Konten dari Pengguna

Sejarah RI Lewat Multisemesta Cerpen "Menculik Letkol Untung"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Nailul Wafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah memiliki banyak pertanyaan lewat karya sastra (Sumber; Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sejarah memiliki banyak pertanyaan lewat karya sastra (Sumber; Dokumen Pribadi)

Cerpen ini mengangkat gagasan tentang kemungkinan sejarah yang dapat dibayangkan ulang melalui pendekatan fiksi ilmiah. Ia mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana jika satu peristiwa dalam sejarah terjadi secara berbeda? Pertanyaan inilah yang menjadi jantung cerpen "Menculik Letkol Untung" karya Arie Fajar Rofian. Cerita ini pada awalnya tampak seperti fiksi ilmiah biasa, tetapi perlahan mengarahkan pembaca pada refleksi yang lebih dalam tentang cara kita memahami masa lalu bangsa sendiri.

Cerpen ini bukan cuma soal mesin waktu dan lompatan dimensi. Di baliknya, ada gugatan serius: apakah sejarah yang kita kenal sekarang memang satu-satunya versi yang mungkin terjadi?

Dunia yang Berdiri Sendiri

Coba baca cerpen ini tanpa buru-buru mengaitkannya dengan sejarah asli Indonesia. Yang muncul adalah dunia fiksi yang punya logikanya sendiri: alur melompat-lompat antara 1965, 1998, dan 2025. Tokoh “aku” yang bolak-balik menembus waktu sampai sepuluh kali; dan ide “multisemesta” yang jadi mesin penggerak cerita.

Tokoh utama menjelaskan sendiri logika dunianya:

“Bagiku, berdasarkan konsep multisemesta, perjalanan waktu hanya menciptakan cabang dari linimasa dan realitas yang baru. Maka, setelah ini, tujuanku menjadi lebih jelas dan pasti: Ibu kota, April 1998, dengan linimasa dan realitas yang baru saja tercipta akibat tindakanku terhadap Letkol Untung.” (Rofian, 2024)

Kritikus sastra M. H. Abrams pernah mengemukakan gagasan bahwa sebuah karya sastra bisa dipahami sebagai dunia yang berdiri sendiri, lepas dari kenyataan di luar teksnya. Cerpen ini menjadi contoh yang sangat pas untuk hal tersebut. Tidak peduli seberapa absurd konsep mesin waktu dan multisemestanya, selama dunia itu konsisten dengan aturannya sendiri, pembaca tetap bisa percaya dan ikut masuk ke dalamnya.

Ahli sastra Indonesia, Burhan Nurgiyantoro, juga menyinggung hal serupa bahwa sebuah cerita fiksi itu utuh karena semua bagiannya; tokoh, alur, latar saling mengikat dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Coba perhatikan, latar waktu di cerpen ini; 1965, 1998, 2025, bukan dipilih secara asal. Ketiganya saling mengunci. Satu titik sejarah memengaruhi titik lainnya, persis seperti efek domino.

Namun, Mengapa Terasa Familiar?

Di sinilah letak kejeniusan cerpen ini. Walau dunia ceritanya fiksi penuh, nama “Letkol Untung” bukan nama sembarangan. Siapa pun yang familiar dengan sejarah G30S 1965 pasti langsung terhubung. Dan begitu nama itu disebut, cerpen ini otomatis berhenti jadi sekadar fiksi ilmiah; ia menjelma cermin dari sejarah Indonesia yang sampai sekarang masih jadi bahan perdebatan.

Melalui kacamata pendekatan mimetik yang diperkenalkan oleh Abrams, karya sastra dapat dilihat sebagai refleksi dari realitas sosial di sekitarnya. Lewat tokoh fiksi, Rofian sebenarnya sedang bicara soal sesuatu yang nyata: bagaimana sejarah itu sering kali bukan fakta murni, melainkan hasil 'kemenangan' satu pihak yang berhak menulis ulang ceritanya sendiri.

Hal tersebut paling terasa di satu kalimat penutup cerpen, ketika tokoh “aku” menyaksikan sosok pemimpin baru naik podium dan dengan entengnya menggelari mertuanya yang sudah tiada sebagai pahlawan nasional:

“Pahlawan baru telah lahir, tetapi cita-cita reformasi yang sering bergaung di televisi kini dipaksa mati.” (Rofian, 2024)

Satu kalimat itu menampar. Karena di situ cerpen ini mengajak pembaca mempertanyakan bagaimana sejarah dituturkan ulang dari sudut pandang yang berbeda. Ironisnya, pergantian rezim ternyata tidak otomatis mengubah pola tersebut.

Letkol Untung: Tokoh atau Simbol?

Menariknya, Letkol Untung di cerpen ini tidak digambarkan secara detail fisik. Pembaca tidak tahu persis bagaimana wajahnya, gerak-geriknya, atau kebiasaannya sehari-hari. Yang justru ditonjolkan adalah posisinya sebagai simbol titik temu dari berbagai kemungkinan sejarah yang berbeda.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, tokoh dalam fiksi memang tidak selalu harus tampil utuh secara fisik. Yang lebih penting adalah dimensi sosiologis dan ideologisnya. Nilai apa yang dibawa tokoh itu, dan bagaimana ia merepresentasikan zamannya. Rofian sepertinya sengaja memilih jalan ini: Letkol Untung bukan dibuat untuk dikenal secara personal, melainkan untuk dipertanyakan posisinya dalam sejarah; pengkhianat atau korban framing?

Sejarah yang Selalu Bisa Dipertanyakan Ulang

Yang membuat cerpen ini layak dibaca ulang adalah caranya menggabungkan dua hal sekaligus: dunia fiksi yang asyik dinikmati sendiri, sekaligus kritik tajam terhadap cara kita memperlakukan sejarah sebagai sesuatu yang “sudah selesai”. Konsep multisemesta yang awalnya terasa seperti gimmick fiksi ilmiah, ternyata jadi metafora yang pas bahwa sejarah itu tidak pernah benar-benar tunggal. Selalu ada versi lain yang mungkin tidak pernah sempat ditulis.

Dan di kalimat terakhir cerpen ini, semua kegelisahan itu diringkas jadi satu kata saja. Pendek, tapi berat:

“Sial,” gumamku pelan, terdengar nyaring di kepala.

Satu kalimat itu memberi penutup yang kuat secara emosional. Bukan teriakan, bukan juga penjelasan panjang lebar, cuma gumaman lelah dari seseorang yang sudah berkali-kali coba mengubah sejarah, tetapi tetap berhadapan dengan kenyataan yang sama.

Di titik itu, cerpen ini meninggalkan pertanyaan yang terbuka tentang hubungan antara sejarah, ingatan, dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak pernah benar-benar terjadi. Mungkin, di sanalah gagasan utama cerpen ini bekerja: sejarah bukanlah sesuatu yang tetap dan selesai, melainkan ruang yang selalu bisa dibayangkan ulang, meski tidak selalu bisa diubah.

Daftar Pustaka

Abrams, M. H. (1979). The mirror and the lamp: Romantic theory and the critical tradition. Oxford University Press.

Abrams, M. H. (2003). A glossary of literary terms (7th ed.). Heinle & Heinle.

Nurgiyantoro, B. (2015). Teori pengkajian fiksi (Ed. 11). Gadjah Mada University Press.

Rofian, A. F. (2024, 1 September). Menculik Letkol Untung. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/menculik-letkol-untung