KKN 250 UNS Ajak Anak Aktif Bermain, Dukung SDGs Desa Kagokan

Mahasiswi Fisika UNS
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Wafa Qonita Az Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sukoharjo, Agustus 2026 — Mahasiswa KKN Tematik 250 Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kegiatan “Pemanfaatan Permainan Tradisional sebagai Upaya Pengurangan Penggunaan Gadget dan Peningkatan Aktivitas Olahraga” di SD Negeri Kagokan 1, Desa Kagokan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kerja 6 KKN Tematik UNS Membangun Desa yang dilaksanakan selama periode Juli–Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak sekaligus mendorong mereka melakukan aktivitas fisik dan berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya. Permainan tradisional dipilih sebagai alternatif kegiatan yang edukatif dan rekreatif karena dapat menggabungkan unsur gerak, kerja sama, komunikasi, serta sportivitas dalam suasana bermain yang menyenangkan.
Perkembangan teknologi digital telah memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Gadget dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, komunikasi, maupun hiburan. Namun, penggunaan gadget perlu diimbangi dengan aktivitas lain agar anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk bergerak, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tematik 250 UNS menghadirkan permainan tradisional sebagai salah satu alternatif aktivitas non-gadget. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengenal permainan yang melibatkan aktivitas fisik sekaligus memperoleh pengalaman bermain bersama teman sebaya.
Mengenalkan Egrang dan Bakiak
Kegiatan diawali dengan edukasi singkat mengenai pentingnya membatasi penggunaan gadget secara bijak dan menyeimbangkannya dengan aktivitas fisik. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan disesuaikan dengan karakteristik peserta agar mudah dipahami.
Setelah penyampaian edukasi, peserta mengikuti pemanasan sebelum memulai permainan. Pemanasan dilakukan untuk mempersiapkan tubuh sebelum melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan fisik. Mahasiswa KKN kemudian memberikan penjelasan mengenai cara bermain serta aturan permainan yang akan dilakukan.
Dalam kegiatan ini, peserta diperkenalkan dengan dua permainan tradisional, yaitu egrang dan bakiak. Mahasiswa memberikan contoh terlebih dahulu sebelum peserta mencoba permainan secara langsung dengan pendampingan selama kegiatan berlangsung.
Permainan egrang memberikan kesempatan kepada peserta untuk melatih keseimbangan dan koordinasi gerak. Sementara itu, permainan bakiak dilakukan secara berkelompok sehingga peserta perlu menyelaraskan langkah dan gerakan dengan anggota kelompok lainnya.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, mahasiswa KKN menyiapkan berbagai perlengkapan, seperti egrang, bakiak, peluit, cone, tali pembatas, dan bendera semaphore. Perlengkapan tersebut digunakan untuk membantu mengatur area permainan dan memastikan kegiatan berjalan secara terarah.
Aktivitas Fisik dalam Suasana Bermain
Permainan tradisional memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik dengan cara yang menyenangkan. Peserta tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga terlibat langsung dalam permainan dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Pada permainan egrang, peserta belajar mempertahankan keseimbangan tubuh sekaligus mengatur langkah saat menggunakan alat. Aktivitas tersebut melibatkan koordinasi gerak dan konsentrasi peserta.
Sementara itu, permainan bakiak menuntut peserta untuk bergerak secara bersama-sama. Setiap anggota kelompok perlu berkomunikasi dan menyesuaikan langkah agar dapat menyelesaikan permainan. Hal tersebut menjadikan kerja sama sebagai salah satu bagian penting dalam pelaksanaan permainan.
Melalui kedua permainan tersebut, peserta memperoleh pengalaman bahwa aktivitas fisik dapat dilakukan melalui kegiatan bermain yang sederhana, menyenangkan, dan melibatkan orang lain.
Melatih Kerja Sama dan Sportivitas
Selain mendorong aktivitas fisik, permainan tradisional juga memberikan pengalaman sosial kepada peserta. Anak-anak belajar berkomunikasi, mendengarkan arahan, mengikuti aturan, serta bekerja sama dengan teman selama permainan berlangsung.
Permainan bakiak secara khusus mengharuskan setiap anggota kelompok untuk memiliki koordinasi yang baik. Peserta perlu menentukan ritme gerakan dan saling memberikan arahan agar dapat bergerak bersama.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan nilai sportivitas. Menang dan kalah menjadi bagian dari permainan, sedangkan sikap menghargai teman, mengikuti aturan, dan menikmati proses bermain menjadi bagian penting yang ditekankan selama kegiatan.
