Konten dari Pengguna

Dilema Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, Rupiah Aman Tapi Kredit Pengusaha Seret

Wahyu Assri Wulandari

Wahyu Assri Wulandari

Mahasiswa Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyu Assri Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada akhir September 2026 ini, Bank Indonesia di Jakarta tidak sekadar berdiam diri dengan menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Otoritas moneter mulai gencar menggunakan stategi andalan lain untuk mengamankan nilai tukar rupiah, yaitu instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Strategi ini sangat menarik untuk dibedah secara makroekonomi karena bank sentral berhasil menyedot modal asing dalam jumlah masif tanpa harus menaikkan suku bunga acuan secara langsung.

Ilustrasi aliran likuiditas rupiah. Foto: Situs Resmi Bank Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aliran likuiditas rupiah. Foto: Situs Resmi Bank Indonesia

Daya Tarik Imbal Hasil Tinggi

Lantas bagaimana cara kerja instrumen ini? Secara sederhananya, ini merupakan surat utang berjangka pendek yang diterbitkan langsung oleh bank sentral. Data per September 2026 menunjukkan total dana yang masuk dan berputar di instrumen tersebut sudah menembus kisaran Rp 850 triliun. Tingginya minat ini sangat masuk akal dikarenkan tingkat imbal hasil yang ditawarkan bisa mencapai 7,0 persen. Angka tersebut jelas jauh lebih menggiurkan daripada tingkat suku bunga BI-Rate reguler.

Imbal hasil yang tinggi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor asing. Mereka berbondong-bondong membawa dolar AS masuk ke pasar keuangan domestik untuk membeli sekuritas tersebut. Hasil akhirnya terbaca jelas. Pasokan dolar di dalam negeri bertambah, cadangan devisa menebal, dan nilai tukar rupiah memiliki bantalan yang kuat untuk menahan pukulan sentimen negatif dari pasar global.

Efek Samping bagi Sektor Usaha

Namun, kita harus bersikap kritis melihat kejadian ini. Dalam perumusan kebijakan moneter sendiri, terdapat risiko yang harus diterima. Ketika bank sentral menawarkan imbal hasil yang tinggi dan bebas risiko, bank komersial di Indonesia tentu lebih tertarik memarkir uang tunai mereka di sana. Mereka menjadi cenderung menahan diri untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Selain itu, dampak langsung dari situasi ini adalah terjadinya pengetatan likuiditas. Uang tunai yang beredar di pasar menjadi jauh lebih sedikit. Apabila situasi seperti ini dibiarkan berlangsung terlalu lama, sektor perbankan akan kesulitan menyediakan dana murah sehingga pada ujungnya, para pengusaha akan semakin sulit mendapatkan pinjaman modal yang terjangkau untuk melakukan ekspansi bisnis.

Menerbitkan instrumen ini pada dasarnya adalah pilihan taktis jangka pendek yang sangat pragmatis. Bank Indonesia secara sadar mengambil risiko menyedot likuiditas pasar demi menyelamatkan nilai tukar mata uang kita. Pilihan ini dianggap jauh lebih masuk akal ketimbang memaksakan kenaikan suku bunga acuan yang dipastikan akan langsung mematikan mesin pertumbuhan ekonomi nasional.