Confirmation Bias: Kita Percaya karena Benar, atau Karena Ingin Benar?

Seorang mahasiswi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Wafda Nazita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu membuka kolom komentar dengan niat ingin melihat pendapat orang lain, tapi yang kamu cari justru komentar yang sejalan dengan pikiranmu?
Saat menemukan komentar yang setuju, rasanya seperti mendapat pembenaran. Sebaliknya, ketika membaca pendapat yang berbeda, respons pertama kita sering kali bukan mencoba memahami, melainkan mencari alasan mengapa pendapat itu salah.
Lucunya, setelah membaca puluhan komentar, sering kali tidak ada yang berubah. Kita tetap keluar dengan keyakinan yang sama, bahkan kadang merasa semakin yakin bahwa kitalah yang benar.
Tanpa Sadar, Kita Lebih Suka Mendengar Apa yang Ingin Kita Dengar
Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi. Dalam psikologi, ada istilah confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih mudah menerima informasi yang mendukung keyakinannya, sekaligus lebih sulit menerima informasi yang bertentangan.
Artinya, saat kita merasa sebuah pendapat sudah benar, otak akan lebih cepat menganggap informasi yang mendukung sebagai sesuatu yang masuk akal. Sebaliknya, informasi yang berbeda sering kali langsung dianggap kurang valid, berlebihan, atau nggak nyambung, bahkan sebelum benar-benar dipahami.
Fenomena yang Lebih Dekat dari yang Kita Bayangkan
Confirmation bias tidak hanya muncul saat membahas isu besar atau perdebatan di media sosial. Kita mengalaminya dalam banyak keputusan sehari-hari.
Saat mencari review laptop, misalnya. Kalau sejak awal kita sudah tertarik pada satu merek, kita cenderung lebih lama membaca ulasan positif tentang merek itu. Ulasan negatif sering kali dianggap sebagai pengalaman yang kebetulan saja.
Hal yang sama bisa terjadi saat memilih tempat makan, menentukan produk skincare, mendukung tim olahraga favorit, bahkan ketika mendengarkan pendapat teman. Tanpa sadar, kita lebih nyaman menerima informasi yang membuat kita merasa, "Ternyata pilihanku memang benar."
Mengapa Otak Manusia Bekerja Seperti Itu?
Otak manusia pada dasarnya menyukai kepastian. Ketika menemukan informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita yakini, kita tidak perlu mengubah cara berpikir. Rasanya lebih nyaman, lebih sederhana, dan tidak menguras energi.
Sebaliknya, menerima informasi yang bertentangan berarti kita harus membuka kemungkinan bahwa selama ini kita bisa saja keliru. Bagi otak, itu bukan proses yang mudah. Karena itulah, mempertahankan keyakinan sering kali terasa lebih nyaman daripada mempertanyakannya.
Apakah Itu Berarti Kita Tidak Bisa Bersikap Objektif?
Tidak juga.
Confirmation bias bukan berarti kita anti kritik atau tidak mau belajar. Kecenderungan ini dimiliki hampir semua orang. Bedanya, ada yang menyadarinya, ada yang tidak.
Menyadarinya bukan berarti kita harus selalu mengubah pendapat setiap kali ada pandangan baru. Tapi, kita bisa mulai membiasakan diri bertanya, "Apakah aku sedang mencari fakta, atau hanya mencari pendapat yang membuatku merasa benar?"
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi langkah awal untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lebih luas.
Di era ketika informasi datang dari segala arah, tantangan terbesar bukan lagi menemukan jawaban. Tantangan sebenarnya adalah tetap bersedia mendengarkan, bahkan ketika informasi yang kita temukan tidak sesuai dengan apa yang ingin kita dengar.
Karena bisa jadi, yang membuat kita berkembang bukanlah saat menemukan orang yang selalu setuju dengan kita, melainkan saat berani mempertimbangkan bahwa mungkin ada hal yang belum kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.