Dengan demikian, permainan tradisional tidak hanya menjadi aktivitas rekreatif, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran melalui pengalaman langsung.
Alternatif Aktivitas di Tengah Penggunaan Gadget
Penggunaan gadget telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dapat memberikan berbagai manfaat apabila digunakan sesuai kebutuhan. Namun, anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik dan membangun interaksi sosial secara langsung.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN memperkenalkan permainan egrang dan bakiak sebagai salah satu alternatif aktivitas yang dapat dilakukan tanpa perangkat digital. Anak-anak dapat bermain bersama teman sekaligus melakukan aktivitas yang melibatkan gerak tubuh.
Kegiatan ini tidak diarahkan untuk menghilangkan penggunaan gadget, tetapi untuk mengenalkan pilihan aktivitas lain sehingga anak-anak dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan yang lebih beragam dan seimbang.
Mendukung Pencapaian SDGs
Kegiatan pemanfaatan permainan tradisional memiliki keterkaitan dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3, SDG 4, dan SDG 11.
Melalui permainan egrang dan bakiak, kegiatan ini mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan mendorong anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik. Permainan menjadi salah satu bentuk kegiatan yang memungkinkan anak bergerak secara aktif sekaligus menikmati aktivitas bersama teman.
Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) karena proses pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui pengalaman langsung. Peserta belajar mengenai kerja sama, komunikasi, koordinasi, kedisiplinan dalam mengikuti aturan, serta sportivitas melalui kegiatan bermain.
Selain itu, pengenalan egrang dan bakiak memiliki keterkaitan dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), khususnya dalam aspek pelestarian dan pengenalan budaya kepada generasi muda. Permainan tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya yang dapat terus diperkenalkan melalui lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan sederhana melalui permainan tradisional dapat menjadi bagian dari upaya mendorong gaya hidup aktif, pembelajaran berbasis pengalaman, interaksi sosial, dan pengenalan budaya di lingkungan masyarakat.
Antusiasme Anak dalam Mengikuti Kegiatan
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme dalam mengikuti berbagai tahapan. Anak-anak aktif mencoba permainan, mengikuti arahan mahasiswa, dan berinteraksi dengan anggota kelompok masing-masing.
Suasana kegiatan berlangsung secara interaktif dan rekreatif. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mencoba langsung permainan yang mungkin sebelumnya jarang mereka mainkan. Pendampingan mahasiswa juga dilakukan selama permainan untuk membantu peserta memahami aturan dan menggunakan perlengkapan dengan tepat.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman bermain bersama yang berbeda dari aktivitas individual menggunakan perangkat digital. Anak-anak dapat bergerak, berkomunikasi, dan bekerja sama dalam suasana yang menyenangkan.
Mengenalkan Kembali Permainan Tradisional kepada Generasi Muda
Di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya bentuk hiburan digital, pengenalan permainan tradisional menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali bentuk permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan interaksi langsung.
Egrang dan bakiak tidak hanya memiliki unsur rekreasi, tetapi juga memberikan pengalaman mengenai keseimbangan, koordinasi, kerja sama, komunikasi, dan sportivitas. Nilai-nilai tersebut dapat diperoleh peserta melalui proses bermain secara langsung.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik 250 UNS berupaya menjadikan permainan tradisional sebagai bagian dari aktivitas edukatif yang dapat diterima dan dinikmati oleh anak-anak.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik 250 UNS berharap anak-anak dapat memiliki kesadaran untuk menyeimbangkan penggunaan gadget dengan aktivitas fisik dan kegiatan sosial. Peserta juga diharapkan dapat mengenal permainan tradisional sebagai salah satu pilihan kegiatan positif yang dapat dilakukan bersama teman maupun keluarga.
Kegiatan pemanfaatan permainan tradisional menjadi salah satu bentuk kontribusi KKN Tematik 250 UNS dalam menghadirkan kegiatan edukatif dan rekreatif bagi masyarakat Desa Kagokan. Melalui permainan egrang dan bakiak, anak-anak tidak hanya diajak untuk aktif bergerak, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam bekerja sama, berkomunikasi, mengikuti aturan, dan menerapkan sportivitas.
Dengan menggabungkan unsur aktivitas fisik, pendidikan, interaksi sosial, dan pengenalan budaya, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman positif bagi anak-anak sekaligus mendukung upaya pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) di tingkat masyarakat Desa Kagokan.
