Lovebird: Kecil-Kecil Punya Banyak Keunikan
Tulisan dari Lovyna Chrisella Josephine tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lovebird meskipun kecil memiliki banyak keunikan, penasaran? Yuk cermati artikel ini!

Kecil, berwarna-warni, dan selalu terdengar ramai—itulah kesan pertama yang muncul ketika melihat lovebird. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa di balik tubuh mungil dan warna bulunya yang cantik, burung ini menyimpan kehidupan yang cukup menarik? Mulai dari ikatannya dengan pasangan, kebiasaannya hidup berkelompok, hingga cara mereka berkembang biak, lovebird ternyata bukan sekadar burung hias biasa. Nama Agapornis sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu agape yang berarti cinta dan ornis yang berarti burung. Berasal dari Afrika dan Madagaskar, lovebird kini telah banyak dipelihara di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Menariknya, lovebird tidak hanya memiliki satu tampilan. Ada berbagai jenis seperti halfsider, misty, biola, olive, dan fischer yang memiliki warna, pola bulu, serta karakteristik berbeda. Halfsider, misalnya, dikenal langka karena memiliki kombinasi banyak warna dan harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sementara itu, misty memiliki warna krem dengan gradasi putih pada sayapnya dan lebih mudah ditemukan. Ada juga olive yang banyak dipelihara di Indonesia serta fischer yang dikenal sebagai salah satu jenis yang cukup umum. Perbedaan warna, kelangkaan, dan kemampuan berkicau inilah yang membuat harga setiap jenis lovebird bisa sangat berbeda.
Di balik penampilannya yang menarik, kehidupan lovebird juga cukup unik. Burung ini hidup di berbagai lingkungan terbuka, terutama sabana di Afrika dan Madagaskar, serta memanfaatkan lubang pohon sebagai tempat berlindung dan mengasuh anak. Makanannya beragam, mulai dari biji-bijian, daun, buah, sayuran, pucuk daun, hingga nektar. Karena aktif bergerak, lovebird membutuhkan asupan makanan yang cukup. Sifat sosialnya juga terlihat ketika mereka makan bersama atau saling memberi makan dengan pasangan. Saat merasa wilayah sarang atau anaknya terancam, lovebird bahkan dapat menjadi lebih agresif.
Untuk berkembang biak, lovebird membutuhkan proses penjodohan yang tidak bisa dilakukan sembarangan. Indukan harus sehat dan berada pada usia yang sesuai, kemudian diperkenalkan secara bertahap sebelum ditempatkan dalam satu kandang. Setelah kawin, betina dapat menghasilkan sekitar lima sampai enam telur yang kemudian dierami selama kurang lebih 21–25 hari. Perkembangan embrio berlangsung sedikit demi sedikit hingga akhirnya anak lovebird menetas dan tumbuh menjadi lebih aktif. Dalam proses pemeliharaan, lovebird juga dapat dilatih agar memiliki kicauan panjang atau ngekek melalui perawatan, pemberian nutrisi, dan pemasteran yang dilakukan secara rutin.
Pada akhirnya, lovebird bukan hanya menarik karena warna bulunya. Burung ini memiliki sifat sosial, aktif, suara khas, serta kemampuan beradaptasi yang membuatnya menarik untuk dipelihara. Namun, memeliharanya juga memiliki tantangan karena suaranya bisa cukup berisik, sifatnya dapat menjadi agresif, dan lovebird bisa mengalami stres jika kesepian atau dirawat dengan kurang tepat. Jadi, di balik tubuhnya yang kecil dan warna-warni, lovebird ternyata memiliki kehidupan yang jauh lebih menarik daripada sekadar menjadi burung di dalam sangkar.
disusun oleh:Kaylee E, Lovyna C.J, Yongky K

