tetapi siap menciptakan lahan kerja baru dengan difasilitasi program tersebut.
Sebagai contoh, praktik baik pembelajaran berbantuan kecerdasan buatan yang telah dilaksanakan oleh seorang pendidik. Upayanya ini cukup menarik perhatian saat pembelajaran jarak jauh berlangsung. Irwan Taufiqurrahman merupakan seorang guru di SDN 5 Cakranegara, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Ia merasa tertantang untuk menciptakan pembelajaran yang menarik saat itu. Akunya pada artikel yang dimuat pada laman platform Merdeka Belajar, ia membuat absensi wajah dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), Hyper Media Canva dan Belajar.id, serta Virtual Mouse dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Seorang guru dalam konteks pembelajaran berbantuan kecerdasan buatan harus mengoptimalkan kecerdasan lainnya, yakni EQ, SQ, etika dan moral. Namun, EQ dan SQ juga kemungkinan bisa difasilitasi teknologi.
Alasan tersebut sangat masuk akal ketika IQ diadopsi oleh kecerdasan buatan yang nyaris sempurna. Di luar itu semua, orientasi pendidikan dalam mempersiapkan generasi kelima yang sangat bersahabat dengan teknologi harus dibarengi penguatan etika dan moralnya—iman dan takwa.
Terkait dengan hal itu, urgensi dari pendidikan etika dalam penggunaan AI untuk pendidikan dan pembelajaran, dipromosikan oleh UNESCO (2022) dengan merekomendasikan beberapa poin untuk kepentingan global, antara lain yang pertama, memfasilitasi pendidikan literasi AI kepada semua kalangan masyarakat.
Kedua, dapat mengenalkan keterampilan prasyarat untuk pendidikan AI, seperti dasar-dasar, kemampuan berhitung, kemampuan pengkodean dan digital, kemampuan literasi informasi, berpikir kritis dan kreatif, kerja tim, komunikasi, sosio-emosional, dan keterampilan etika AI. Ketiga, mendorong inisiatif penelitian tentang penggunaan teknologi AI yang bertanggung jawab dan etis dalam pengajaran, pelatihan guru, dan e-learning.
Keempat melibatkan partisipasi dan kepemimpinan perempuan, ragam etnis dan budaya, penyandang disabilitas, orang yang terpinggirkan, orang dalam kondisi rentan, minoritas dan semua orang yang tidak menikmati manfaat penuh dari inklusi digital dalam program pendidikan AI di semua tingkatan.
Kelima, pengembangan etika AI sesuai program dan kurikulum pendidikan nasional. Keenam, mewujudkan kolaborasi silang antara pendidikan keterampilan teknis AI dan aspek humanistik, humanis, aspek etika dan sosial dari pendidikan AI. Ketujuh, sumber daya digital dari pendidikan etika AI harus dikembangkan dalam bahasa lokal, termasuk bahasa asli lokal, pertimbangan keragaman lingkungan, dan memastikan format aksesibilitas.
Dari sebagian rekomendasi UNESCO tersebut, umat manusia pada akhirnya harus mengontrol keliaran imajinasinya dalam pengembangan teknologi. Sesuai fungsi dari benteng The Wall sebagai batas dan pelindung dalam film “Game of Thrones” (2011).
Film yang disutradarai D.B. Weiss & David Benioff itu menegaskan bahwa musuh bersama dari tujuh kerajaan (Seven Kingdom) bukan di antara kerajaan mereka, melainkan musuh mitos semacam zombi—dalam konteks sekarang dan masa depan adalah teknologi. Yang artinya, manusia akan bersinggungan dengan lain jenisnya sendiri. Maka, bersatulah umat manusia!
