Kopi dan Mahasiswa: Teman Begadang atau Pemicu Masalah Lambung?

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aas Ulviah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Begadang, tugas menumpuk, dan deadline yang terus menghantui membuat kopi seolah menjadi “teman setia” bagi mahasiswa. Tidak sedikit yang mengandalkan kopi untuk tetap terjaga dan fokus saat mengerjakan tugas. Namun, di balik manfaatnya tersebut, muncul pertanyaan: apakah kebiasaan minum kopi ini benar-benar aman bagi kesehatan?
Kopi memang dikenal mampu meningkatkan konsentrasi karena kandungan kafeinnya. Namun, di sisi lain, konsumsi kopi yang berlebihan dapat berdampak pada sistem pencernaan, terutama lambung. Menurut Ardila dkk. (2023), kafein dalam kopi dapat merangsang peningkatan produksi asam lambung yang dapat memicu keluhan seperti perut kembung, nyeri ulu hati, hingga mual.
Hal ini tentu tidak bisa dianggap sepele, terutama bagi mahasiswa yang sering mengonsumsi kopi dalam kondisi perut kosong atau saat pola makan tidak teratur. Kebiasaan ini justru dapat memperbesar risiko terjadinya gastritis atau yang sering dikenal sebagai penyakit maag. Tidak hanya gastritis, konsumsi kopi juga dikaitkan dengan gangguan lain seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Menurut Dhillon dkk. (2024), konsumsi kopi dapat memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan yang ditandai dengan sensasi panas di dada atau heartburn. Kondisi ini terjadi karena kafein dapat menurunkan fungsi katup antara lambung dan kerongkongan, sehingga asam lambung lebih mudah naik. Fenomena ini semakin sering terjadi karena gaya hidup mahasiswa yang cenderung tidak teratur.
Banyak mahasiswa yang melewatkan waktu makan, kurang tidur, hingga mengonsumsi kopi secara berlebihan demi mengejar produktivitas. Menurut Isnani dkk. (2025), pola makan yang tidak sehat, konsumsi kopi berlebihan, serta kualitas tidur yang buruk memiliki hubungan signifikan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa.
Selain itu, tekanan akademik juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Mahasiswa tingkat akhir, misalnya, sering mengalami stres akibat tuntutan tugas dan skripsi. Menurut Maharani dkk. (2025), terdapat hubungan antara intensitas konsumsi kopi dan tingkat stres akademik dengan gejala dispepsia, yaitu gangguan pencernaan seperti rasa tidak nyaman di perut bagian atas.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup modern juga turut berperan. Menurut Lingga dan Elon (2025), tekanan akademik dan kesibukan membuat mahasiswa cenderung memiliki pola makan yang tidak teratur, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan seperti GERD.
Dari berbagai penelitian tersebut, terlihat bahwa kopi memang memiliki dua sisi. Di satu sisi, kopi membantu meningkatkan fokus dan produktivitas. Namun di sisi lain, jika dikonsumsi secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan pola hidup sehat, kopi justru dapat menjadi pemicu masalah lambung.
Lalu, apakah mahasiswa harus berhenti minum kopi? Tentu tidak. Kunci utamanya adalah mengonsumsi kopi secara bijak. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain tidak minum kopi saat perut kosong, membatasi konsumsi kopi sekitar 1–2 cangkir per hari, serta tetap menjaga pola makan yang teratur.
Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kualitas tidur dan mengelola stres dengan baik. Dalam konteks keperawatan, peran tenaga kesehatan sangat penting dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa mengenai gaya hidup sehat.
Pada akhirnya, kopi bukanlah musuh. Namun, cara kita mengonsumsinya yang menentukan apakah kopi menjadi teman begadang yang membantu, atau justru pemicu masalah lambung di kemudian hari.
