Konten dari Pengguna

Menyalakan Cahaya Dakwah di Malaysia: Pengabdian untuk Anak-Anak Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahab Nur Kadri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kuala Lumpur – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perpindahan penduduk antarnegara, ada anak-anak Indonesia yang lahir dan tumbuh di negeri orang, menyimpan identitas kebangsaan tanpa kemewahan status formal. Mereka tinggal di antara keterbatasan, seringkali luput dari sistem pendidikan yang memadai. Namun di balik itu, mereka juga memiliki mimpi — dan mimpi itu tidak bisa menunggu.

Berangkat dari kesadaran itulah, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran

Menyalakan Cahaya Dakwah di Malaysia: Pengabdian untuk Anak-Anak Bangsa
zoom-in-whitePerbesar

(PTIQ) Jakarta mengirimkan 50 mahasiswanya ke Malaysia dalam rangka Kuliah Khidmah Mahasiswa (KKM), sebuah program pengabdian lintas negara yang mengintegrasikan dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan. Program ini berlangsung sejak 31 Juli hingga 23 Agustus 2025, hasil kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), serta menyebar mahasiswa ke 18 sanggar binaan di wilayah Kuala Lumpur, Penang, Johor Bahru, Selangor, Kedah, dan Negeri Sembilan.

Tidak banyak yang tahu, di balik megahnya gedung-gedung Malaysia, masih ada ribuan anak-anak WNI yang belajar di sanggar-sanggar kecil, tempat mereka mengeja huruf, mengenal Indonesia, dan menggapai masa depan. Mahasiswa PTIQ hadir di tengah mereka, bukan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai sahabat, pembimbing, sekaligus teladan kecil yang membawa semangat dari Tanah Air.

Mereka mengajarkan pendidikan karakter, bimbingan rohani Islam, komunikasi digital, serta motivasi hidup Islami. Di sela-sela itu, mereka membimbing tahsin dan tahfizul Quran, baca tulis Al-Qur’an (BTQ), serta mengadakan kajian keislaman bersama komunitas jamaah WNI. Namun lebih dari itu, mereka hadir dengan empati — hal yang tak tertulis di silabus, tapi menjadi inti dari dakwah itu sendiri.

“Kegiatan ini bukan sekadar mencari gengsi atau sensasi, tapi membawa misi dakwah dan kemanusiaan. Di mana pun orang Indonesia tinggal, mereka tetaplah warga negara yang berhak mendapatkan pendidikan yang layak,” ujar Dr. Topikurohman, M.A., Dekan FDIK PTIQ Jakarta, dalam pembukaan acara di SIKL.

Apa yang dilakukan para mahasiswa ini adalah praktik nyata dari apa yang selama ini mereka pelajari: bagaimana dakwah tidak melulu di atas mimbar, tetapi juga di ruang-ruang sempit pengabdian; bagaimana komunikasi tidak hanya soal kata, tetapi juga tentang kehadiran yang memberi harapan.

Kepala SIKL, Friny Napasty, M.Pd., pun tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membantu aspek teknis pengajaran, tetapi juga menyalakan kembali semangat anak-anak untuk belajar, bermimpi, dan mengenal lebih dekat wajah Indonesia yang membanggakan. “Kami sangat terbantu. Anak-anak mulai bertanya, ‘Apakah aku bisa seperti mereka suatu hari nanti?’” ungkapnya haru.

Dalam dunia akademik, pengabdian sering kali dibahas sebagai salah satu dari tridharma perguruan tinggi. Namun dalam kenyataannya, pengabdian bukanlah sekadar kewajiban administratif. Ia adalah jembatan antara ilmu dan kehidupan, antara pengetahuan dan pengaruh sosial. Kuliah Khidmah Mahasiswa ini membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari di ruang kelas akan menemukan maknanya ketika dibawa ke ruang-ruang nyata — bahkan hingga ke negeri orang.

Program ini juga menegaskan visi Universitas PTIQ Jakarta untuk menjadi institusi pendidikan tinggi Islam yang memiliki daya saing global, sekaligus kepekaan sosial yang tinggi. Mahasiswa tidak hanya ditempa untuk menjadi intelektual, tetapi juga pejuang nilai, penyampai pesan, dan pelayan umat.

Mungkin tidak semua dari mereka akan menjadi ustaz atau penceramah terkenal. Namun di hadapan anak-anak di sanggar itu, mereka sudah menjadi figur yang menginspirasi, yang dengan sabar mengajar satu huruf demi huruf, satu ayat demi ayat — sembari menanamkan keyakinan bahwa pendidikan dan iman adalah bekal paling berharga dalam hidup.

Di akhir nanti, mungkin tidak ada upacara besar. Tapi dalam catatan langit, pengabdian ini akan tercatat sebagai bagian dari dakwah yang melintasi batas negara dan menembus sekat budaya — dakwah yang bukan hanya berbicara, tapi hadir, mendengar, dan melayani.